Belakangan ini lagi rame banget nih di medsos soal “PT Agincourt Resources milik siapa sih?!” soalnya nama perusahaan tambang ini ikut-ikutan disebut pas Sumatera Utara kena banjir gede dan tanah longsor. Apalagi ada video viral yang nunjukin banyak kayu hanyut kebawa arus—langsung deh warganet pada curiga.
Banyak yang kepo sama siapa pemilik aslinya, sejarah perusahaannya, sampai apakah bener aktivitas tambangnya ada hubungannya sama bencana kemarin. Nah, biar nggak cuma ikut-ikutan rame tapi nggak tau fakta, sini gue jelasin versi lengkapnya, gaya gaul tapi tetap isi seriusnya aman.
Jadi… PT Agincourt Resources Itu Milik Siapa? Oke, langsung ke inti pertanyaan yang bikin netizen heboh.
Berdasarkan dokumen resmi, pemegang saham PT Agincourt Resources adalah:
- PT Danusa Tambang Nusantara – 95%
- Pemkab Tapanuli Selatan & Pemprov Sumut – 5%
Nah, PT Danusa Tambang Nusantara ini juga bukan perusahaan kecil. Pemiliknya adalah:
- PT United Tractors Tbk – 60%
- PT Pamapersada Nusantara – 40%
Dua-duanya adalah bagian dari Astra International Group, salah satu grup bisnis raksasa di Indonesia. Jadi kesimpulannya:
👉 Mayoritas kepemilikan PT Agincourt Resources ada di bawah payung Astra Group.
Profil dan Lokasi Tambang PT Agincourt Resources
PT Agincourt Resources ini fokus di pertambangan emas dan perak, dan kantornya ada di Jakarta.
Mereka nge-handle Tambang Emas Martabe, salah satu tambang emas terbesar di Indonesia, yang lokasinya ada di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Wilayah izinnya luas banget, cuy: 1.303 km² alias 130 ribu hektare, tersebar di beberapa kabupaten:
- Tapanuli Selatan (wilayah paling besar: 479 hektare)
- Tapanuli Tengah
- Tapanuli Utara
- Mandailing Natal
Makanya nggak heran kalau orang-orang jadi penasaran tentang cara mereka ngelola tambang sebesar itu.
Sejarah PT Agincourt Resources, Gonta-Ganti Nama & Pemilik Berkali-kali
Siapa sangka, perusahaan ini punya sejarah yang lumayan ribet. Nih timeline singkatnya:
- 1997 – Berdiri sebagai PT Danau Toba Mining (Normandy Mining)
- 2001 – Ganti nama jadi PT Horas Nauli
- 2003 – Diambil alih Newmont, jadi PT Newmont Horas Nauli
- 2006 – Resmi berubah jadi PT Agincourt Resources
- 2007 – Diakuisisi Oxiana Limited
- 2008 – Pembangunan jalan akses dan camp pekerja
- 2009 – Diambil alih G-Resources (Hong Kong)
- 2012 – Pabrik pengolahan mulai jalan
- 2016–2017 – Sempat dimiliki konsorsium (EMR Capital, Farallon, Martua Sitorus, keluarga Hartono, dll.)
- 2018 – Resmi dibeli PT Danusa Tambang Nusantara
- 2021 – Rampung bangun fasilitas daur ulang sianida
Pokoknya pindah tangan mulu, makanya publik makin kepo: “Ini perusahaan sebenernya punya siapa sih sekarang?”
Terus… Beneran Tambang Ini Penyebab Banjir & Longsor Sumut? Nah, ini yang bikin panas perdebatan.
Setelah banjir dan longsor melanda beberapa wilayah di Sumut—Sibolga, Taput, Tapteng, sampai Tapsel—banyak akun medsos yang langsung nuding aktivitas tambang sebagai penyebab.
Beberapa komentar warganet bahkan bilang:
“Banjir bandang gara-gara deforestasi akibat tambang PT Agincourt Resources, plus ada faktor Siklon Tropis KOTO.”
Konten seperti ini makin viral, dan akhirnya banyak orang ngehubungin tambang Martabe dengan bencana tersebut.
Di sisi lain, organisasi lingkungan kayak WALHI juga punya catatan kritik tersendiri tentang aktivitas tambang di kawasan Batang Toru.
Tapi… sampai sekarang belum ada pernyataan resmi pemerintah yang bilang bahwa tambang Martabe adalah penyebab langsung banjir maupun longsor. Biasanya butuh audit teknis dan analisis lingkungan buat nyimpulin hal kayak gitu.
Jadi kesimpulannya:
👉 Isunya masih dugaan, belum ada hasil evaluasi resmi.
- Pemilik mayoritas PT Agincourt Resources adalah perusahaan nasional di bawah Astra Group.
- Tambang Martabe itu gede banget dan sudah beroperasi lama.
- Riwayat kepemilikannya panjang dan sering berganti-ganti.
- Soal kaitan tambang dengan banjir dan longsor, belum terbukti secara resmi—masih dalam ranah dugaan warganet & aktivis lingkungan.
Kalau ada update resmi dari pemerintah atau hasil investigasi teknis, baru deh bisa ditarik kesimpulan benerannya.
