Headphone dan earphone sekarang sudah jadi bagian dari keseharian. Mau belajar, main game, perjalanan, olahraga, atau sekadar rebahan sambil dengerin playlist favorit, rasanya kurang lengkap kalau belum pakai headset. Masalahnya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar pakai headphone atau nggak, tetapi seberapa keras volumenya, berapa lama dipakai, dan seberapa sering telinga terpapar suara keras.
Jadi, anggapan bahwa earphone pasti lebih berbahaya daripada headphone sebenarnya kurang tepat. Risiko utamanya lebih ditentukan oleh intensitas suara dan lamanya paparan. WHO menjelaskan bahwa paparan suara keras secara berulang atau terlalu lama dapat merusak sel-sel sensorik di telinga dan menyebabkan gangguan pendengaran akibat kebisingan yang sifatnya permanen.
Bukan soal Earphone atau Headphone, Tapi Seberapa Keras Suaranya
Nah, ini bagian yang sering salah dipahami. Earphone memang berada lebih dekat dengan liang telinga, tetapi bukan berarti headphone otomatis aman. Keduanya bisa berisiko kalau digunakan dengan volume terlalu tinggi dalam waktu lama.
Bahkan, National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) mencatat bahwa musik melalui headphone pada volume maksimum dapat berada di kisaran 94–110 dBA. Semakin keras suaranya, semakin cepat risiko kerusakan pendengaran meningkat.
Makanya, kebiasaan seperti menaikkan volume sampai suara luar benar-benar nggak kedengaran perlu mulai dikurangi. Apalagi kalau dilakukan setiap hari.
1. Pendengaran Bisa Menurun Perlahan
Ini yang bikin masalah pendengaran akibat kebisingan cukup tricky. Kerusakannya nggak selalu langsung terasa.
Setelah mendengarkan musik terlalu keras, seseorang mungkin mengalami telinga berdenging atau suara terasa seperti agak teredam. Kondisi tersebut bisa membaik setelah telinga beristirahat. Namun, paparan keras yang berulang dan berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada struktur telinga.
Jadi, jangan menunggu sampai merasa, “Wah, kok sekarang gue susah dengar?” Pencegahan jauh lebih penting.
2. Telinga Berdenging Jangan Dianggap Sepele
Pernah selesai pakai earphone lalu telinga terasa nging atau berdenging? Itu bukan sesuatu yang sebaiknya terus diabaikan, terutama kalau sering terjadi.
WHO menyebut tinnitus atau telinga berdenging sebagai salah satu tanda yang perlu diperhatikan setelah paparan suara keras. Kalau keluhan tersebut menetap atau sering berulang, pemeriksaan pendengaran sebaiknya dipertimbangkan.
3. Suara Terlalu Keras Bisa Membuat Percakapan Jadi Susah
Gangguan pendengaran akibat kebisingan juga dapat berkembang secara perlahan. Awalnya, seseorang mungkin kesulitan menangkap suara bernada tinggi. Seiring waktu, memahami percakapan di tempat ramai juga bisa menjadi lebih sulit.
Jadi, jangan sampai gara-gara terlalu sering ngegas volume, ngobrol sama teman di tempat ramai malah harus berkali-kali bilang, “Hah? Hah? Hah?”
4. Durasi dan Volume Itu Saling Berkaitan
Ini poin penting banget: semakin tinggi volumenya, semakin pendek waktu aman paparannya.
WHO memberikan gambaran bahwa paparan sekitar 80 dB dapat didengarkan hingga 40 jam per minggu, sedangkan pada 90 dB waktunya turun menjadi sekitar 4 jam per minggu. Pada 100 dB, batas waktunya jauh lebih singkat, sekitar 20 menit per minggu.
Artinya, bukan cuma “berapa jam gue pakai headset?”, tetapi juga “seberapa keras suaranya?”
5. Mendengarkan di Tempat Berisik Bisa Jadi Jebakan
Lagi naik kendaraan atau berada di tempat ramai, suara lingkungan bikin musik terasa kurang jelas. Akhirnya tangan refleks menaikkan volume.
Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan paparan suara. WHO menyarankan penggunaan headphone yang pas dan, bila memungkinkan, fitur noise cancelling agar pengguna tidak perlu terus-menerus menaikkan volume ketika berada di lingkungan bising.
Jadi, jangan berlomba membuat suara musik mengalahkan suara dunia luar.
Terus, Gimana Biar Tetap Bisa Dengerin Musik dengan Aman?
Tenang, bukan berarti kamu harus pensiun total dari headphone. Yang penting adalah mengubah kebiasaannya.
WHO menyarankan menjaga volume perangkat di bawah sekitar 60 persen dari maksimum dan, jika tersedia, memantau tingkat paparan suara melalui fitur bawaan perangkat atau aplikasi pengukur suara.
Selain itu, kasih telinga waktu buat istirahat. Jangan terus-terusan mendengarkan audio keras tanpa jeda. Kalau berada di tempat yang sangat bising, menjauh dari sumber suara juga bisa membantu mengurangi paparan.
Headphone yang pas di telinga juga dapat membantu karena kamu tidak perlu menaikkan volume hanya untuk mengalahkan suara dari lingkungan sekitar.
Ada Satu Mitos yang Perlu Diluruskan
Artikel-artikel lama sering mengaitkan penggunaan earphone dengan “kerusakan otak akibat gelombang elektromagnetik”. Klaim seperti ini jangan langsung dianggap sebagai fakta.
Untuk risiko penggunaan headphone yang sudah didukung bukti kuat, fokus utamanya adalah paparan suara yang terlalu keras dan terlalu lama, bukan sekadar karena perangkat tersebut berada dekat kepala. NIDCD secara jelas memasukkan penggunaan earbud atau headphone pada volume tinggi sebagai salah satu sumber risiko noise-induced hearing loss.
Jadi, nggak perlu panik dengan mitos yang belum terbukti. Yang justru harus diperhatikan adalah volume dan durasi pemakaian.
Kapan Harus Mulai Waspada?
Kalau setelah mendengarkan audio keras kamu sering mengalami telinga berdenging, suara terasa teredam, kesulitan menangkap percakapan, atau merasa pendengaran berubah, jangan dianggap cuma “capek biasa”.
WHO menyarankan mencari bantuan profesional apabila tinnitus berlangsung terus-menerus atau muncul kesulitan mendengar suara bernada tinggi maupun mengikuti percakapan.
Headphone bukan musuh. Musik, podcast, film, dan game tetap bisa dinikmati. Yang perlu diubah adalah kebiasaan mendengarkannya dengan volume terlalu tinggi dalam waktu terlalu lama.
Mulai sekarang, coba turunkan volume, kasih jeda buat telinga, dan jangan menaikkan suara cuma karena lingkungan sedang ramai. Pendengaran mungkin terasa baik-baik saja hari ini, tetapi menjaga telinga sejak sekarang adalah investasi supaya kamu tetap bisa menikmati suara orang-orang tersayang, musik favorit, dan berbagai hal kecil dalam hidup di masa depan.
Jadi kalau selama ini tangan otomatis naik ke tombol volume setiap kali lagu favorit diputar, mungkin sekarang waktunya bilang: “Oke, enak didengar nggak harus sampai mentok volumenya.” 🎧