Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Kamis 25 Juni 2026.
Kalender Liturgi hari Kamis 25 Juni 2026 adalah Pekan Biasa ke-XII, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Kamis 25 Juni 2026:
Bacaan I: 2Raj 24:8-17
Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga bulan lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Nehusta binti Elnatan, dari Yerusalem.
Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN tepat seperti yang dilakukan ayahnya.
Pada waktu itu majulah orang-orang Nebukadnezar, raja Babel, menyerang Yerusalem dan kota itu dikepung.
Juga Nebukadnezar, raja Babel, datang menyerang kota itu, sedang orang-orangnya mengepungnya.
Lalu keluarlah Yoyakhin, raja Yehuda, mendapatkan raja Babel, ia sendiri, ibunya, pegawai-pegawainya, para pembesarnya dan pegawai-pegawai istananya. Raja Babel menangkap dia pada tahun yang kedelapan dari pemerintahannya.
Ia mengeluarkan dari sana segala barang perbendaharaan rumah TUHAN dan barang-barang perbendaharaan istana raja; juga dikeratnya emas dari segala perkakas emas yang dibuat oleh Salomo, raja Israel, di bait TUHAN seperti yang telah difirmankan TUHAN.
Ia mengangkut seluruh penduduk Yerusalem ke dalam pembuangan, semua panglima dan semua pahlawan yang gagah perkasa, sepuluh ribu orang tawanan, juga semua tukang dan pandai besi; tidak ada yang ditinggalkan kecuali orang-orang lemah dari rakyat negeri.
Ia mengangkut Yoyakhin ke dalam pembuangan ke Babel, juga ibunda raja, isteri-isteri raja, pegawai-pegawai istananya dan orang-orang berkuasa di negeri itu dibawanya sebagai orang buangan dari Yerusalem ke Babel.
Semua orang yang gagah perkasa, tujuh ribu orang banyaknya, para tukang dan para pandai besi, seribu orang banyaknya, sekalian pahlawan yang sanggup berperang, dibawa oleh raja Babel sebagai orang buangan ke Babel.
Kemudian raja Babel mengangkat Matanya, paman Yoyakhin, menjadi raja menggantikan dia dan menukar namanya menjadi Zedekia.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Mazmur Tanggapan: Mzm 79:1-2.3-5.8.9
- Mazmur Asaf. Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing.
- Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi.
- Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. Kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami.
- Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api? Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami.
- Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!
Bacaan Injil: Matius 7:21-29
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Kamis 25 Juni 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, hari ini kita merenungkan Sabda Tuhan dari Bacaan Pertama Kitab 2 Raja-Raja dan Injil menurut Matius. Dua bacaan ini seperti dua cermin yang menyingkap keadaan hati manusia, dulu dan sekarang, bagaimana kita membangun hidup, dan kepada siapa kita sungguh bersandar.
Dalam Bacaan Pertama kita melihat Yerusalem yang jatuh, kota suci yang dahulu dipenuhi kemuliaan kini menjadi puing. Bukan hanya bangunan yang runtuh, tetapi juga tatanan hidup yang jauh dari Tuhan. Raja Yoyakhin dan bangsanya mengalami pembuangan, kehilangan tanah, kehilangan rumah, bahkan kehilangan rasa aman. Ini bukan sekadar kisah sejarah, tetapi gambaran hidup manusia ketika menjauh dari Tuhan: perlahan yang rapuh menjadi nyata, dan yang dibangun tanpa dasar akhirnya runtuh. Kita dapat membayangkan betapa getirnya kehilangan itu, namun di baliknya ada suara Tuhan yang mengingatkan bahwa hidup tanpa kesetiaan akan mudah goyah.
Lalu dalam Injil Matius, Yesus berbicara dengan sangat tegas, bahwa tidak semua yang berseru “Tuhan, Tuhan” akan masuk dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa. Ia mengibaratkan hidup seperti rumah yang dibangun di atas batu atau pasir. Ketika badai datang, perbedaan itu menjadi nyata. Yang berakar pada sabda akan tetap berdiri, tetapi yang hanya tampak luar tanpa kedalaman akan runtuh.
Saudara-saudari, Sabda ini sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Banyak orang tampak religius, aktif, bahkan berbicara tentang Tuhan, tetapi Yesus mengingatkan bahwa yang terpenting adalah kesetiaan dalam tindakan kecil sehari-hari. Dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam kejujuran, dalam cara kita memperlakukan sesama. Iman bukan hanya diucapkan, tetapi dijalankan ketika tidak ada yang melihat.
Rumah di atas batu itu bukan hidup yang tanpa badai, melainkan hidup yang memiliki dasar yang benar. Badai tetap datang: masalah, kegagalan, kekecewaan, bahkan kehilangan. Namun orang yang hidup dalam sabda Tuhan tidak mudah hancur, karena hatinya tertambat pada sesuatu yang lebih kuat daripada situasi apa pun.
Maka hari ini kita diajak untuk memeriksa kembali fondasi hidup kita. Apakah kita sedang membangun di atas pasir yang cepat berubah, atau di atas batu yang kokoh yaitu firman Tuhan sendiri? Tuhan tidak meminta kesempurnaan yang kosong, tetapi hati yang mau setia dan hidup yang mau dibentuk.
Semoga Sabda hari ini meneguhkan kita untuk tidak hanya mendengar, tetapi sungguh melakukan, agar hidup kita tetap teguh dalam kasih Tuhan di tengah segala badai zaman.
Doa Penutup
Ya Tuhan Yesus, ajar kami membangun hidup di atas sabda-Mu. Teguhkan hati kami agar setia melakukan kehendak Bapa di tengah badai kehidupan. Lindungi keluarga kami dari kejatuhan, dan bimbing kami hidup dalam kasih yang nyata. Jadikan kami saksi kebenaran-Mu setiap hari sampai akhir hidup kami. dalam nama Yesus Kristus. Amin.