Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 11 Januari 2026.
Kalender Liturgi hari Minggu 11 Januari 2026 merupakan PESTA PEMBAPTISAN TUHAN, Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 11 Januari 2026:
Bacaan Pertama: Yesaya 42:1-4,6-7
“Lihat, itu hamba-Ku, yang kepadanya Aku berkenan.”
Beginilah firman Tuhan, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku yang kepada-Nya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suaranya, atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan ia padamkan, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” Beginilah firman Tuhan, “Aku, Tuhan, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan.
Aku telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan membuat engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur Tanggapan: Mzm. 29:1a-2,3ac-4.3b,9b-10
Refrain: Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera.
- Sampaikanlah kepada Tuhan, hai penghuni surga, sampaikanlah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan!
- Suara Tuhan terdengar di atas air, suara Tuhan mengguruh di atas air yang besar. Suara Tuhan penuh kekuatan, suara Tuhan penuh semarak.
- Allah yang mulia mengguntur. Di dalam bait-Nya setiap orang berseru, “Hormat!” Tuhan bersemayam di atas air bah, Tuhan bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya.
Bacaan Kedua: Kisah Para Rasul 10:34-38
“Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus.”
Sekali peristiwa Allah menyuruh Petrus menemui perwira Romawi dan seisi rumahnya. Setibanya di rumah sang perwira, Petrus berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membeda-bedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh karena Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.
Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea mulai dari Galilea sesudah pembaptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: Bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa.
Yesus itu telah berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Bait Pengantar Injil: Markus 9:6;2/4
Ref.rain: Alleluya, alleluya.
Ayat: Langit terbuka, dan terdengarlah suara Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”
Bacaan Injil Matius 3:13-17
“Sesudah dibaptis, Yesus melihat Roh Allah turun ke atas-Nya.”
Ketika Yohanes membaptis di Sungai Yordan, datanglah Yesus dari Galilea ke sana untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang musti dibaptis oleh-Mu! Masakan Engkau yang datang kepadaku!”
Lalu Yesus menjawab kepadanya, kata-Nya, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menurutinya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air, dan pada waktu itu juga langit terbuka, dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan Harian Katolik Minggu 11 Januari 2026
Renungan Harian Katolik
Minggu, 11 Januari 2026
Pesta Pembaptisan Tuhan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari ini Gereja mengajak kita berdiri di tepi Sungai Yordan, menyaksikan sebuah peristiwa yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam dan menggetarkan iman kita: Yesus datang untuk dibaptis. Ia tidak datang sebagai orang berdosa yang mencari pengampunan, melainkan sebagai Putra Allah yang dengan rendah hati masuk ke dalam barisan manusia, berdiri sejajar dengan mereka yang rapuh, terluka, dan penuh keterbatasan. Di sinilah misteri kasih Allah dinyatakan dengan begitu nyata dan manusiawi.
Bacaan pertama dari Nabi Yesaya telah lebih dahulu melukiskan sosok ini. Hamba Tuhan yang dipilih dan berkenan kepada Allah bukanlah pribadi yang keras, berteriak-teriak, atau memaksakan kehendak-Nya. Ia tidak mematahkan buluh yang terkulai, tidak memadamkan sumbu yang nyalanya hampir padam. Gambaran ini sangat dekat dengan pengalaman hidup kita. Betapa sering kita merasa seperti buluh yang hampir patah karena beban hidup, kegagalan, luka batin, atau kelelahan rohani. Betapa sering iman kita seperti sumbu yang apinya kecil, nyaris tak terlihat. Namun Allah tidak datang untuk menghakimi atau menyelesaikan kita dengan satu hentakan. Ia datang dengan kesetiaan, dengan kesabaran, dengan kasih yang memulihkan perlahan tapi pasti.
Dalam bacaan kedua dari Kisah Para Rasul, Petrus menyadari sesuatu yang sangat penting: Allah tidak membeda-bedakan orang. Allah hadir dan bekerja di mana pun ada hati yang terbuka, di mana pun ada kerinduan akan kebenaran. Yesus yang diurapi dengan Roh Kudus berjalan berkeliling sambil berbuat baik, menyembuhkan, memulihkan, membebaskan. Ini bukan sekadar kisah masa lalu. Ini adalah wajah Allah yang ingin terus kita jumpai hari ini. Allah yang tidak berjarak, tidak eksklusif, tidak memilih-milih berdasarkan latar belakang, status, atau masa lalu seseorang. Allah yang selalu mendekat.
Dan puncaknya kita dengarkan dalam Injil hari ini. Yohanes Pembaptis merasa tidak pantas membaptis Yesus. Secara logika, Yohanes benar. Namun Yesus justru memilih jalan ketaatan dan kerendahan hati. Ia berkata, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yesus tidak mencari kehormatan, tidak menuntut perlakuan istimewa. Ia masuk ke dalam air yang sama, ke dalam pengalaman manusia yang sama, untuk menunjukkan bahwa keselamatan Allah dimulai dari solidaritas, dari kesediaan turun ke dalam kenyataan hidup manusia.
Ketika Yesus keluar dari air, langit terbuka. Roh Allah turun ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara Bapa: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Kata-kata ini bukan hanya pernyataan identitas Yesus, tetapi juga pewahyuan tentang siapa Allah itu. Allah adalah Bapa yang mengasihi, yang bersukacita atas ketaatan, kerendahan hati, dan kasih. Allah yang bersuara bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meneguhkan.
Saudara-saudari, perayaan Pembaptisan Tuhan ini mengajak kita kembali mengingat pembaptisan kita sendiri. Mungkin kita tidak mengingat peristiwanya, tetapi rahmatnya tetap hidup. Dalam baptisan, kita pun disebut anak-anak yang dikasihi Allah. Kita pun diurapi dengan Roh Kudus. Kita pun dipanggil untuk menjadi terang, menjadi pembawa damai, menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia yang sering keras, terburu-buru, dan penuh luka.
Iman Kristiani bukan sekadar pengetahuan atau rutinitas ibadah, melainkan jalan hidup. Membaca Injil harian dan merenungkannya, seperti yang kita lakukan hari ini, menolong kita untuk perlahan menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah. Di tengah kesibukan, tekanan, dan tuntutan zaman, Injil memberi kita ketenangan batin dan arah moral. Ia mengingatkan kita bahwa hidup tidak hanya soal berhasil atau gagal, tetapi soal setia dan mau berjalan bersama Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil meneladan Yesus yang lembut dan rendah hati. Ketika kita berhadapan dengan orang yang rapuh, janganlah kita mematahkan buluh yang sudah terkulai. Ketika kita melihat iman orang lain yang mulai pudar, jangan kita padamkan sumbu yang masih menyala kecil. Ketika kita merasa diri sendiri lelah dan hampir menyerah, marilah kita percaya bahwa Allah tidak meninggalkan kita. Roh yang sama yang turun ke atas Yesus juga menyertai kita hari ini.
Pesta Pembaptisan Tuhan mengingatkan kita bahwa Allah hadir dalam hal-hal sederhana, dalam kesetiaan sehari-hari, dalam tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih. Di sanalah langit kembali terbuka. Di sanalah suara Allah bergema dalam hati kita, berkata dengan lembut namun penuh kuasa: engkau adalah anak yang Kukasihi. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau memilih jalan rendah hati dan taat. Ajar aku setia dalam hal kecil, lembut kepada yang rapuh, jujur dalam keputusan, dan terbuka pada Roh-Mu. Kuatkan aku hidup sebagai anak yang Kaukasihi di tengah kesibukan dan tantangan hidup sehari-hari, umat Katolik masa kini. Amin.
