Tren Kimpul di Media Sosial Dorong Pengenalan Pangan dan Gastronomi Nusantara

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Media sosial kini bukan cuma tempat berburu konten hiburan atau mengikuti tren terbaru. Di balik sebuah makanan yang tiba-tiba ramai diperbincangkan, ternyata ada peluang besar untuk mengangkat potensi pangan lokal Indonesia ke level yang lebih luas. Salah satunya terlihat dari kimpul atau talas Belitung yang belakangan mencuri perhatian warganet.

Umbi yang sebelumnya mungkin hanya dikenal oleh masyarakat di daerah tertentu tersebut mulai mendapatkan sorotan setelah muncul dalam berbagai kreasi makanan. Fenomena ini pun dinilai bisa menjadi momentum untuk mengenalkan kekayaan pangan sekaligus gastronomi Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan, tren yang berkembang melalui media sosial dapat membantu mengangkat potensi lokal, termasuk bahan pangan yang sebelumnya belum terlalu mendapat perhatian.

“Tren pariwisata itu sedang mengarah pada semakin lokal, akan semakin istimewa. Semakin ada di sekitar kita, semakin dicari. Bagi kalangan milenial itu sudah biasa, tapi mungkin bagi Gen Z kimpul itu jadi sebuah tren yang menarik,” ungkap Made sebagaimana disiarkan Antara, dikutip Rabu (16/9).

Menurut Made, ketika sebuah bahan pangan lokal tiba-tiba menjadi tren, rasa penasaran masyarakat bisa ikut meningkat. Dari sekadar melihat konten di media sosial, orang kemudian terdorong untuk mencoba, mencari tahu, hingga mengeksplorasi berbagai olahan dari bahan tersebut.

Situasi seperti ini membuat bahan pangan lokal memiliki kesempatan untuk tampil dalam wajah baru. Bukan hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi berbagai produk dan pengalaman kuliner yang lebih dekat dengan selera masyarakat masa kini.

“Semakin ada di sekitar kita, semakin dicari,” ujarnya.

Perkembangan teknologi dan media sosial juga dinilai memberikan ruang promosi yang semakin luas bagi sektor pariwisata Indonesia. Daya tarik yang diperkenalkan tidak sebatas destinasi wisata, tetapi juga mencakup kuliner, atraksi, kekayaan alam, hingga budaya yang hidup di berbagai daerah.

Dalam konteks gastronomi, efek viral tersebut bisa membuat bahan pangan yang sebelumnya hanya populer di lingkup lokal masuk ke percakapan publik yang jauh lebih luas. Ketika kreasi olahannya menarik perhatian, masyarakat pun berkesempatan mengenal cerita, tradisi, serta potensi yang ada di balik bahan pangan tersebut.

Hal senada disampaikan Ketua Indonesia Gastronomy Network (IGN) Vita Datau. Menurutnya, semakin dikenalnya talas Belitung melalui media sosial dapat menjadi kesempatan untuk memperluas edukasi mengenai keberagaman pangan yang dimiliki Indonesia.

“Indonesia itu harus mengklaim dirinya sebagai negara yang mempunyai aset gastronomi terkaya, salah satunya adalah kimpul. Dan jangan lupa ada hal lain seperti sagu atau segala macam di seluruh Nusantara,” kata Vita.

Vita menilai media sosial telah membantu membuka pintu bagi berbagai pangan lokal dari daerah untuk dikenal lebih banyak orang. Namun, perhatian yang muncul akibat sebuah fenomena viral perlu dilanjutkan dengan langkah yang lebih konkret.

Popularitas di media sosial, menurutnya, perlu diikuti dengan pengembangan produk serta penguatan pelaku usaha. Dengan begitu, perhatian publik terhadap pangan lokal tidak hanya berlangsung sebentar, tetapi dapat menciptakan manfaat yang lebih panjang bagi masyarakat yang berada di dalam rantai produksinya.

Artinya, viral di media sosial bisa menjadi awal, bukan tujuan akhir. Ketika momentum tersebut dimanfaatkan dengan pengembangan produk, edukasi, dan pemberdayaan pelaku usaha, pangan lokal berpeluang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya yang semakin kuat.

Upaya memperkenalkan kekayaan pangan Indonesia melalui pendekatan gastronomi juga dilakukan Kementerian Pariwisata lewat Wonderful Indonesia Gastronomy 2026. Program tersebut mengangkat kearifan lokal, tradisi, serta filosofi yang melekat pada makanan, kemudian menerjemahkan kekayaan tersebut ke dalam pengalaman gastronomi yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Fenomena kimpul akhirnya menunjukkan bahwa sesuatu yang tumbuh dan tersedia di sekitar masyarakat ternyata bisa memiliki cerita yang jauh lebih besar. Dari sebuah bahan pangan lokal, terbuka peluang untuk memperkenalkan identitas kuliner daerah, menggerakkan pelaku usaha, sekaligus membawa kekayaan gastronomi Nusantara agar semakin dikenal di tengah perubahan tren dan perkembangan dunia digital.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Latest

Siapa Hanati Nazara? Profil Ayah Suahasil Nazara, Mantan Bupati Nias dan Anggota DPR RI

Nama Suahasil Nazara kembali menjadi perhatian setelah dirinya dipercaya mengisi posisi Menteri Keuangan. Di tengah sorotan terhadap perjalanan kariernya,...

More Articles Like This

Favorite Post