Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 21 Maret 2026.
Kalender Liturgi hari Sabtu 21 Maret 2026 merupakan HARI SABTU PEKAN IV PRAPASKAH, Santo Noel Pinot, Martir, Santo Serapion, Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 21 Maret 2026:
Bacaan Pertama Yer 11:18-20
Nabi berkata: Tuhan memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, Tuhan, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku.
Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku:
“Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!”
Tetapi, Tuhan semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 7:2-3.9bc-10.11-12
Ref. Ya Tuhan, Allahku, pada-Mu aku berlindung.
Ya Tuhan, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku, dan lepaskanlah aku, supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan.
Hakimilah aku, Tuhan, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.
Perisaiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.
Bait Pengantar Injil: Luk 8:15
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Orang yang mendengarkan firman Tuhan, dan menyimpannya dalam hati yang baik, akan menghasilkan buah dalam ketekunan.
Bacaan Injil Yoh 7:40-53
“Ia ini Mesias.”
Sekali peristiwa Yesus mengajar di Yerusalem. Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.”
Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.”
Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.
Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?”
Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya,
atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”
Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea?
Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Sabtu 21 Maret 2026
Dalam perjalanan hidup beriman, sering kali kita membayangkan bahwa mengikuti Tuhan akan membuat hidup menjadi lebih mudah dan diterima oleh semua orang. Namun Sabda Tuhan hari ini memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Baik Nabi Yeremia dalam bacaan pertama maupun Yesus dalam Injil mengalami hal yang sama: kebenaran tidak selalu disambut dengan sukacita, tetapi sering justru ditolak.
Nabi Yeremia berkata bahwa ia seperti “anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih.” Ia tidak menyangka bahwa orang-orang di sekitarnya merencanakan kejahatan terhadap dirinya. Yeremia hanya menyampaikan pesan Tuhan, tetapi justru karena itulah ia dibenci. Orang-orang bahkan berkata, “Marilah kita binasakan dia sehingga namanya tidak diingat lagi.”
Kata-kata ini terasa sangat keras, tetapi sebenarnya menggambarkan realitas hati manusia. Ketika seseorang berbicara jujur, ketika seseorang mengingatkan tentang kebenaran, tidak semua orang siap mendengarnya. Kadang yang muncul justru penolakan, kemarahan, bahkan usaha untuk menyingkirkan orang tersebut.
Namun sikap Yeremia sangat menarik. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia tidak membalas dendam. Ia menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan melihat hati manusia dan Tuhanlah hakim yang adil.
Sikap ini juga kita lihat dalam diri Yesus dalam Injil hari ini. Ketika Yesus mengajar, orang-orang menjadi terpecah. Ada yang berkata bahwa Ia benar-benar nabi. Ada yang percaya bahwa Ia Mesias. Tetapi ada juga yang menolak-Nya. Mereka berdebat, saling menyanggah, bahkan ada yang ingin menangkap-Nya.
Yang menarik adalah alasan penolakan mereka. Sebagian orang menolak Yesus bukan karena ajaran-Nya salah, tetapi karena prasangka mereka sendiri. Mereka berkata bahwa Mesias tidak mungkin datang dari Galilea. Mereka merasa sudah tahu segala sesuatu sehingga mereka tidak lagi mau mendengarkan dengan hati terbuka.
Sering kali kita juga melakukan hal yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Kita cepat menilai orang berdasarkan latar belakang, asal-usul, pendidikan, atau kelompoknya. Kita merasa sudah tahu siapa seseorang sebelum benar-benar mengenalnya. Akibatnya, kita bisa menutup diri terhadap kebaikan yang sebenarnya hadir di depan kita.
Di tengah perdebatan itu muncul satu suara yang berbeda, yaitu Nikodemus. Ia tidak langsung membela Yesus secara terbuka, tetapi ia mengingatkan sesuatu yang sangat penting: apakah hukum boleh menghukum seseorang sebelum mendengarnya terlebih dahulu?
Nikodemus menunjukkan sikap yang sangat bijaksana. Ia tidak terburu-buru menghakimi. Ia mengajak orang lain untuk bersikap adil. Dalam dunia yang penuh dengan penilaian cepat dan prasangka, sikap seperti ini sangat berharga.
Kita hidup di zaman di mana orang sering menilai dengan cepat. Di media sosial, dalam percakapan sehari-hari, bahkan dalam relasi pribadi, orang mudah sekali memberi label kepada orang lain. Kadang kita menilai hanya dari cerita yang kita dengar, bukan dari kenyataan yang kita lihat sendiri.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memiliki hati yang lebih tenang dan lebih adil. Jangan cepat menghakimi. Belajarlah mendengar. Belajarlah memahami. Karena sering kali kebenaran tidak datang dari tempat yang kita duga.
Selain itu, Sabda Tuhan juga mengingatkan kita bahwa hidup setia kepada Tuhan tidak selalu berarti hidup tanpa tantangan. Yeremia mengalami ancaman. Yesus menghadapi penolakan. Bahkan orang-orang yang sungguh ingin hidup benar sering kali harus menghadapi kesalahpahaman.
Namun yang paling penting adalah tetap setia. Yeremia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Yesus tetap menjalankan perutusan-Nya dengan tenang. Mereka tidak membiarkan kebencian orang lain menghentikan kebaikan yang mereka lakukan.
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita juga pernah merasakan hal serupa. Ketika kita berusaha jujur, tidak semua orang menyukainya. Ketika kita berusaha melakukan yang benar, kadang kita dianggap aneh atau tidak sejalan dengan orang lain. Ketika kita mencoba hidup menurut nilai iman, kadang kita merasa sendirian.
Tetapi justru di situlah iman kita diuji. Kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur dari seberapa mudah hidup kita, tetapi dari seberapa setia kita tetap melakukan yang baik meskipun tidak selalu dihargai.
Masa Prapaskah mengajak kita untuk memperdalam hati kita. Apakah kita lebih sering seperti orang banyak yang mudah terpengaruh oleh prasangka? Ataukah kita berani seperti Nikodemus yang mencari kebenaran dengan hati yang jujur?
Tuhan tidak mencari orang yang sempurna. Tuhan mencari hati yang tulus, hati yang mau belajar, hati yang mau membuka diri terhadap kebenaran. Ketika hati kita terbuka, kita akan lebih mudah melihat kehadiran Tuhan dalam berbagai cara yang sering tidak kita duga.
Dan mungkin justru melalui orang-orang sederhana di sekitar kita, melalui kata-kata yang jujur, melalui pengalaman hidup sehari-hari, Tuhan sedang berbicara kepada kita. Amin.
Doa Penutup
Tuhan yang setia, ajarlah kami memiliki hati yang jujur dan terbuka untuk mendengarkan kebenaran-Mu. Jauhkan kami dari sikap mudah menghakimi orang lain. Berilah kami keberanian untuk tetap melakukan yang baik meskipun tidak selalu dimengerti. Semoga hidup kami menjadi saksi sederhana dari kasih-Mu di tengah dunia. Amin.
