Pasar Lagi Ambyar? Kenalan Dulu Sama Bear Market Biar Nggak Panik Saat Investasi Turun. Dunia investasi nggak selalu soal cuan dan grafik hijau. Ada masanya pasar lagi senyum lebar, tapi ada juga fase di mana layar portofolio bikin dada sesak. Nah, salah satu kondisi yang paling sering bikin investor deg-degan—terutama yang masih pemula—adalah bear market.
Istilah ini sering muncul saat pasar lagi “merah darah”, tapi sebenarnya apa sih bear market itu? Kenapa bisa terjadi? Dan yang paling penting: berapa lama biasanya bertahan? Yuk, kita kupas pelan-pelan dengan bahasa yang nggak ribet.
Bear Market Itu Apa, Sih?
Singkatnya, bear market adalah fase ketika harga aset investasi turun dalam-dalam dan berlangsung cukup lama. Penurunan ini bukan cuma sehari dua hari, tapi bisa berbulan-bulan.
Secara umum, pasar disebut masuk bear market ketika harga aset—seperti saham, reksa dana, atau kripto—anjlok sekitar 20 persen atau lebih dari titik tertingginya, lalu terus bergerak dalam tren menurun.
Di fase ini, satu hal paling terasa:
👉 yang jual lebih banyak daripada yang beli.
Akibatnya, harga makin ditekan dan suasana pasar jadi penuh rasa waswas.
Kenapa disebut “bear”? Karena beruang menyerang dengan gerakan mencakar ke bawah, mirip grafik harga yang terus merosot. Bear market pun sering dikaitkan dengan kondisi pasar yang dipenuhi rasa takut, kehati-hatian, dan minim optimisme.
Sebagai kebalikannya, ada bull market—fase pasar naik, penuh semangat, dan investor optimistis.
Kenapa Bear Market Bisa Terjadi? Ini Penyebab Umumnya
Bear market nggak muncul tiba-tiba. Biasanya ada kombinasi beberapa faktor besar yang jadi pemicunya.
1. Ekonomi Lagi Nggak Sehat
Saat pertumbuhan ekonomi melambat, daya beli turun, dan laba perusahaan melemah, kepercayaan investor ikut goyah. Banyak yang memilih keluar dulu dari pasar demi mengurangi risiko. Alhasil, aksi jual makin ramai.
2. Inflasi Tinggi & Suku Bunga Naik
Inflasi yang melonjak sering bikin bank sentral menaikkan suku bunga. Dampaknya?
- Biaya pinjaman perusahaan makin mahal
- Ekspansi bisnis terhambat
- Valuasi saham ikut tertekan
Kondisi ini bikin pasar kehilangan daya tariknya.
3. Guncangan Global
Peristiwa besar seperti konflik geopolitik, pandemi, krisis energi, atau resesi dunia bisa bikin pasar keuangan limbung. Ketidakpastian global biasanya langsung tercermin dalam penurunan harga aset.
4. Efek Psikologi dan Kepanikan
Kadang, bukan cuma data ekonomi yang berperan—emosi investor juga punya pengaruh besar. Saat rasa takut menyebar, aksi jual bisa terjadi secara berantai. Inilah yang sering membuat penurunan makin dalam dan bertahan lebih lama.
Bear Market Biasanya Bertahan Berapa Lama?
Jawabannya: nggak ada patokan pasti.
Durasi bear market sangat tergantung pada:
- Penyebab utamanya
- Seberapa parah krisisnya
- Seberapa cepat pemerintah dan bank sentral merespons
Secara historis, di pasar saham global, fase bear market rata-rata berlangsung sekitar 9 sampai 15 bulan sebelum mulai berbalik arah.
Namun, ada juga yang:
- Singkat tapi brutal, seperti saat awal pandemi COVID-19
- Panjang dan melelahkan, jika dipicu krisis besar atau resesi berkepanjangan
Bahkan setelah harga menyentuh titik terendah, pasar biasanya masih butuh waktu cukup lama untuk benar-benar pulih ke level sebelumnya.
Bear market bukan tanda dunia investasi kiamat. Justru, fase ini adalah bagian alami dari siklus pasar. Buat investor pemula, memahami konsep ini penting supaya:
- Nggak panik berlebihan
- Bisa ambil keputusan lebih rasional
- Lebih siap menghadapi naik-turunnya pasar
Ingat, pasar bisa jatuh… tapi sejarah menunjukkan, pasar juga selalu bangkit. Yang penting bukan menghindari bear market, tapi tahu cara menyikapinya.
