Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Selasa 10 Maret 2026.
Kalender Liturgi hari Selasa 10 Maret 2026 merupakan HARI SELASA PEKAN III PRAPASKAH, Santo Yohanes, Biarawan, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Selasa 10 Maret 2026:
Bacaan Pertama Daniel 3:25.34-43
“Semoga kami diterima balik karena jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah.”
Tatkala dicampakkan ke dalam tanur api, Azarya berdiri dan berdoa; ia membuka mulut di tengah-tengah api itu, katanya, “Demi nama-Mu, ya Tuhan, janganlah kami Kautolak selamanya,
dan janganlah Kaubatalkan perjanjian-Mu; janganlah Kautarik kembali dari pada kami belas kasihan-Mu, demi Abraham kekasih-Mu, demi Ishak hamba-Mu, dan demi Israel,
orang suci-Mu, yang kepadanya Engkau telah berjanji memperbanyak keturunan mereka menjadi laksana bintang-bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut.
Ya Tuhan, jumlah kami telah menjadi paling kecil di antara sekalian bangsa, dan sekarang kami pun dianggap rendah di seluruh bumi oleh karena dosa kami.
Dewasa ini pun tidak ada pemuka, nabi atau penguasa, tiada kurban bakaran atau kurban sembelihan, kurban sajian atau ukupan; tidak ada pula tempat untuk mempersembahkan buah bungaran kepada-Mu dan mendapat belas kasihan.
Tetapi semoga kami diterima baik, karena jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah, seolah-olah kami datang membawa kurban domba dan lembu serta ribuan anak domba tambun.
Demikian hendaknya kurban kami di hadapan-Mu pada hari ini berkenan seluruhnya kepada-Mu. Sebab tidak dikecewakanlah mereka yang percaya kepada-Mu. Kini kami mengikuti Engkau dengan segenap jiwa dan dengan takwa kepada-Mu, dan wajah-Mu kami cari.
Janganlah kami Kaupermalukan, tetapi perlakukanlah kami sesuai dengan kemurahan-Mu dan menurut besarnya belas kasihan-Mu. Lepaskanlah kami sesuai dengan perbuatan-Mu yang ajaib, dan nyatakanlah kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm. 25:4b-5b.6-7c.8-9
Ref. Tuhan adalah kasih setia bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya.
Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan daku.
Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan, sebab emuanya itu sudah ada sejak purbakala. Ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya Tuhan.
Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersahaja.
Bait Pengantar Injil Yoel 2:12
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Sang Raja kemuliaan kekal.
Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati, sabda Tuhan, sebab Aku ini pengasih dan penyayang.
Bacaan Injil Matius 18:21-35
“Jika kamu tidak mau mengampuni saudaramu, Bapa pun tidak akan mengampuni kamu.”
Sekali peristiwa Petrus datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”
Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Ketika ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isteri dan segala miliknya untuk membayar hutangnya.
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskan segala hutang itu. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Maka raja itu menyuruh memanggil hamba pertama tadi dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat! Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Demikianlah Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Selasa 10 Maret 2026
“Saat Hati Terluka, Masih Mungkinkah Mengampuni?”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Bacaan Pertama hari ini memperlihatkan sebuah doa yang sangat menyentuh hati. Azarya berdoa kepada Tuhan dari tengah-tengah tanur api. Ia tidak berdoa dari tempat yang nyaman. Ia tidak berdoa ketika hidup sedang baik-baik saja. Ia berdoa dari situasi yang sangat sulit, dari ancaman kematian, dari penderitaan yang nyata. Namun yang indah dari doa itu adalah kerendahan hati yang sangat dalam.
Azarya tidak menyalahkan Tuhan. Ia tidak menuntut mukjizat secara kasar. Ia justru mengakui keadaan bangsanya dengan jujur: mereka kecil, mereka jatuh dalam dosa, mereka tidak memiliki lagi kurban, tidak ada pemimpin rohani, tidak ada tempat untuk mempersembahkan ibadah seperti dahulu. Dalam keadaan serba terbatas itu ia hanya membawa satu hal kepada Tuhan: hati yang remuk dan roh yang rendah.
Di sinilah kita belajar sesuatu yang sangat penting tentang kehidupan rohani. Tuhan tidak terutama mencari kesempurnaan manusia. Tuhan tidak menunggu sampai hidup kita rapi, sampai kita tidak punya kesalahan, sampai semuanya berjalan baik. Tuhan justru menerima manusia yang datang dengan hati yang jujur dan rendah.
Sering kali dalam kehidupan sekarang, kita merasa tidak pantas datang kepada Tuhan. Kita merasa doa kita kurang baik, hidup kita terlalu banyak kekurangan, atau kita terlalu sibuk dengan berbagai urusan. Tanpa sadar kita menjauh dari Tuhan karena merasa diri tidak layak.
Namun doa Azarya justru menunjukkan bahwa saat hati kita remuk, saat hidup terasa berat, saat kita sadar akan kelemahan diri, justru di situlah doa kita menjadi sangat berharga di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menolak hati yang rendah dan tulus.
Bacaan Injil hari ini kemudian membawa kita pada salah satu ajaran Yesus yang sangat mendalam dan juga sangat menantang: tentang pengampunan.
