Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Kamis 12 Maret 2026.
Kalender Liturgi hari Kamis 12 Maret 2026 merupakan HARI KAMIS PEKAN III PRAPASKAH, Santo Theofanus, Biarawan dan Sejarahwan, Santo Gregorius I, Paus dan Pujangga Gereja, Santo Maximilianus, Martir, Beata Yustina dari Arezzo, Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Kamis 12 Maret 2026:
Bacaan Pertama Yeremia 7:23-28
“Inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara Tuhan.”
Beginilah firman Tuhan, “Inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu,
supaya kamu berbahagia! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memberi perhatian, melainkan mereka mengikuti rancangan-rancangan dan kedegilan hatinya yang jahat, dan mereka memperlihatkan punggungnya dan bukan mukanya.
Sejak nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir sampai waktu ini, Aku mengutus kepada mereka hamba-hamba-Ku, para nabi, hari demi hari, terus menerus.
Tetapi mereka tidak mau mendengarkan kepada-Ku dan tidak mau memberi perhatian; malahan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat daripada nenek moyang mereka.
Sekalipun engkau mengatakan kepada mereka segala perkara ini, mereka tidak akan mendengarkan perkataanmu, dan sekalipun engkau berseru kepada mereka, mereka tidak akan menjawab engkau.
Sebab itu, katakanlah kepada mereka: Inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara Tuhan, Allah mereka, dan yang tidak mau menerima pengajaran! Ketulusan mereka sudah lenyap, sudah musnah dari mulut mereka.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm. 95:1-2.6-7.8-9
Ref. Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati.
Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi Gunung Batu keselamatan kita. Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorailah bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.
Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, kita ini umat gembalaan-Nya dan kawanan domba-Nya.
Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati seperti di Meriba, seperti waktu berada di Masa di padang gurun, ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.
Bait Pengantar Injil Yoel 2:12-13
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, sabda Tuhan, sebab Aku ini pengasih dan penyayang.
Bacaan Injil Lukas 11:14-23
“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku.”
Sekali peristiwa Yesus mengusir dari seseorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata.
Maka heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.”
Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada Yesus untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap Kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah pasti runtuh.
Jikalau Iblis itu terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.
Jadi, jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya?
Nah, merekalah yang akan menjadi hakimmu! Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.
Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya.
Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagi rampasannya.
Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku, dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Kamis 12 Maret 2026
Saudara-saudari terkasih, ketika kita mendengarkan Sabda Tuhan hari ini dari kitab Yeremia dan Injil Lukas, kita seperti diajak melihat sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: hati yang keras dan pilihan hidup yang tidak pernah benar-benar netral.
Melalui nabi Yeremia, Tuhan berbicara dengan nada yang sangat sedih. Ia tidak marah seperti seorang hakim yang ingin menghukum, melainkan seperti seorang Bapa yang merasa ditinggalkan oleh anak-anak-Nya. Tuhan berkata bahwa Ia sudah berkali-kali mengutus para nabi, hari demi hari, terus-menerus. Ia hanya meminta satu hal sederhana: “Dengarkanlah suara-Ku.” Jika mereka mendengarkan, Tuhan akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Hubungan itu sebenarnya sangat sederhana: mendengar, percaya, lalu berjalan di jalan yang benar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Manusia lebih memilih mengikuti rancangan hatinya sendiri. Mereka tidak lagi mau mendengar. Bahkan dikatakan mereka memperlihatkan punggung kepada Tuhan, bukan wajah. Ini gambaran yang sangat kuat: Tuhan berbicara, tetapi manusia berbalik pergi.
Jika kita jujur, gambaran itu tidak jauh dari kehidupan kita sekarang. Banyak orang sebenarnya tahu mana yang benar, mana yang baik, mana yang membawa damai. Tetapi sering kali kita memilih mengikuti keinginan sendiri. Kita tahu kejujuran itu penting, tetapi kadang kita memilih jalan yang lebih mudah. Kita tahu memaafkan itu benar, tetapi kita lebih suka menyimpan luka. Kita tahu Tuhan berbicara melalui hati nurani, melalui Sabda-Nya, melalui pengalaman hidup, tetapi kita sering menundanya atau mengabaikannya.
