Tuesday, March 10, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Minggu 15 Maret 2026 dan Renungan Harian Katolik, HARI MINGGU PRAPASKAH IV

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 15 Maret 2026.

Kalender Liturgi hari Minggu 15 Maret 2026 merupakan HARI MINGGU PRAPASKAH IV, Santa Louisa de Marillac, Janda, Santo Klemens Maria Hofbauer, Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Ungu.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 15 Maret 2026:

Bacaan Pertama 1 Samuel 16:1b.6-7.10-13a

“Daud diurapi menjadi raja Israel.”

Setelah Raja Saul ditolak, berfirmanlah Tuhan kepada Samuel, “Isilah tabung tandukmu dengan minyak, dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”

Ketika anak-anak Isai itu masuk, dan ketika melihat Eliab, Samuel berpikir, “Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel, “Janganlah berpancang pada paras atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya.

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai, “Semuanya ini tidak dipilih Tuhan.”

Lalu Samuel berkata kepada Isai, “Inikah semua anakmu?” Jawab Isai, “Masih tinggal yang bungsu, tetapi ia sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai, “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”

Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Kulitnya kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu Tuhan berfirman, “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Samuel mengambil tabung tanduknya yang berisi minyak itu, dan mengurapi Daud di tengah saudara-saudaranya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6

Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: ‘ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. ‘Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.

Sekalipun aku harus berjalan berjalan di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.

Kau siapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku, Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.

Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi, mengiringi langkahku selalu, sepanjang umur hidupku, aku akan diam di rumah Tuhan, sekarang dan senantiasa.

Bacaan Kedua Efesus 5:8-14

“Bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Saudara-saudara, memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang. Karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran.

Ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya, telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.

Sebab menyebut saja apa yang mereka buat di tempat-tempat yang tersembunyi sudah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.

Itulah sebabnya dikatakan, “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil Yohanes 8:12b

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Akulah cahaya dunia; siapa yang mengikuti Aku akan hidup dalam cahaya abadi.

Bacaan Injil Yohanes 9:1-41

Sekali peristiwa, ketika Yesus sedang berjalan lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahir. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

Jawab Yesus, “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang.

Akan datang malam, di mana tak seorang pun dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” Sesudah mengatakan semua itu, Yesus meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya, “Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam.”

Siloam artinya “Yang Diutus”. Maka pergilah orang itu. Ia membasuh dirinya, lalu kembali dengan matanya sudah melek. Maka tetangga-tetangganya, dan mereka yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata, “Bukankah dia ini yang selalu mengemis?”

Ada yang berkata, “Benar, dialah ini!” Ada pula yang berkata, “Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata, “Benar, akulah dia.” Kata mereka kepadanya, “Bagaimana matamu menjadi melek?” Jawabnya, “Orang yang disebut Kristus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku, dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi, dan setelah membasuh diri, aku dapat melihat.”

Lalu mereka berkata kepadanya, “Di manakah Dia?” Jawabnya, “Aku tidak tahu.” Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu adalah hari Sabat.

Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya, “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.”

Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu, “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata, “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mukjizat yang demikian?”

Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula kepada orang yang tadinya buta itu, “Dan engkau, karena Ia telah memelekkan matamu, apakah katamu tentang Dia?” Jawabnya, “Ia seorang nabi!” Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru sekarang dapat melihat.

Maka mereka memanggil orangtuanya dan bertanya kepada mereka, “Inikah anakmu yang kamu katakan lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?” Jawab orang tua itu, “Yang kami tahu, dia ini anak kami, dan ia memang lahir buta.

Tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu; dan siapa yang memelekkan matanya, kami juga tidak tahu. Tanyakanlah kepadanya sendiri,sebab ia sudah dewasa; ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.”

Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengakui Yesus sebagai Mesias akan dikucilkan.

Itulah sebabnya maka orang tua itu berkata, “Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.” Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu, dan berkata kepadanya, “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah: Kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.”

