Pasar modal Indonesia di hari Kamis, 4 Desember 2025, lagi agak bete. Alih-alih naik gara-gara efek window dressing akhir tahun yang biasa bikin indeks seger, eh IHSG malah turun tipis 0,06% ke level 8.611. Ya kecil sih, tapi tetep aja bikin investor nyengir kecut.
Nah, di tengah situasi ini, saham-saham gede alias big caps juga ikut kecipratan tekanan, termasuk jagoan sejuta umat: BBCA. Berdasarkan pantauan Shoesmart, BBCA ditutup melemah sekitar 0,9% hari itu.
Banyak investor ritel auto nanya:
“Lho, kok BBCA turun sih? Kan fundamentalnya cakep, laba naik, baru bagi dividen pula!”
Tenang beb, yuk kita kupas tuntas 3 faktor yang bikin BBCA agak ngedrop di tanggal itu. Siapin kopi!
IHSG Lagi Loyo, Sektor Keuangan Ikut Ketularan 😮💨
Pertama, harus diakui, BBCA nggak turun sendirian. Pasar memang lagi lemah. Setelah IHSG ngegas dan cetak rekor pas awal Desember, banyak analis udah spoiler akan ada koreksi kecil.
Di perdagangan hari itu:
- Sektor keuangan — termasuk big banks macam BBCA dan BBRI — malah ngasih tekanan jual.
- Banyak investor lagi profit taking.
Kalau udah waktunya nyairin cuan, yang dilepas pasti saham boncos berat? Nggak dong—yang dijual justru yang udah naik banyak. Jadi big caps kayak BBCA jadi sasaran empuk.
Makanya BBCA ikut kebawa arus.
Efek Ex-Dividend: Dividen Baru Cair, Harga Saham Biasanya ‘Ngatur Ulang’ 💸
Ini nih faktor paling make sense dan paling teknikal.
BCA baru aja ngumumin pembagian dividen interim Rp 55/saham, dan jadwalnya:
- 2 Des 2025: Cum Date (hari terakhir buat dapetin hak dividen)
- 3 Des 2025: Ex Date (harga saham otomatis disesuaikan, nggak dapet dividen lagi)
- 4 Des 2025: Record Date
Nah, pas udah masuk Ex Date, harga saham biasanya turun otomatis sebesar nilai dividen.
Ditambah lagi:
Para dividend hunter yang udah keburu dapetin hak dividen, mulai melakukan profit taking.
Dampaknya? Harga BBCA kepentok tekanan jual sampai beberapa hari setelahnya, termasuk di tanggal 4 Desember itu.
Asing Lagi Cabut Cuan: Tren Net Sell Sepanjang 2025 🌍💨
Meski penurunan harian cuma 0,9%, ini sebenernya cuma sepotong dari perjalanan lebih panjang.
Sepanjang 2025, big banks Indonesia, termasuk BBCA, lagi diterpa badai tekanan jual asing.
- Hingga Oktober 2025, BBCA udah turun lebih dari 23% YtD.
- Nilai net sell asing mencapai puluhan triliun!
Tapi bukan karena fundamental buruk, ya. Penyebabnya lebih ke:
- Rotasi dana asing ke sektor lain (energi, komoditas, dll).
- Penyesuaian valuasi karena saham perbankan large caps udah terlanjur premium.
Jadi, penurunan BBCA 4 Des 2025 itu cuma lanjutan dari vibes koreksi jangka panjang yang udah kejadian sebelumnya.
Tenang, Fundamental BBCA Masih Kinclong — Cuma Valuasinya Lagi Direm Dikit 😎
Dari segi fundamental?
BBCA masih aman, bahkan solid:
- Laba bersih 9 bulan 2025 tetap tumbuh sekitar 6% YoY.
- Pertumbuhan kredit tetap sehat dan stabil.
Tapi pasar lagi super sensi sama dua isu:
🔸 1. Pertumbuhan Laba Mulai Melambat
Biasanya BBCA tumbuh agresif, tapi 2025 cuma single digit. Investor jadi mikir ulang soal valuasinya.
🔸 2. Provisi & Write-Off Naik
Ada peningkatan cadangan kerugian kredit.
Artinya bank lagi hati-hati menghadapi ekonomi yang masih serba nggak pasti.
Hasil akhirnya?
Valuasi premium BBCA dikoreksi, walau fundamental tetap kuat.
Jadi, kenapa BBCA turun 4 Desember 2025?
✔ IHSG lagi lesu
✔ Efek ex-dividen bikin harga “reset”
✔ Tekanan jual asing sepanjang tahun
✔ Valuasi premium lagi diseimbangkan pasar
Tapi overall?
BBCA tetap bank favorit, fundamental stabil, dan jadi pilihan jangka panjang banyak investor cerdas. Turun tipis mah hal biasa banget.
Stay calm, stay wise, stay invested, guys! ✨📈