Petrus bertanya kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah cukup murah hati menurut ukuran manusia. Ia berkata, “Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali?” Dalam budaya waktu itu, mengampuni tiga kali saja sudah dianggap sangat baik. Petrus bahkan menggandakannya lebih dari itu.
Tetapi jawaban Yesus melampaui cara berpikir manusia. Yesus berkata, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Tentu Yesus tidak sedang memberikan angka yang harus dihitung secara matematis. Yesus sedang mengatakan bahwa pengampunan tidak boleh dibatasi oleh perhitungan.
Mengapa Yesus berkata demikian? Karena Ia tahu betapa mudahnya manusia menyimpan luka dalam hati. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami hal ini. Ada kata-kata yang melukai, sikap yang mengecewakan, pengkhianatan dari orang yang kita percaya, atau perlakuan tidak adil dari orang terdekat. Luka seperti itu tidak mudah dilupakan.
Sering kali kita berkata dalam hati, “Aku sudah memaafkan, tetapi aku tidak bisa melupakan.” Atau kita berkata, “Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan orang itu.” Tanpa sadar hati kita menyimpan kepahitan.
Melalui perumpamaan tentang hamba yang tidak tahu berterima kasih, Yesus ingin membuka mata kita. Hamba pertama memiliki hutang yang sangat besar, hutang yang secara manusia hampir mustahil dibayar. Tetapi raja itu tergerak oleh belas kasihan dan menghapuskan seluruh hutangnya.
Itu adalah gambaran tentang Tuhan. Kita semua sebenarnya adalah manusia yang menerima begitu banyak pengampunan dari Tuhan. Dalam hidup kita ada banyak kesalahan, kegagalan, dan dosa yang mungkin tidak disadari oleh orang lain, tetapi Tuhan melihat semuanya. Namun Tuhan tidak memperlakukan kita dengan keras. Ia memberi kesempatan baru, pengampunan baru, dan harapan baru setiap hari.
Masalah muncul ketika hamba yang sudah diampuni itu justru tidak mampu mengampuni orang lain yang memiliki hutang jauh lebih kecil kepadanya. Ia bahkan mencekik kawannya dan memasukkannya ke dalam penjara.
Perumpamaan ini sangat nyata dalam kehidupan manusia sekarang. Kadang kita sangat mudah memohon pengampunan dari Tuhan, tetapi sangat sulit memberikan pengampunan kepada sesama. Kita ingin dimengerti, tetapi kita tidak selalu mau mengerti orang lain. Kita berharap diberi kesempatan kedua, tetapi kita tidak selalu mau memberi kesempatan yang sama kepada orang lain.
Padahal, ketika kita menolak mengampuni, yang paling menderita sebenarnya adalah diri kita sendiri. Hati yang menyimpan dendam menjadi berat. Pikiran terus dipenuhi oleh kenangan pahit. Hubungan menjadi kaku dan penuh jarak. Tanpa kita sadari, luka itu mengikat hati kita.
Pengampunan tidak selalu berarti melupakan peristiwa yang terjadi. Pengampunan juga tidak berarti bahwa kita membenarkan kesalahan orang lain. Tetapi pengampunan adalah keputusan untuk tidak lagi membiarkan luka itu menguasai hati kita.
Ketika seseorang berani mengampuni, ia sebenarnya sedang membebaskan dirinya sendiri dari beban kepahitan. Ia memilih hidup dengan hati yang lebih ringan.
Masa Prapaskah adalah waktu yang sangat tepat untuk melihat kembali hati kita. Mungkin ada orang yang masih kita simpan dalam daftar luka hati. Mungkin ada hubungan yang belum dipulihkan. Mungkin ada kata “maaf” yang belum kita ucapkan, atau pengampunan yang belum kita berikan.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk berani melangkah. Bukan karena kita kuat, tetapi karena kita sendiri sudah lebih dahulu menerima belas kasih Tuhan.
Jika Tuhan begitu sabar terhadap kita, maka perlahan-lahan kita juga belajar menjadi sabar terhadap sesama. Jika Tuhan tidak menutup pintu pengampunan bagi kita, maka kita pun dipanggil untuk tidak menutup pintu hati kita bagi orang lain.
Dan ketika kita hidup dengan hati yang mau mengampuni, hidup kita menjadi lebih damai. Relasi menjadi lebih hangat. Hati kita menjadi lebih bebas. Di situlah kita mulai merasakan cara Tuhan memulihkan kehidupan manusia.
Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan tidak meminta kita melakukan hal-hal besar yang luar biasa. Ia hanya mengajak kita membuka hati: datang kepada-Nya dengan kerendahan seperti doa Azarya, dan belajar mengampuni seperti belas kasih yang telah kita terima dari Tuhan.
Karena pada akhirnya, hidup yang penuh pengampunan adalah hidup yang paling mencerminkan hati Tuhan sendiri. Amin.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh belas kasih, lembutkan hati kami yang sering keras dan terluka. Ajarlah kami berani mengampuni seperti Engkau mengampuni kami. Bebaskan kami dari kepahitan dan dendam, supaya hati kami dipenuhi damai, dan hidup kami menjadi tanda kasih-Mu bagi sesama setiap hari. Amin.
