Bacaan Injil Katolik Hari Ini Minggu 22 Maret 2026 dan Renungan Harian Katolik, HARI MINGGU PRAPASKAH V

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 22 Maret 2026.

Kalender Liturgi hari Minggu 22 Maret 2026 adalah HARI MINGGU PRAPASKAH V, Santo Zakarias, Paus, Santa Lea, Janda dan Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Ungu.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 22 Maret 2026:

Bacaan Pertama Yehezkiel 37:12-14

“Aku akan memberikan Roh-Ku kepadamu, sehingga kamu hidup.”

Beginilah firman Tuhan Allah, “Sungguh, Aku akan membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu dari dalamnya, hai umat-Ku. Dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu dari dalamnya.

Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalam dirimu, sehingga kamu hidup kembali, dan Aku akan menempatkan kamu di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, yang me-ngatakannya dan membuatnya.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 130:1-2.3-4.5-6b.7b-8

Ref. Pada Tuhan ada kasih setia dan penebusan berlimpah.

Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian, kepada suara permohonanku.

Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, maka orang-orang bertakwa kepada-Mu.

Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan, lebih daripada pengawal mengharapkan pagi.

Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel, dari segala kesalahannya.

Bacaan Kedua Roma 8:8-11

“Roh Allah yang membangkitan Yesus dari antara orang mati diam di dalam dirimu.”

Saudara-saudara, mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, kalau Roh Allah memang tinggal di dalam dirimu.

Tetapi jka orang tidak memiliki Roh Kristus, maka ia bukanlah milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada dalam dirimu, maka tubuhmu memang mati karena dosa, tetapi rohmu hidup karena kebenaran.

Dan jika Roh Allah, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam dalam dirimu, maka Ia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana oleh Roh-Nya yang diam dalam dirimu.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil Yohanes 11:25a.26

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Akulah kebangkitan dan hidup, Sabda Tuhan; setiap orang yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.

Bacaan Injil Yohanes 11:1-45

“Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah”

Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria adalah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.

Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Mendengar kabar itu Yesus berkata, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”

Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya serta Lazarus. Namun setelah mendengarnya bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat di mana Ia berada; tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Mari kita kembali lagi ke Yudea.”

Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau; masihkah Engkau mau kembali ke sana?” Jawab Yesus, “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.

Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Yesus berkata kepada mereka, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.”

Maka kata murid-murid itu kepada-Nya, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.

Karena itu Yesus berkata dengan terus terang, “Lazarus sudah mati. Tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya.

Marilah sekarang kita pergi kepadanya!” Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”

Ketika Yesus tiba di Betania, didapati-Nya Lazarus telah empat hari terbaring di dalam kubur. Betania itu tidak jauh dari Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. Di situ banyak orang Yahudi telah datang untuk menghibur Marta dan Maria berhubung dengan kematian saudaranya.

Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Maka kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.

Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”

Jawab Yesus, “Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati; dan setiap orang yang hidup serta percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.

Percayakah engkau akan hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” Sesudah berkata demikian, Marta pergi memanggil saudaranya Maria, dan berbisik kepadanya, “Guru ada di sana, dan Ia memanggil engkau.”

Mendengar itu, Maria segera bangkit, lalu pergi mendapatkan Yesus. Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai-Nya.

Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama Maria di rumah itu untuk menghiburnya melihat Maria tiba-tiba bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.

Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah Maria di depan kaki Yesus dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Ketika Yesus melihat Maria menangis, dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata, “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka, “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Maka menangislah Yesus.

Kata orang-orang Yahudi, “Lihatlah, betapa besar kasih-Nya kepadanya!” Tetapi beberapa orang di antaranya berkata, “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak mampukah Ia bertindak sehingga orang ini tidak mati?” Makin masygullah hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu.

Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus, “Angkatlah batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada Yesus, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”

Jawab Yesus, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata, “Bapa, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

Aku tahu bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku. Tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri mengelilingi Aku ini, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras, “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan, dan mukanya tertutup dengan kain peluh.

Kata Yesus kepada mereka, “Bukalah kain-kain itu, dan biarkan ia pergi.” Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Minggu 22 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih,

hari ini Sabda Tuhan membawa kita masuk ke dalam pengalaman yang sangat manusiawi: kehilangan, penantian, dan harapan yang seakan terlambat. Kisah Lazarus bukan hanya tentang orang mati yang dibangkitkan, tetapi tentang hati manusia yang sering merasa bahwa Tuhan datang “tidak tepat waktu”.

