JAKARTA – Dunia media sosial kembali dibuat heboh dengan viralnya video bertajuk “Yank Uwes Yank”. Belakangan, video tersebut ramai diperbincangkan di berbagai platform digital hingga memicu rasa penasaran pengguna internet, termasuk dari luar negeri.
Dalam beberapa hari terakhir, kata kunci Yank Uwes Yank terus berseliweran di TikTok, X, hingga berbagai platform berbagi video. Banyak pengguna mengaku penasaran setelah melihat cuplikan maupun pembahasan yang terus bermunculan di media sosial.
Ramainya perbincangan membuat istilah “Yank Uwes Yank” ikut menjadi salah satu kata kunci yang banyak dicari. Bahkan, sejumlah pengguna internet dari luar Indonesia terlihat ikut bertanya mengenai arti kalimat tersebut dan konteks video yang sedang viral.
Di media sosial, beberapa komentar dari pengguna luar negeri menunjukkan rasa penasaran mereka terhadap frasa berbahasa Jawa yang digunakan dalam video tersebut. Sebagian bahkan mengaku harus menggunakan layanan penerjemah untuk memahami arti percakapannya.
Sementara itu, di dalam negeri, perhatian publik juga tertuju pada banyaknya tautan yang mengatasnamakan video tersebut. Tidak sedikit pengguna mengingatkan agar masyarakat berhati-hati karena beredar berbagai link yang belum jelas keamanannya.
Di sisi lain, pria yang disebut sebagai pemeran dalam video tersebut, berinisial MA, dilaporkan telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang muncul di tengah masyarakat.
Menanggapi maraknya penyebaran video di berbagai platform digital, pihak Polresta Banyuwangi mengingatkan masyarakat agar tidak mengunggah, menyebarluaskan, maupun membagikan tautan yang berisi konten sensitif atau melanggar hukum.
Polisi menegaskan bahwa penyebaran konten bermuatan pornografi dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.
Selain itu, masyarakat juga diminta lebih waspada terhadap berbagai tautan mencurigakan yang mengatasnamakan video viral. Link semacam itu berpotensi digunakan untuk aksi phishing, pencurian data pribadi, maupun penipuan digital.
Karena itu, pengguna internet diimbau untuk tidak mudah tergiur mengklik tautan dari sumber yang tidak dikenal serta selalu memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipercaya.