Thursday, March 5, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Minggu 8 Maret 2026 dan Renungan Harian Katolik, HARI MINGGU PRAPASKAH III

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 8 Maret 2026.

Kalender Liturgi hari Minggu 8 Maret 2026 merupakan HARI MINGGU PRAPASKAH III, Santo Yohanes de Deo, Pengaku Iman, Santo Filemon dan Apolonios, Martir, Santo Yulianus dari Toledo, Uskup, dengan Warna Liturgi Ungu.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 8 Maret 2026:

Bacaan Pertama Keluaran 17:3-7

“Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.”

Sekali peristiwa, setelah bangsa Israel melewati padang gurun Sin, dan berkemah di Rafidim, kehausanlah mereka di sana. Maka bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir untuk membunuh kami, anak-anak dan ternak kami dengan kehausan?”

Lalu berseru-serulah Musa kepada Tuhan, katanya, “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”

Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Berjalanlah di depan bangsa itu, dan bawalah serta beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga tongkatmu yang kaupakai memukul Sungai Nil, dan pergilah.

Maka Aku akan berdiri di depanmu di atas gunung batu di Horeb; pukullah gunung batu itu, dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.

Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Maka dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar, dan oleh karena mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm. 95:1-2.6-7.8-9

Ref. Singkirkanlah penghalang Sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu.

Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan bersorak-sorai bagi Gunung Batu keselamatan kita. Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur, bersorak-sorailah bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

Masuklah, mari kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita; kita ini umat gembalaan-Nya serta kawanan domba-Nya.

Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati seperti di Meriba, seperti waktu berada di Masa di padang gurun, ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

Bacaan Kedua Roma 5:1-2.5-8

“Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Saudara-saudara, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk ke dalam kasih karunia Allah.

Di dalam kasih karunia itu kita berdiri dan bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati.

Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil Yohanes 4:42.15

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Tuhan, Engkau benar-benar Juruselamat dunia. Berilah aku air hidup, supaya aku tidak haus lagi.

Bacaan Injil Yohanes 4:5-42

“Mata air yang memancar sampai ke hidup yang kekal.”

Sekali peristiwa sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar, dekat tanah yang dahulu diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub.

Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum!” Sebab murid-murid Yesus telah pergi membeli makanan.

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Maklumlah orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.

Jawab Yesus kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu ‘Berilah Aku minum’, niscaya engkau telah meminta kepada-Nya, dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

Adakah Engkau lebih besar daripada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan ia sendiri telah minum dari dalamnya, ia beserta anak-anak dan ternaknya?”

Jawab Yesus kepadanya, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi!” Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.

Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai ke hidup yang kekal.”

Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuhan, berilah aku air itu, supaya aku tidak haus, dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba.”

Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan datanglah ke sini.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya, “Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami, dan yang sekarang ada padamu pun bukanlah suamimu.

Dalam hal ini engkau berkata benar.” Kata perempuan itu kepada Yesus, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.

Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”

Kata Yesus kepadanya, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, tetapi kami menyembah yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

Tetapi saatnya akan datang, dan sudah tiba sekarang, bahwa para penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian.

Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran.”

Jawab perempuan itu, “Aku tahu, bahwa Mesias yang disebut juga Kristus akan datang; apabila datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”

Kata Yesus kepadanya, “Akulah Dia, yang sedang bercakap-cakap dengan engkau!” Pada waktu itu datanglah murid-murid Yesus, dan mereka heran bahwa Yesus sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.

Tetapi tidak seorang pun berkata, “Apa yang Engkau kehendaki?” Atau: “Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?”

Sementara itu perempuan tadi meninggalkan tempayannya di situ, lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ.

Mari lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia itu Kristus?” Maka mereka pun meninggalkan kota, lalu datang kepada Yesus.

Sementara itu murid-murid mengajak Yesus, katanya, “Rabi, makanlah!” Akan tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”

Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain, “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?”

Kata Yesus kepada mereka, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan “Empat bulan lagi tibalah musim menuai?”

Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu, dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

Sekarang juga penuai telah menerima upahnya, dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.

Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa ‘Yang seorang menabur dan yang lain menuai’. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan. Orang-orang lain berusaha, dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

Banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada Yesus karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”

Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Yesus tinggal pada mereka, dan Yesus pun tinggal di situ dua hari lamanya.

Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan Yesus, dan mereka berkata kepada perempuan itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dia benar-benar Juruselamat dunia.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Minggu 8 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Sabda Tuhan membawa kita pada gambaran yang sangat manusiawi: rasa haus. Dalam Bacaan Pertama kita melihat bangsa Israel di padang gurun. Mereka kehausan, kelelahan, dan mulai bersungut-sungut kepada Musa. Mereka bertanya dengan nada putus asa, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Pertanyaan ini bukan hanya milik bangsa Israel di masa lalu. Pertanyaan itu sering muncul juga dalam hati manusia zaman sekarang.

Ketika hidup terasa berat, ketika doa terasa tidak dijawab, ketika masalah keluarga, pekerjaan, atau masa depan membuat kita lelah, sering kali kita diam-diam bertanya hal yang sama: apakah Tuhan benar-benar ada bersama kita?

