Fenomena Laut Surut di Banten Picu Kekhawatiran Tsunami, Ini Penjelasan Badan Geologi

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Fenomena air laut yang terlihat surut di perairan Banten lagi ramai banget dibahas di media sosial. Video yang memperlihatkan kondisi laut tersebut bikin sebagian warganet langsung waswas. Apalagi, lokasinya berada di sekitar kawasan yang selama ini punya sejarah aktivitas vulkanik dan tsunami.

Nggak sedikit yang kemudian menghubungkan air laut surut itu dengan Gunung Anak Krakatau dan menduga ada potensi tsunami. Tapi sebelum makin panik, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut.

Menurut Surveyor Pemetaan Ahli Madya Badan Geologi Kementerian ESDM Athanasius Cipta, video yang beredar sebenarnya dibuat pada 6 September 2022. Jadi, ada konteks waktu yang perlu diperhatikan sebelum fenomena tersebut dikaitkan dengan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini.

Athanasius menjelaskan bahwa pada saat video tersebut muncul, erupsi menerus Gunung Anak Krakatau justru sudah dinyatakan selesai.

“Secara kronologis, video muncul pada tanggal 6 September 2022, sementara letusan menerus Gunung Api Anak Krakatau dimulai tanggal 4 hingga 5 September 2022,” kata Athanasius dalam unggahan Instagram @badan.geologi, dikutip Senin (14/9/2026).

Bahkan, Badan Geologi sudah menyatakan erupsi menerus tersebut berakhir setelah lewat tengah malam pada 6 September 2022.

“Pada lewat tengah malam tanggal 6 September 2022, Badan Geologi telah menyatakan bahwa erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah selesai,” lanjutnya.

Karena itu, masyarakat nggak perlu langsung menyimpulkan bahwa air laut yang surut dalam video tersebut merupakan dampak langsung dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Artinya, bisa disimpulkan bahwa surut laut pada tanggal 6 September 2022 itu tidak ada kaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau,” tegasnya.

Air Laut Surut, Apakah Berarti Tsunami?

Nah, bagian ini juga penting banget. Air laut yang tiba-tiba surut memang bisa menjadi salah satu tanda awal tsunami. Namun, kondisi laut yang surut nggak otomatis berarti tsunami bakal terjadi.

Ada karakteristik tertentu yang perlu diperhatikan untuk membedakan surut akibat kondisi pasang-surut normal dengan perubahan muka air laut yang berhubungan dengan tsunami.

“Satu, surut laut dia berlangsung dengan sangat cepat, artinya surut dengan sangat cepat dan jauh lebih jauh daripada surut normal, surut pasang surut biasa,” katanya.

Jadi, jangan cuma melihat video laut yang sedang surut lalu langsung menyimpulkan bakal terjadi tsunami. Informasi mengenai gempa, aktivitas gunung api, peringatan resmi, serta kondisi lapangan juga perlu diperhatikan.

Krakatau Memang Punya Sejarah Tsunami

Meski video viral tersebut tidak berkaitan langsung dengan erupsi Anak Krakatau, bukan berarti kawasan ini sama sekali nggak punya sejarah tsunami.

Badan Geologi mencatat aktivitas Krakatau memang pernah memicu tsunami. Salah satu peristiwa yang masih menjadi catatan penting terjadi pada Desember 2018, ketika tsunami berdampak pada wilayah pantai barat Banten dan Kalianda, Lampung.

Jauh sebelum itu, letusan besar Krakatau pada 1883 juga menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah Indonesia. Saat itu, gunung yang dikenal sebagai Krakatau mengalami erupsi besar pada 26 Agustus 1883 dan memicu tsunami di sejumlah wilayah pesisir.

“Sebelumnya, tsunami yang paling besar yang pernah terjadi akibat letusan Gunung Anak Krakatau adalah pada tahun 1883, saat itu namanya adalah Gunung Krakatau. Erupsi pada tanggal 26 Agustus 1883 dan memicu terjadinya tsunami di Teluk Betung setinggi 22 meter, di pantai barat Banten sekitar Carita dan Anyer sekitar 15 meter, bahkan di Tanjung Priok Jakarta tercatat adanya kenaikan air sekitar 1,8 meter,” tuturnya.

Catatan sejarah tersebut memang jadi pengingat bahwa aktivitas gunung api dan kondisi laut di kawasan Selat Sunda perlu terus dipantau. Tapi kondisi historis juga nggak bisa langsung dijadikan bukti bahwa sebuah tsunami akan terjadi sekarang.

Belum Ada Indikasi Erupsi Besar Pemicu Tsunami

Kabar yang mungkin bikin masyarakat sedikit lebih tenang, Athanasius mengatakan Badan Geologi sampai saat ini belum menemukan indikasi bahwa Gunung Anak Krakatau akan mengalami erupsi besar yang menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh hingga memicu tsunami.

Menurut dia, sejak 2018 sampai sekarang, tidak ditemukan indikasi seperti itu.

Meski begitu, kewaspadaan tetap penting. Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif, sehingga masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi apabila terjadi perubahan aktivitas.

Salah satu imbauannya adalah masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat letusan ketika gunung tersebut kembali mengalami erupsi.

Jangan Gampang Kemakan Video Viral

Di tengah cepatnya informasi menyebar di media sosial, video lama memang bisa kembali viral dan terlihat seperti kejadian baru. Ini yang bikin tanggal, sumber, dan konteks sebuah video jadi penting banget untuk dicek.

Buat masyarakat yang melihat informasi soal Gunung Anak Krakatau atau fenomena laut yang dianggap mencurigakan, jangan buru-buru panik dan jangan langsung percaya pada narasi yang belum jelas sumbernya.

Athanasius juga mengingatkan masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui kanal resmi Badan Geologi dan Magma Indonesia.

“Untuk mengetahui informasi lebih jauh mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun aktivitas gunung berapi lainnya, kita dapat memantau magma Indonesia maupun situs Badan Geologi,” tutup Athanasius.

Jadi, kesimpulannya: video air laut surut yang viral tersebut memang menarik perhatian, tetapi berdasarkan penjelasan Badan Geologi, fenomena pada 6 September 2022 itu tidak memiliki kaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Yang paling penting sekarang bukan ikut menyebarkan kepanikan, tetapi tetap update dari sumber resmi, memahami konteks waktunya, dan mengikuti arahan petugas apabila ada perubahan aktivitas gunung api atau peringatan kebencanaan.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Latest

Viral dan Diperdebatkan, Maudy Ayunda Akui Ada Perspektif yang Terlewat dalam Konten Mindfulness

Nama Maudy Ayunda lagi ramai dibahas di media sosial. Bukan karena karya musik atau film terbarunya, tapi gara-gara konten...

More Articles Like This

Favorite Post