Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Jumat 6 Februari 2026.
Kalender Liturgi hari Jumat 6 Februari 2026 merupakan Hari Jumat Pertama, Perayaan Wajib Santo Paulus Miki, dkk; Martir, Santa Dorothea dan Theopilus, Martir, dengan Warna Liturgi Merah.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Jumat 6 Februari 2026:
Bacaan Pertama Sirakh 47:2-11
“Dengan segenap hati Daud memuji-muji Tuhan dan mengungkapkan kasihnya kepada Sang Pencipta.”
Seperti lemak disendirikan untuk kurban penghapus dosa, demikianlah Daud dipungut dari orang-orang Israel. Singa dipermainkan olehnya seolah-olah kambing jantan saja, dan beruang seakan-akan hanyalah anak domba.
Bukankah di masa mudanya ia membunuh seorang raksasa dan mengambil nista dari bangsanya dengan melemparkan batu dari pengumban dan mencampakkan kecongkakan Goliat? Karena berseru kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya, maka Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ia tinggikan.
Itulah sebabnya ia disanjung-sanjung karena “laksaan” dan dipuji-puji karena berkat-berkat dari Tuhan, ketika mahkota mulia dipersembahkan kepadanya. Sebab ia membasmi segala musuh di sekelilingnya, dan meniadakan orang-orang Filistin, lawannya, serta mematahkan tanduk mereka hingga hari ini.
Dalam segala tindakannya Daud menghormati Tuhan, dan dengan kata sanjungan kepada Yang Kudus, Yang Mahatinggi. Ia bernyanyi-nyanyi dengan segenap hati, dan mengungkapkan kasihnya kepada Sang Pencipta. Di depan mezbah ditaruhnya kecapi, dengan bunyinya ia memperindah lagu dan kidung.
Ia memberikan kemeriahan kepada segala perayaan, dan hari-hari raya diaturnya secara sempurna. Maka orang memuji-muji Nama Tuhan yang kudus, dan mulai pagi-pagi benar suara orang bertalu-talu di tempat kudus-Nya.
Tuhan mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. Tuhan menjanjikan kerajaan yang lestari, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel!
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 18:31.47.50.51
Ref. Aku mengasihi Tuhan, Dia sumber kekuatan. Hidupku ‘kan menjadi aman dalam lindungan-Nya
Jalan Allah itu sempurna, janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.
Tuhan itu hidup! Terpujilah Gunung Batuku dan mulialah Allah Penyelamatku! Maka aku akan menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan; aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.
Tuhan mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya; Ia menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yakni Daud dan anak cucunya, untuk selama-lamanya.
Bait Pengantar Injil: Lukas 8:15
Ref. Alleluya
Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas, dan menghasilkan buah berkat ketabahannya. Alleluya.
Bacaan Injil: Markus 6:14-29
“Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, kini bangkit lagi.”
Pada waktu itu Raja Herodes mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya memang sudah terkenal, dan orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati, dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.”
Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan, “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mndengar hal itu, ia berkata, “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan kini bangkit lagi.”
Memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.
Tetapi setiap kali mendengar Yohanes, hati Herodes selalu terombang-ambing; namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes – pada hari ulang tahunnya – mengadakan perjamuan untuk para pembesar, para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea.
Pada waktu itu puteri Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes serta tamu-tamunya. Maka raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”
Lalu Herodes bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun itu setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawab ibunya, “Kepala Yohanes Pembaptis!”
Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam!” Maka sangat sedihlah hati raja! Tetapi karena sumpahnya dan karena segan terhadap tamu-tamunya, ia tidak mau menolaknya.
Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu dalam sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu, dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.
Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kubur.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Jumat 6 Februari 2026
Berhadapan dengan dua bacaan hari ini, kita seperti diajak bercermin pada dua hati yang sangat berbeda. Daud dan Herodes. Keduanya sama-sama pemimpin, sama-sama berkuasa, sama-sama dikenal orang. Tetapi arah hati mereka menentukan makna hidup yang mereka tinggalkan.
Sirakh menggambarkan Daud bukan hanya sebagai pahlawan besar, melainkan sebagai manusia yang hatinya melekat pada Tuhan. Keberaniannya melawan singa, beruang, bahkan Goliat, bukan sekadar soal otot atau strategi. Itu lahir dari keyakinan bahwa hidupnya ada dalam tangan Tuhan. Daud tahu siapa dirinya: rapuh, bisa jatuh dalam dosa, tetapi selalu kembali kepada Allah. Ia memuji Tuhan dengan segenap hati, bahkan lewat musik, lewat ibadah, lewat hidup sehari-hari. Iman Daud bukan teori; iman itu bernapas dalam tindakannya.
Lalu Injil memperlihatkan Herodes, seorang raja yang justru kehilangan kebebasan batinnya. Ia tahu Yohanes Pembaptis benar. Ia senang mendengarnya. Hatinya tergerak, tetapi tidak pernah cukup berani untuk berubah. Herodes terjebak pada gengsi, sumpah ceroboh, dan rasa takut akan penilaian orang lain. Ia membiarkan tekanan sosial mengalahkan suara kebenaran. Maka yang terjadi bukan pertobatan, melainkan tragedi.
Di sinilah Injil menjadi sangat dekat dengan hidup kita hari ini. Betapa sering kita seperti Herodes: tahu mana yang benar, tahu mana yang salah, tetapi memilih diam demi kenyamanan, relasi, atau citra diri. Kita ingin mendengarkan sabda Tuhan, tetapi tidak selalu siap menjalankannya jika itu menuntut pengorbanan. Iman berhenti di telinga, tidak sampai ke keputusan hidup.
Daud dan Yohanes Pembaptis mengingatkan kita bahwa iman sejati selalu punya harga. Kadang harga itu adalah keberanian untuk berbeda, kejujuran yang tidak populer, kesetiaan yang tidak dipuji. Namun justru di situlah hidup menjadi utuh dan bermakna. Tuhan tidak mencari manusia sempurna, melainkan hati yang mau setia, mau bertobat, dan mau berjalan dalam terang kebenaran.
Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: hari ini, suara siapa yang lebih kita dengarkan—suara Tuhan atau suara keramaian? Semoga kita diberi keberanian untuk hidup seperti Daud dan Yohanes, bukan demi nama besar, tetapi demi kebenaran yang membebaskan. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, ajari kami memiliki hati yang peka mendengar sabda-Mu dan berani menjalaninya. Bebaskan kami dari takut akan penilaian manusia. Mampukan kami memilih kebenaran meski sulit, setia meski sunyi, dan percaya bahwa kasih-Mu cukup menopang hidup kami hari ini. Amin.