Dalam Bacaan Pertama, kita mendengar janji Tuhan melalui Yehezkiel: Ia membuka kubur dan memberikan Roh-Nya supaya kita hidup. Kubur di sini tidak selalu berarti kematian fisik. Dalam hidup kita sekarang, kubur bisa berarti keputusasaan, luka batin, kegagalan, relasi yang hancur, atau iman yang terasa mati. Tuhan tidak menutup mata terhadap kondisi itu. Justru di sanalah Ia bekerja, memberi hidup baru dengan Roh-Nya.

Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua mengingatkan bahwa hidup kita bukan sekadar soal tubuh atau keadaan lahiriah, tetapi soal Roh yang tinggal dalam diri kita. Banyak orang hari ini terlihat hidup, tetapi batinnya kosong. Sebaliknya, ada orang yang sedang menderita, tetapi tetap memiliki damai karena Roh Tuhan hidup di dalamnya. Di sinilah letak perbedaan antara hidup menurut daging dan hidup menurut Roh.

Lalu Injil hari ini membawa kita pada puncaknya. Yesus datang ketika Lazarus sudah empat hari dalam kubur. Secara manusiawi, semuanya sudah selesai. Marta bahkan berkata, “Tuhan, ia sudah berbau.” Ini gambaran kejujuran manusia: ketika situasi sudah terlalu rusak, terlalu lama, terlalu mustahil untuk diperbaiki.

Namun justru di titik “sudah terlambat” itulah Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya.

Yang sangat menyentuh adalah satu ayat singkat: Yesus menangis. Tuhan tidak jauh dari penderitaan kita. Ia tidak hanya memberi solusi, tetapi terlebih dahulu merasakan apa yang kita rasakan. Ia hadir, ikut terluka bersama kita. Ini menunjukkan bahwa iman bukan berarti kita tidak boleh menangis. Marta dan Maria tetap percaya, meski hati mereka hancur.

Seringkali kita seperti mereka. Kita percaya kepada Tuhan, tetapi juga menyimpan kekecewaan: “Tuhan, kalau Engkau bertindak lebih cepat, semuanya tidak akan seperti ini.” Kita berdoa, tetapi jawaban tidak datang sesuai harapan. Kita menunggu, tetapi keadaan justru memburuk.

Namun hari ini Yesus mengajak kita melangkah lebih dalam: percaya bukan hanya ketika semuanya berjalan baik, tetapi justru ketika semuanya tampak gelap.

Ketika Yesus berkata, “Angkatlah batu itu,” sebenarnya Ia mengundang manusia untuk bekerja sama. Batu itu bisa menjadi simbol dari ketakutan, keraguan, atau penolakan kita. Kadang Tuhan sudah siap bertindak, tetapi kita masih menutup hati, masih enggan membuka “kubur” kita karena takut menghadapi kenyataan.

Dan ketika Lazarus keluar, ia masih terikat kain kafan. Yesus meminta orang lain untuk melepaskannya. Ini mengajarkan bahwa kebangkitan tidak selalu instan. Tuhan membangkitkan kita, tetapi proses pemulihan sering melibatkan orang lain: keluarga, sahabat, komunitas, bahkan pengalaman hidup.

Saudara-saudari, Injil hari ini bukan hanya tentang Lazarus. Ini tentang kita. Mungkin ada bagian dalam hidup kita yang terasa mati: semangat belajar, hubungan dengan orang tua, kepercayaan diri, atau iman kita sendiri. Tuhan tidak berkata, “Sudah terlambat.” Ia berkata, “Percayalah, engkau akan melihat kemuliaan Allah.”

Iman bukan berarti semua masalah langsung selesai, tetapi iman memberi kita keberanian untuk tetap berharap ketika tidak ada alasan untuk berharap. Dan justru di situlah kita melihat bahwa Tuhan sungguh hidup dan bekerja.

Maka hari ini, marilah kita jujur di hadapan Tuhan: tunjukkan “kubur” dalam hidup kita. Jangan takut. Karena Tuhan yang sama yang memanggil Lazarus keluar, juga memanggil kita untuk hidup kembali. Dan suara-Nya tidak pernah terlambat. Amin.

Doa Penutup

Tuhan, dalam hidup yang penuh tekanan dan ketidakpastian, ajar kami percaya saat harapan terasa hilang. Bangkitkan semangat kami dari keputusasaan, kuatkan hati kami menghadapi kenyataan, dan tuntun kami berjalan dalam terang-Mu, agar kami mampu melihat kasih dan rencana-Mu dalam setiap peristiwa hidup kami. Amin.

 

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Selasa 24 Maret 2026 dan Renungan Harian Katolik “Dan Ia yang Telah Mengutus Aku, Menyertai Aku”

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada...

More Articles Like This

Favorite Post