Lalu dalam Injil hari ini, Yesus melakukan sesuatu yang jelas: Ia mengusir roh jahat yang membisukan seseorang. Orang itu akhirnya bisa berbicara. Orang banyak sebenarnya melihat kebaikan yang nyata. Tetapi yang mengejutkan, sebagian orang justru menuduh Yesus bekerja dengan kuasa setan.
Di sini kita melihat sesuatu yang sangat manusiawi: ketika hati sudah tertutup, bahkan kebaikan pun bisa terlihat salah. Ketika seseorang tidak mau percaya, ia akan selalu menemukan alasan untuk meragukan.
Yesus kemudian menjelaskan dengan sangat sederhana. Setiap kerajaan yang terpecah pasti runtuh. Jika setan melawan dirinya sendiri, bagaimana mungkin kerajaannya bertahan? Artinya, karya yang dilakukan Yesus jelas berasal dari Allah. Melalui diri-Nya, Kerajaan Allah sedang hadir di tengah manusia.
Namun bagian Injil yang paling tajam adalah kalimat Yesus ini: “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku.”
Kalimat ini mungkin terdengar keras, tetapi sebenarnya sangat jujur tentang kehidupan manusia. Dalam hal kebaikan, kita tidak bisa selalu berdiri di tengah. Kita tidak bisa berkata, “Saya tidak melawan Tuhan, tapi saya juga tidak terlalu ikut.” Dalam kehidupan nyata, sikap setengah-setengah sering kali justru membuat kita perlahan menjauh.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat ini. Misalnya ketika ada ketidakjujuran di tempat kerja, di sekolah, atau dalam keluarga. Jika kita diam saja, lama-lama ketidakjujuran itu menjadi biasa. Ketika ada orang disakiti dan kita memilih tidak peduli, kita sebenarnya ikut membiarkan luka itu tetap ada. Dalam banyak hal, tidak memilih kebaikan sering berarti membiarkan kejahatan bertumbuh.
Yesus menggunakan gambaran seorang yang kuat menjaga rumahnya. Tetapi ketika datang seseorang yang lebih kuat, rumah itu bisa direbut. Gambaran ini sebenarnya tentang hati manusia. Hati kita adalah “rumah” itu. Jika kita tidak membiarkan Tuhan menjaga hati kita, hal-hal lain akan dengan mudah menguasainya: ego, iri hati, kemarahan, keserakahan, atau keputusasaan.
Masa Prapaskah yang sedang kita jalani sebenarnya adalah waktu untuk melihat kembali siapa yang benar-benar memegang “rumah” hati kita. Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita, atau hanya menjadi bagian kecil di antara banyak hal lain?
Tuhan tidak pernah berhenti berbicara kepada manusia. Ia berbicara melalui Sabda-Nya, melalui orang-orang di sekitar kita, melalui peristiwa hidup, bahkan melalui kegelisahan di dalam hati kita sendiri. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan berbicara atau tidak. Pertanyaannya adalah: apakah kita masih mau mendengarkan?
Karena hati yang mau mendengar selalu memiliki kemungkinan untuk berubah. Hati yang mau mendengar selalu memiliki kesempatan untuk kembali. Dan Tuhan tidak pernah lelah menunggu manusia yang mau kembali kepada-Nya.
Maka hari ini kita diajak untuk tidak bertegar hati. Kita diajak untuk memilih dengan jelas: berjalan bersama Kristus, bukan hanya mengenal-Nya dari jauh, tetapi sungguh membiarkan Dia memimpin hidup kita, langkah demi langkah, dalam hal-hal kecil setiap hari. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, sering kali kami mendengar suara-Mu tetapi menundanya. Lembutkanlah hati kami agar berani memilih kebaikan, kejujuran, dan kasih dalam hidup sehari-hari. Tinggallah dalam hati kami dan tuntunlah langkah kami supaya hidup kami sungguh berjalan bersama-Mu setiap hari. Amin.
