Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Jumat 6 Maret 2026.
Kalender Liturgi hari Jumat 6 Maret 2026 merupakan HARI JUMAT PEKAN II PRAPASKAH, Santo Hesikios, Pengaku Iman, Santo Fridolin, Pengaku Iman, Santo Marsianus dari Konstantinopel, Imam, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Jumat 6 Maret 2026:
Bacaan Pertama Kej. 37:3-4.12.13a.17b-28
Israel lebih mengasihi Yusuf daripada semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itu anak yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.
Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya bahwa ayah mereka lebih mengasihi Yusuf daripada semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepada Yusuf, dan tidak mau menyapanya dengan ramah.
Pada suatu hari pergilah saudara-saudara Yusuf menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem. Lalu Israel berkata kepada Yusuf, “Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka.”
Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu, dan didapatinyalah mereka di Dotan. Dari jauh Yusuf telah kelihatan kepada mereka.
Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Lihat, tukang mimpi kita itu datang!
Sekarang,marilah kita bunuh dia, dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya.
Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya dengan mimpinya itu!” Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka.
Sebab itu kata Ruben: “Janganlah kita bunuh dia!” Lagi kata Ruben kepada mereka, “Janganlah tumpahkan darah! Lemparkan saja dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini,
tetapi janganlah apa-apakan dia.” Maksud Ruben: ia hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.
Baru saja Yusuf sampai pada saudara-saudaranya, mereka pun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Lalu mereka membawa dia dan melemparkannya ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Kemudian duduklah mereka untuk makan.
Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael yang datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladam.
Mereka sedang dalam perjalanan mengangkut barang-barang itu ke Mesir. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu, “Apakah untungnya kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?
Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.” Dan saudara-saudaranya pun mendengarkan perkataan itu.
Ketika saudagar-saudagar Midian itu lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 105:16-17.18-19.20-21
Ref. Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan.
Ketika Tuhan mendatangkan kelaparan ke atas tanah Kanaan, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka, yakni Yusuf yang dijual menjadi budak.
Kakinya diborgol dengan belenggu, lehernya dirantai dengan besi, sampai terpenuhilah nubuatnya, dan firman Tuhan membenarkan dia.
Raja menyuruh melepaskan dia, penguasa para bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan pengelola segala harta kepunyaannya.
Bait Pengantar Injil Yohanes 3:16
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
Bacaan Injil Mat. 21:33-43.45-46
“Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia.”
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi, “Dengarkanlah perumpamaan ini, seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya.
Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap,
lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.
Tetapi para penggarap menangkap hamba-hamba itu: yang seorang mereka pukul, yang lain mereka bunuh, dan yang lain lagi mereka lempari dengan batu.
Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula. Tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.
Akhirnya tuan itu menyuruh anaknya kepada mereka, pikirnya, ‘Anakku pasti mereka segani.’ Tetapi ketika para penggarap melihat anak itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris!
Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Maka mereka menangkap dia, dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.
Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata imam-imam kepala dan tua-tua itu kepada Yesus, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu,
dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain yang akan menyerahkan hasil kepadanya pada waktunya.”
Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru? Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
Sebab itu Aku berkata kepadamu, Kerajaan Allah akan diambil dari padamu, dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” Mendengar perumpamaan Yesus itu, imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya.
Maka mereka berusaha menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Yesus nabi.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Jumat 6 Maret 2026
Saudara-saudari terkasih,
Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Kitab Kejadian, kita melihat kisah yang sangat manusiawi. Yusuf dikasihi lebih oleh ayahnya, diberikan jubah yang indah, tanda keistimewaan. Tetapi justru karena itulah ia dibenci. Kecemburuan yang dibiarkan bertumbuh berubah menjadi kebencian, dan kebencian yang dipelihara berubah menjadi kekerasan. Saudara-saudara Yusuf tidak lagi melihat dia sebagai adik, melainkan sebagai ancaman. Mereka tidak tahan melihat orang lain lebih dihargai, lebih diperhatikan, lebih “berhasil”.
Bukankah ini juga kisah hidup kita sekarang? Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, sering kali hati kita terusik ketika melihat orang lain dipuji. Kita merasa tersisih, tidak dianggap. Dari rasa tidak aman, lahirlah iri hati. Dan iri hati, jika tidak disadari, bisa membuat kita menjatuhkan orang lain dengan kata-kata, dengan gosip, dengan sikap dingin, bahkan dengan keputusan-keputusan yang melukai. Saudara-saudara Yusuf sanggup duduk makan setelah melemparkan adiknya ke dalam sumur. Hati yang sudah dikuasai iri menjadi tumpul, tidak lagi peka.
Dalam Injil menurut Injil Matius, Yesus menceritakan perumpamaan tentang penggarap kebun anggur. Mereka diberi kepercayaan, diberi lahan, diberi kesempatan. Tetapi ketika tiba saatnya memberi hasil, mereka justru ingin menguasai semuanya. Bahkan anak pemilik kebun pun dibunuh, demi ambisi memiliki warisan. Di sini kita melihat wajah dosa yang sama: keinginan menguasai, tidak mau mengakui bahwa semua adalah titipan.
Perumpamaan ini bukan sekadar kritik kepada para pemimpin zaman itu. Ini cermin bagi kita. Hidup yang kita jalani, talenta yang kita miliki, keluarga, kesehatan, kesempatan belajar dan bekerja—semuanya adalah kebun anggur yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Namun sering kali kita hidup seolah-olah kitalah pemiliknya. Kita marah ketika rencana kita gagal. Kita kecewa berat ketika kehilangan sesuatu yang sebenarnya bukan milik mutlak kita. Kita sulit memberi “hasil” kepada Tuhan dalam bentuk kejujuran, kesetiaan, dan kasih.
Yesus berbicara tentang batu yang dibuang tukang bangunan, yang justru menjadi batu penjuru. Ia sedang berbicara tentang diri-Nya sendiri. Ia ditolak, disingkirkan, bahkan disalibkan. Tetapi justru dari penolakan itu, lahirlah keselamatan. Dalam kehidupan kita pun, sering kali pengalaman “dibuang”, diremehkan, tidak dianggap, terasa seperti sumur kosong tempat kita dilemparkan. Namun Tuhan mampu mengubah sumur menjadi jalan menuju Mesir, dan Mesir menjadi jalan menuju keselamatan banyak orang.
Saudara-saudari, renungan hari ini mengajak kita jujur melihat hati sendiri. Apakah ada iri yang belum kita bereskan? Apakah kita sedang memegang sesuatu terlalu erat, seolah-olah itu milik kita sepenuhnya? Ataukah kita sedang merasa seperti Yusuf, dikhianati dan tidak dimengerti? Dalam kedua keadaan itu, Tuhan tetap bekerja. Ia tidak pernah meninggalkan cerita kita di tengah sumur. Ia sanggup menulis lurus di atas garis-garis bengkok kehidupan manusia.
Marilah kita belajar mempercayakan hidup sebagai penggarap yang setia, bukan pemilik yang serakah. Belajar bersyukur ketika orang lain berhasil. Belajar setia ketika kita tidak dilihat. Dan ketika kita merasa dibuang, percaya bahwa Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar daripada yang mampu kita bayangkan. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, ajari kami membersihkan hati dari iri dan keserakahan. Bentuklah kami menjadi penggarap yang setia dan jujur dalam tanggung jawab sehari-hari. Saat kami merasa ditolak atau terluka, kuatkanlah iman kami bahwa Engkau tetap bekerja. Mampukan kami menghasilkan buah kasih nyata bagi keluarga dan sesama. Amin.
