Sunday, August 31, 2025

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Minggu 7 September 2025 Lengkap Renungan Harian, Hari Minggu Biasa XXIII, Hari Minggu Kitab Suci Nasional

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani. 

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam. 

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama. 

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 7 September 2025.

Kalender Liturgi hari Minggu 7 September 2025 merupakan Hari Minggu Biasa XXIII, Hari Minggu Kitab Suci Nasional, Warna Liturgi Hijau.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 7 September 2025:

Bacaan Pertama: Keb. 9:13-18

Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan?

Pikiran segala makhluk yang fana adalah hina, dan pertimbangan kami ini tidak tetap.

Sebab jiwa dibebani badan yang fana, dan kemah dari tanah memberatkan budi yang banyak berpikir.

Sukar kami menerka apa yang ada di bumi, dan dengan susah payah kami menemukan apa yang ada di tangan, tapi siapa gerangan telah menyelami apa yang ada di sorga?

Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?

Demikianlah diluruskan lorong orang yang ada di bumi, dan kepada manusia diajarkan apa yang berkenan pada-Mu, maka oleh kebijaksanaan mereka diselamatkan.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17

Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”

Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,

di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Kembalilah, ya TUHAN! berapa lama lagi? dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.

Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

Bacaan Kedua: Flm. 9b-10,12-17

Demi kasih karunia aku lebih baik mohon, sedangkan engkau adalah orang seperti Paulus, yang sudah tua, dan sekarang juga menjadi hukuman karena Yesus Kristus.

Aku mohon kepadamu untuk anakku, yang telah kuperanakkan dalam ikatanku, Onesimus,

Yang telah kukirimkan kembali kepadamu, dan terimalah dia sebagai hatiku sendiri.

Tetapi aku mau menahan dia di sini, supaya ia dapat melayani aku dalam tugas pemberitaan Injil sebagai gantimu,

Tetapi tanpa nasihatmu aku tidak akan berbuat sesuatu, supaya perbuatan baikmu itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang terpaksa, tetapi sebagai sesuatu yang sukarela.

Sebab mungkin karena itulah ia meninggalkan engkau untuk sementara waktu, supaya engkau dapat menerima dia kembali untuk selama-lamanya.

Sekarang bukan sebagai hamba, melainkan sebagai saudara yang terkasih, bagiku sudah demikian. Betapa lebihnya bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan?

Kalau engkau menganggap aku temanmu, terimalah dia seperti aku sendiri.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur kepada Allah.

Bacaan Injil: Luk. 14:25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,

sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Minggu 7 September 2025

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita diajak merenungkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: bagaimana menjadi murid Kristus yang sejati. Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menegaskan betapa terbatasnya pikiran manusia. “Siapakah yang dapat mengenal rencana Allah?” begitu dikatakan. Kita sering merasa pintar, merasa tahu segalanya, tapi kenyataannya kita sering tersandung oleh keraguan, kebingungan, bahkan keputusan-keputusan yang salah. Pikiran kita tidak selalu tetap, jiwa kita sering terbebani oleh tubuh, oleh keinginan-keinginan yang membuat kita tidak bebas. Tetapi Allah tidak membiarkan kita berjalan sendiri. Dia memberikan Roh Kudus, kebijaksanaan dari atas, agar kita tahu jalan yang benar.

Bacaan kedua dari surat Rasul Paulus kepada Filemon memperlihatkan wajah Injil yang sangat manusiawi. Paulus menulis bukan dengan otoritasnya sebagai rasul yang keras, tapi dengan kelembutan seorang ayah. Ia memohon dengan kasih agar Filemon menerima kembali Onesimus, bukan lagi sebagai budak, tetapi sebagai saudara yang terkasih. Di sini kita melihat Injil yang hidup: iman bukan soal aturan kaku, melainkan soal relasi, kasih yang mengangkat martabat manusia. Betapa indahnya jika kita juga belajar menerima orang lain bukan dari status, bukan dari masa lalu, tetapi sebagai saudara dan saudari yang dicintai Tuhan.

Dan dalam Injil, Yesus berbicara dengan sangat tegas: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Kalimat ini keras, bahkan terdengar menuntut. Yesus meminta kita untuk melepaskan banyak hal: keterikatan pada keluarga, pada harta benda, bahkan pada diri kita sendiri. Namun sesungguhnya, Yesus tidak sedang mengajak kita membenci keluarga atau membuang semua milik kita. Yang dimaksud adalah: jangan sampai ada sesuatu yang lebih besar dari Tuhan dalam hidup kita. Jangan sampai harta, ambisi, bahkan rasa nyaman kita sendiri, menjadi penghalang untuk mengikuti-Nya.

Saudara-saudari, kita tahu betapa sulitnya hal ini. Kita hidup di zaman di mana banyak orang mengejar materi, popularitas, kesenangan instan. Kita sibuk membangun “menara” kita sendiri: karier, bisnis, reputasi, tapi sering lupa menghitung ongkos rohani—apakah kita masih setia kepada Tuhan, atau sudah meninggalkan Dia di belakang. Kita seperti raja yang mau berperang tanpa sadar jumlah pasukan. Akhirnya kita kalah oleh kesibukan, kalah oleh godaan dunia, kalah oleh rasa egois kita sendiri.

Hari ini Yesus menegur kita dengan kasih: hitunglah baik-baik, apakah kita sungguh mau menjadi murid-Nya? Menjadi murid berarti berani memikul salib setiap hari. Salib itu bisa berupa pengorbanan kecil di rumah: kesabaran terhadap pasangan, perhatian kepada anak, kerendahan hati untuk mengalah. Salib bisa berupa kejujuran dalam pekerjaan, ketika orang lain memilih jalan pintas yang curang. Salib bisa berupa keteguhan hati dalam iman, meski dunia menganggap kita aneh karena tetap berdoa, tetap percaya, tetap mengandalkan Tuhan.

Tetapi justru dalam salib itu, kita menemukan kebijaksanaan sejati. Sebab Tuhan tidak meminta kita memikul salib sendirian. Dia memberi Roh Kudus untuk menuntun, Dia memberi komunitas Gereja untuk mendukung, dan Dia sendiri berjalan bersama kita.

Maka, marilah kita belajar dari Paulus yang penuh kasih, dari Filemon yang diajak untuk menerima dengan hati terbuka, dari Onesimus yang berubah dari budak menjadi saudara. Marilah kita juga membuka hati untuk sesama, menerima setiap orang dengan kasih Kristus. Dan marilah kita berani menjawab panggilan Yesus: bukan hanya menjadi pengikut yang berduyun-duyun di belakang-Nya, tetapi sungguh menjadi murid-Nya, dengan hidup yang penuh iman, pengorbanan, dan kasih.

Semoga kita diberi hati yang bijaksana untuk menghitung hari-hari kita, supaya setiap langkah kita sungguh mengarah kepada Tuhan, yang menjadi tujuan dan kebahagiaan sejati kita.

Amin.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, ajarilah aku menjadi murid-Mu yang setia. Beri aku kebijaksanaan untuk memilih Engkau di atas segalanya, keberanian memikul salib sehari-hari, dan kerendahan hati untuk mengasihi sesamaku. Semoga setiap langkahku semakin dekat pada-Mu, sumber hidup dan damai.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Katalog Promo Alfamart Hingga 1 September 2025, Diskon Pampers, Detergen dan Sabun Cuci Piring

Kali ini Alfamart ada katalog fresh banget buat lo yang doyan belanja hemat tapi tetep kece. Bayangin aja, promo...

More Articles Like This

Favorite Post