Tanggal 28 Agustus 2025 kemarin, aksi demo di depan Gedung DPR bikin heboh.
Sayangnya, suasana panas itu berakhir ricuh dan menelan korban jiwa—seorang driver ojek online bernama Affan Kurniawan.
Tragedi ini jelas ninggalin luka, tapi di sisi lain ada satu istilah yang tiba-tiba naik daun di medsos: “Rastra Sewakottama.”
Awalnya cuma lewat unggahan warganet yang ngaku bangga sama Polri, kata ini langsung jadi bahan penasaran banyak orang.
Netizen rame-rame nanya: “Rastra Sewakottama tuh bahasa apa? Artinya apaan? Kok ada di lambang Polri?”
Arti Sebenarnya: Bukan Slogan Biasa
“Rastra Sewakottama” ternyata bukan bahasa gaul baru, guys. Kata ini dari bahasa Sanskerta, yang kalau dibedah artinya kurang lebih:
👉 “Polri adalah pelayan utama bagi Nusa dan Bangsa.”
Gak sekadar kata keren, tapi ini bagian dari Tri Brata, janji moral Polri sejak 1 Juli 1945. Rastra Sewakottama jadi penegas kalau polisi itu tugasnya bukan jadi bos, tapi jadi pelayan rakyat.
Seorang pemerhati sosial, Raka Pratama, bilang:
“Kalau polisi benar-benar pegang teguh arti Rastra Sewakottama, masyarakat pasti lebih percaya. Soalnya intinya ya simple: polisi itu lahir dari rakyat, kerja buat rakyat, dan harus balik lagi ke rakyat.”
Nyambung Sama Filosofi Internasional
Ternyata, makna ini sejalan sama filosofi polisi modern di dunia. Ada istilah Latin yang mirip, yaitu “Vigilant Quiescant”—artinya “kami berjaga supaya masyarakat tetap tenang.”
Artinya, bukan cuma Indonesia aja yang punya konsep kayak gini, tapi juga dipakai global. Jadi bisa dibilang Rastra Sewakottama tuh lokal taste, global value.
Simbol di Lambang Polri
Kalau kalian liat lambang Polri, kata ini bukan tempelan random, tapi penuh kode filosofis. Beberapa detailnya:
- Perisai: simbol perlindungan buat rakyat.
- Obor dengan 17 sinar: pengingat tanggal Proklamasi, 17 Agustus 1945.
- Padi & kapas: cita-cita keadilan dan kemakmuran.
- Tiga bintang: Tri Brata, tiga janji moral polisi.
- Hitam & emas: stabilitas + kebesaran jiwa.
Sejarahnya juga erat. Jumlah padi dan kapas di lambang ternyata nyambung ke momen pelantikan Kapolri pertama, Jenderal Polisi Raden Said Soekanto, tanggal 29 September 1945.
Kalau ditarik benang merahnya, Rastra Sewakottama bukan cuma jargon di spanduk atau lambang resmi. Ini simbol bahwa Polri harus jadi:
- pelindung,
- pengayom,
- dan pelayan masyarakat.
Atau kalau bahasa anak sekarang: polisi jangan cuma jadi “penguasa jalanan,” tapi benar-benar jadi partner rakyat.
Dosen hukum Universitas Gadjah Mada, Dini Larasati, juga komentar:
“Kalau Polri konsisten jalanin makna Rastra Sewakottama, mereka gak perlu capek-capek bikin citra. Masyarakat sendiri yang bakal kasih respek.”
Jadi, kalau besok ada yang nanya “Rastra Sewakottama tuh apa sih?”, jawab aja: itu bahasa Sanskerta, artinya polisi adalah pelayan utama bangsa.
Kata ini viral gara-gara demo ricuh, tapi maknanya jauh lebih dalam—tentang pengabdian dan pelayanan, bukan sekadar slogan.