Jawabnya, “Apakah Dia itu orang berdosa, aku tidak tahu! Tetapi satu hal yang aku tahu, yaitu: Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.” Kata mereka kepadanya, “Apakah yang diperbuat-Nya kepadamu? Bagaimana Ia dapat memelekkan matamu?” Jawabnya, “Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya.

Mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?” Sambil mengejek, orang-orang Farisi berkata kepadanya, “Engkau saja murid orang itu, tetapi kami murid-murid Musa.

Kami tahu bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu, kami tidak tahu dari mana Ia datang.” Jawab orang itu kepada mereka, “Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, padahal Ia telah memelekkan mataku.

Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.

Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.” Jawab mereka, “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa, dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar.

Yesus mendengar bahwa orang itu telah diusir oleh orang-orang Farisi. Maka ketika bertemu dengan dia, Yesus berkata, “Pecayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya, “Siapakah Dia, Tuhan, supaya aku percaya kepada-Nya.”

Kata Yesus kepadanya, “Engkau bukan saja melihat Dia! Dia yang sedang berbicara dengan engkau, Dialah itu!” Kata orang itu, “Aku percaya, Tuhan!” lalu ia sujud menyembah Yesus.

Kata Yesus, “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa tidak melihat dapat melihat, dan supaya yang dapat melihat menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ, dan mereka berkata kepada Yesus, “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?”

jawab Yesus kepada mereka, “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa. Tetapi karena kamu berkata, ‘Kami melihat’, maka tetaplah dosamu.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Minggu 15 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari Minggu Prapaskah ini mengajak kita merenungkan satu hal yang sangat dalam: melihat dengan mata hati. Bacaan pertama, bacaan kedua, dan Injil hari ini berbicara tentang perbedaan antara apa yang tampak di mata manusia dan apa yang dilihat oleh Allah.

Dalam bacaan pertama dari Kitab Kitab 1 Samuel kita mendengar kisah ketika Nabi Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi raja baru bagi Israel. Ketika Samuel melihat Eliab, anak Isai yang tinggi dan gagah, ia langsung berpikir bahwa dialah pilihan Tuhan. Namun Tuhan berkata, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Akhirnya yang dipilih justru Daud, anak bungsu yang bahkan tidak dianggap penting oleh keluarganya sendiri. Ia sedang menggembalakan domba di padang. Dalam pandangan manusia, ia bukan kandidat yang menonjol. Tetapi dalam pandangan Tuhan, hatinya penuh kesederhanaan, keberanian, dan kesetiaan.

Saudara-saudari, kisah ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Dunia sering menilai orang dari penampilan, status, jabatan, atau keberhasilan. Kita mudah kagum pada orang yang terlihat hebat di luar. Namun Tuhan melihat lebih dalam: niat hati, ketulusan, dan kesediaan seseorang untuk melakukan kebaikan.

Betapa sering dalam hidup kita merasa tidak cukup baik, tidak cukup pintar, tidak cukup berhasil. Tetapi Tuhan tidak melihat kita dengan ukuran dunia. Ia melihat hati yang mau berjuang, hati yang mau berubah, hati yang mau percaya.

Pemikiran ini menjadi semakin jelas dalam bacaan kedua dari Surat Surat kepada Jemaat di Efesus. Rasul Paulus mengatakan bahwa dahulu kita hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang kita dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang. Terang itu menghasilkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.

Sering kali kegelapan dalam hidup kita bukan sesuatu yang besar dan dramatis. Kegelapan bisa berupa kebiasaan kecil: menunda kebaikan, membiarkan kebencian kecil, iri hati, atau sikap masa bodoh terhadap orang lain. Kadang kita hidup seperti orang yang “tertidur secara rohani”. Kita menjalani rutinitas, tetapi hati kita jauh dari kasih.

Karena itu Paulus berkata, “Bangunlah, hai kamu yang tidur.” Prapaskah adalah masa untuk bangun. Bangun dari kebiasaan yang membuat hati kita tumpul. Bangun dari cara hidup yang hanya berpusat pada diri sendiri.

Puncak renungan hari ini ada dalam Injil menurut Injil Yohanes tentang Yesus yang menyembuhkan seorang buta sejak lahir.

