Naik MRT biasanya ya begitu-begitu aja: buru-buru ngejar kereta, jalan sambil lihat HP, antre, lalu duduk tenang selama perjalanan. Tapi kali ini ada sesuatu yang bikin penumpang mendadak kepo.
Sebuah stiker dengan tulisan “Injak kalau kamu benci korupsi” terlihat berada di lantai area MRT Jakarta. Bentuknya memang simpel, tetapi kalimatnya cukup “nendang” sehingga sukses bikin orang yang lewat menoleh dan memperhatikannya.
Stiker tersebut menjadi perhatian setelah pengalaman melihatnya dibagikan di media sosial. Dalam unggahan yang beredar, keberadaan tulisan itu disebut sebagai sesuatu yang tidak biasa ditemukan saat menggunakan MRT. Pemberitaan mengenai stiker tersebut kemudian ikut ramai di media online.
Bukan Sekadar Tulisan di Lantai
Kalau dilihat sekilas, stiker itu mungkin cuma tempelan kecil yang ada di lantai. Namun, kalimat yang digunakan jelas bukan pesan biasa.
Alih-alih menggunakan bahasa kampanye yang panjang dan formal, pesannya dibuat sesingkat mungkin: kalau benci korupsi, injak.
Sederhana banget, tetapi justru di situlah daya tariknya.
Penumpang yang sedang berjalan otomatis akan melihat bagian lantai di depannya. Ketika menemukan tulisan tersebut, mereka seolah diajak ikut melakukan sebuah tindakan simbolis.
Menginjak stiker itu tentu bukan berarti seseorang secara langsung menyelesaikan persoalan korupsi. Namun, secara simbolis, tindakan tersebut dapat dimaknai sebagai ekspresi penolakan terhadap praktik korupsi.
Netizen Ikutan Kasih Respons
Kehadiran stiker ini juga memancing respons warganet. Ada yang langsung mengaku bakal menginjaknya, ada pula yang bercanda ingin ikut “loncat-loncat” di area tulisan tersebut.
Komentar lain bahkan menyarankan agar pesan kampanye dibuat lebih ekstrem secara visual dengan menambahkan foto tokoh yang dianggap berkaitan dengan isu korupsi.
Respons yang beragam ini menunjukkan satu hal: pesan yang sederhana bisa memancing percakapan ketika ditempatkan di ruang publik yang ramai.
Apalagi MRT digunakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Satu stiker kecil bisa dilihat banyak orang dalam aktivitas sehari-hari.
Kenapa Bisa Bikin Penumpang Salfok?
Ada beberapa alasan kenapa tulisan seperti ini gampang menarik perhatian.
Pertama, lokasinya tidak biasa. Kebanyakan pesan kampanye ditempel di dinding, papan informasi, atau layar digital. Kali ini justru berada di lantai, tempat yang mau tidak mau dilihat ketika seseorang berjalan.
Kedua, kalimatnya pendek banget. Penumpang tidak perlu membaca paragraf panjang untuk memahami maksudnya.
Ketiga, ada unsur interaksi. Kata “injak” membuat orang bukan cuma membaca, tetapi juga merasa diajak melakukan sesuatu.
Keempat, isu yang diangkat memang sensitif dan dekat dengan kehidupan publik. Korupsi bukan sekadar persoalan yang dibahas di ruang sidang atau pemberitaan. Dampaknya berkaitan dengan pengelolaan uang negara, pelayanan publik, pembangunan, dan kepentingan masyarakat luas.
Kampanye Antikorupsi Dibuat Lebih Relatable
Di zaman ketika orang setiap hari dibombardir berbagai informasi, pesan yang terlalu panjang kadang justru gampang dilewati.
Karena itu, pendekatan visual yang singkat dan sedikit “nyentil” seperti ini bisa menjadi cara untuk membuat isu serius terasa lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Stiker tersebut tidak memberikan solusi instan terhadap persoalan korupsi. Namun, keberadaannya setidaknya berhasil menciptakan momen kecil untuk mengingatkan masyarakat bahwa sikap antikorupsi juga berkaitan dengan kesadaran setiap individu.
Yang lebih penting, jangan sampai pesan antikorupsi berhenti sebatas konten viral atau aksi simbolis. Sikap antikorupsi juga perlu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti bersikap jujur, tidak memberikan atau menerima suap, serta berani menolak tindakan yang merugikan kepentingan bersama.
Dari Stiker Kecil, Jadi Pengingat Besar
Pada akhirnya, yang membuat stiker ini menarik bukan cuma kata-katanya, tetapi cara pesannya “menyapa” orang secara langsung ketika sedang beraktivitas.
Di tengah ramainya perjalanan MRT, sebuah tulisan kecil di lantai ternyata bisa membuat penumpang berhenti sejenak, membaca, lalu membicarakannya di media sosial.
Viralnya stiker “Injak kalau kamu benci korupsi” pun menjadi pengingat bahwa kampanye sosial tidak selalu harus dibuat rumit. Kadang, satu kalimat pendek yang ditempatkan di lokasi yang tepat sudah cukup untuk memancing perhatian.
Tapi setelah viral, pertanyaan yang lebih penting tentu bukan cuma “sudah menginjak stikernya atau belum?”
Melainkan, seberapa konsisten kita menerapkan sikap antikorupsi dalam kehidupan nyata?
Sebab, menolak korupsi bukan cuma soal satu langkah kaki. Ini tentang membangun kebiasaan untuk tetap jujur dan tidak ikut membenarkan praktik yang merugikan orang banyak.