Bangsa Israel sebenarnya sudah melihat begitu banyak karya Tuhan. Mereka telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka melihat laut terbelah, mereka dipimpin oleh Tuhan dalam perjalanan panjang. Tetapi ketika rasa haus datang, ingatan akan kebaikan Tuhan seakan menghilang. Ketakutan dan kelelahan membuat mereka meragukan Tuhan.

Namun Tuhan tidak meninggalkan mereka. Dari batu yang keras di Horeb, Tuhan mengalirkan air bagi umat-Nya. Dari sesuatu yang tampak kering dan mustahil, Tuhan menghadirkan kehidupan. Di sini kita belajar bahwa Tuhan sering bekerja justru di saat manusia merasa paling buntu.

Dalam Bacaan Kedua, Rasul Paulus berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kebutuhan jasmani. Ia mengatakan bahwa kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus. Bahkan ketika kita masih lemah dan berdosa, Kristus telah mati bagi kita.

Ini adalah kabar yang sangat menguatkan. Kasih Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna. Kasih Tuhan datang justru ketika kita masih rapuh, masih penuh kekurangan, masih sering jatuh. Kasih Tuhan tidak bersyarat.

Injil hari ini membawa kita pada perjumpaan yang sangat indah antara Yesus dan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub. Perjumpaan ini terjadi pada tengah hari, saat matahari sangat terik. Biasanya orang menimba air pada pagi atau sore hari, tetapi perempuan ini datang sendirian di siang hari. Ada kemungkinan ia menghindari orang lain karena masa lalunya yang rumit.

Yesus memulai percakapan dengan cara yang sangat sederhana: “Berilah Aku minum.” Tuhan yang Mahakuasa justru datang sebagai seseorang yang meminta. Di sini kita melihat kerendahan hati Tuhan yang luar biasa. Ia tidak datang menghakimi, tetapi membuka percakapan.

Yesus lalu berbicara tentang “air hidup”, air yang membuat orang tidak haus lagi. Pada awalnya perempuan itu memikirkan air secara harfiah. Tetapi Yesus sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam: dahaga jiwa manusia.

Setiap manusia memiliki dahaga batin. Dahaga akan cinta, penerimaan, makna hidup, kedamaian, dan kebahagiaan. Banyak orang mencoba memuaskan dahaga itu dengan berbagai hal: harta, relasi, kesuksesan, popularitas, bahkan kesenangan sesaat. Tetapi sering kali setelah semua itu didapatkan, hati tetap terasa kosong.

Yesus berkata dengan jujur bahwa air dari sumur ini akan membuat orang haus lagi. Itu gambaran tentang banyak hal duniawi yang hanya memberi kepuasan sementara. Namun air yang Yesus berikan akan menjadi mata air dalam diri seseorang yang memancar sampai kehidupan kekal.

Yang sangat menyentuh adalah cara Yesus memperlakukan perempuan itu. Ia tahu seluruh masa lalunya. Ia tahu kegagalannya dalam relasi. Tetapi Yesus tidak mempermalukannya. Ia tidak mengusirnya. Sebaliknya, Yesus membuka jalan bagi perubahan hidupnya.

Perempuan yang awalnya datang hanya untuk mengambil air akhirnya meninggalkan tempayannya dan berlari kembali ke kota untuk bersaksi tentang Yesus. Ia yang tadinya mungkin dijauhi masyarakat justru menjadi pewarta kabar baik bagi banyak orang.

Di sinilah kita melihat bagaimana perjumpaan dengan Tuhan dapat mengubah hidup seseorang. Ketika seseorang sungguh mengalami kasih Tuhan, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia ingin membagikan pengalaman itu kepada orang lain.

Saudara-saudari, kisah ini juga mengajak kita melihat diri kita sendiri. Kita semua punya “sumur” yang kita datangi setiap hari untuk mencari kepuasan hidup. Kita bekerja, berjuang, mencari kebahagiaan. Itu semua tidak salah. Tetapi Injil hari ini mengingatkan bahwa hanya Tuhan yang bisa memuaskan dahaga terdalam hati manusia.

Prapaskah adalah waktu bagi kita untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: dari mana kita mencari air kehidupan? Apakah kita hanya mengejar hal-hal yang sementara? Atau kita benar-benar memberi ruang bagi Tuhan untuk mengisi hati kita?

Yesus masih datang kepada kita hari ini seperti Ia datang kepada perempuan Samaria. Ia tidak datang untuk menghakimi masa lalu kita. Ia datang untuk menawarkan air hidup, kasih yang memulihkan, dan harapan yang baru.

Dan ketika kita sungguh mengalami kasih itu, kita pun dipanggil untuk menjadi seperti perempuan Samaria: membawa kabar baik itu kepada dunia, melalui kata-kata, tetapi terutama melalui hidup kita sendiri. Amin.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau mengenal hati kami yang sering haus akan damai dan makna hidup. Ajarlah kami mencari air kehidupan yang berasal dari-Mu. Pulihkan hati kami dari keraguan, kuatkan iman kami dalam perjalanan hidup, dan jadikan kami saksi kasih-Mu bagi keluarga, sahabat, dan dunia setiap hari. Amin.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Arus Mudik Lebaran 2026 Diatur Ketat, Berikut Jadwal Penerapan One Way dan Ganjil-Genap di Tol

Buat kamu yang udah ancang-ancang mau mudik Lebaran 2026, siap-siap ya! Pemerintah udah nyiapin berbagai trik biar perjalanan mudik...

More Articles Like This

Favorite Post