Yang menarik, Yesus tidak hanya menyembuhkan kebutaan fisik. Ia juga membuka mata hati manusia. Ketika orang buta itu disembuhkan, justru banyak orang yang “merasa melihat” malah tidak mampu memahami apa yang terjadi.

Orang-orang Farisi memiliki pengetahuan agama, hukum Taurat, dan kedudukan religius. Mereka yakin bahwa mereka memahami kehendak Tuhan. Tetapi justru mereka menolak kenyataan yang ada di depan mata mereka: seorang yang tadinya buta sekarang bisa melihat.

Di sinilah pesan Injil menjadi sangat tajam. Ternyata kebutaan yang paling berbahaya bukan kebutaan mata, tetapi kebutaan hati.

Saudara-saudari, kebutaan hati bisa terjadi pada siapa saja. Kita bisa melihat tetapi tidak sungguh memahami orang lain. Kita bisa mendengar tetapi tidak benar-benar mendengarkan. Kita bisa berdoa tetapi tidak membuka hati bagi Tuhan.

Misalnya dalam kehidupan sehari-hari: kita kadang cepat menilai orang. Melihat seseorang dari masa lalunya. Menghakimi orang dari kesalahannya. Atau menganggap seseorang tidak akan pernah berubah.

Namun Yesus selalu melihat kemungkinan baru dalam diri manusia.

Orang yang buta dalam Injil itu mengalami perjalanan iman yang indah. Awalnya ia hanya berkata bahwa Yesus adalah “orang yang menyembuhkan”. Lalu ia menyebut Yesus “nabi”. Dan akhirnya ia berkata dengan penuh iman: “Aku percaya, Tuhan,” lalu ia sujud menyembah.

Artinya, terang Tuhan tidak hanya membuka mata, tetapi juga membuka iman.

Sementara itu orang-orang Farisi justru semakin menutup diri. Mereka begitu yakin bahwa mereka benar sehingga tidak lagi mampu belajar. Ketika seseorang merasa sudah tahu segalanya, ia berhenti melihat kebenaran yang baru.

Dalam hidup kita sekarang, Injil ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah ada bagian hidup kita yang masih buta?

Mungkin kita buta terhadap penderitaan orang di sekitar kita. Mungkin kita buta terhadap kesalahan kita sendiri tetapi sangat tajam melihat kesalahan orang lain. Mungkin kita buta terhadap kasih Tuhan yang sebenarnya selalu bekerja dalam hidup kita.

Prapaskah adalah kesempatan untuk membiarkan Yesus menyentuh mata hati kita seperti Ia menyentuh mata orang buta itu. Kadang cara Tuhan membuka mata kita tidak selalu nyaman. Ia bisa memakai pengalaman hidup, kegagalan, atau peristiwa yang mengguncang kita. Tetapi semua itu dapat menjadi jalan agar kita melihat hidup dengan lebih jujur dan lebih dalam.

Ketika mata hati kita terbuka, kita mulai melihat hal-hal yang sebelumnya tidak kita sadari: kebaikan kecil, kasih sederhana, kesempatan untuk mengampuni, dan kehadiran Tuhan dalam hal-hal yang biasa.

Saudara-saudari, iman bukan tentang menjadi orang yang paling tahu. Iman adalah keberanian untuk berkata seperti orang buta itu: “Aku tadinya tidak melihat, tetapi sekarang aku mulai melihat.”

Dan ketika kita mulai melihat dengan hati, hidup kita pelan-pelan berubah menjadi terang bagi orang lain. Amin.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terangilah hati kami yang sering tertutup oleh kesombongan, ketakutan, dan kebiasaan buruk. Bukalah mata batin kami agar mampu melihat kebaikan, kebenaran, dan kasih-Mu dalam hidup sehari-hari. Bimbing kami berjalan sebagai anak-anak terang yang membawa harapan bagi sesama di dunia yang sering gelap ini. Amin. ✨

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Sabtu 14 Maret 2026 dan Renungan Harian Katolik, HARI SABTU PEKAN III PRAPASKAH

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada...

More Articles Like This

Favorite Post