Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 10 Januari 2026.
Kalender Liturgi hari Sabtu 10 Januari 2026 merupakan Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan, Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 10 Januari 2026:
Bacaan Pertama: 1 Yohanes 5:14-21
“Allah mengabulkan doa kita.”
SAUDARA-saudaraku terkasih, inilah sebabnya kita berani menghadap Allah, yaitu karena Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita tahu juga bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang kita minta kepada-Nya.
Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah; maka Allah akan memberikan hidup kepadanya, yaitu kepada dia yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut itu. Ada dosa yang mendatangkan maut, dan tentang ini, tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa.
Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut. Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindungi orang itu, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. Kita tahu bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.
Akan tetapi kita tahu bahwa Anak Allah telah datang, dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan kehidupan yang kekal. Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-2.3-4.5.6a.9b
Ref. Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
- Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.
- Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
- Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka; itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.
Bait Pengantar Injil: Matius 4:16
Ref. Alleluya
Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar, bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut telah terbit Terang.
Bacaan Injil: Yohanes 3:22-30
“Sahabat mempelai bersukacita mendengar suara mempelai.”
SEKALI peristiwa Yesus bersama murid-muid-Nya pergi ke tanah Yudea, dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanes pun membaptis di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.
Maka timbullah perselisihan di antara murid-muid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan, dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga, dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga.
Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai, yang berdiri dekat dia dan mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Januari 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini Sabda Tuhan membawa kita masuk ke dalam ruang batin yang sangat dalam, ruang di mana iman, kerendahan hati, dan relasi kita dengan Allah diuji secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bacaan Pertama dari Surat Pertama Yohanes dan Injil Yohanes berbicara tentang hal yang sangat manusiawi: tentang doa yang sering kita panjatkan, tentang dosa dan kelemahan, tentang rasa cemburu, perbandingan, dan juga tentang sukacita yang lahir dari hati yang tahu tempatnya di hadapan Allah.
Dalam Bacaan Pertama, Rasul Yohanes mengingatkan kita bahwa kita berani datang kepada Allah karena Allah adalah Bapa yang mendengarkan. Doa bukanlah sekadar rutinitas rohani atau kewajiban orang beriman, melainkan perjumpaan anak dengan Bapanya. Namun Yohanes menambahkan satu hal penting yang sering kita lewatkan: Allah mengabulkan doa kita bila kita memintanya menurut kehendak-Nya. Di sinilah iman kita dimurnikan. Sering kali doa kita lebih mirip daftar permintaan, bahkan tuntutan, daripada penyerahan diri. Kita ingin Tuhan mengikuti rencana kita, bukan kita yang masuk ke dalam rencana Tuhan.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, doa sering menjadi pelarian sesaat: ketika lelah, ketika takut, ketika gagal. Itu manusiawi. Tetapi Sabda hari ini mengajak kita melangkah lebih jauh: bukan hanya meminta agar masalah kita selesai, melainkan membiarkan kehendak Allah bekerja di balik setiap peristiwa. Kadang doa kita tidak dikabulkan seperti yang kita harapkan, bukan karena Allah tidak peduli, tetapi karena Allah sedang menyelamatkan kita dengan cara yang lebih dalam, lebih jauh, dan sering kali baru kita pahami di kemudian hari.
Rasul Yohanes juga berbicara tentang dosa dan tentang doa bagi sesama. Ini sangat relevan bagi kita yang hidup di tengah masyarakat yang mudah menghakimi. Ketika melihat orang lain jatuh, gagal, atau berdosa, reaksi pertama kita sering kali bukan berdoa, melainkan membicarakan, menilai, atau menjauh. Padahal Sabda Tuhan mengajak kita untuk hadir sebagai sesama yang berbelas kasih, yang membawa saudara kita ke hadapan Allah dalam doa. Di situlah iman menjadi nyata, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam sikap hati.
Injil hari ini membawa kita pada sosok Yohanes Pembaptis, seorang yang sangat besar dalam rencana Allah, namun dengan kerendahan hati yang luar biasa. Murid-muridnya gelisah karena Yesus semakin dikenal, semakin banyak orang mengikuti-Nya. Mereka merasa tersisih, merasa kalah, merasa tidak dianggap. Bukankah perasaan ini juga sering kita alami? Di tempat kerja, dalam pelayanan, bahkan dalam keluarga, kita mudah merasa tersaingi, merasa tidak dihargai, merasa peran kita diambil orang lain.
Jawaban Yohanes Pembaptis sangat sederhana namun sangat dalam: tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya kalau tidak dikaruniakan dari surga. Yohanes tahu siapa dirinya. Ia tidak hidup untuk mencari sorotan, melainkan untuk setia pada panggilan. Ia bersukacita bukan karena dirinya dipuji, tetapi karena kehendak Allah terlaksana. Sukacitanya penuh justru ketika ia makin kecil dan Yesus makin besar.
Ini adalah undangan yang sangat menantang bagi kita di zaman sekarang, zaman pencitraan, pengakuan, dan pengukuran diri lewat penilaian orang lain. Injil hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: dalam hidup ini, siapa yang sedang kita besarkan? Ego kita, gengsi kita, ambisi kita, atau Kristus? Yohanes Pembaptis mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada menjadi pusat perhatian, melainkan pada kesetiaan menjalani peran yang Tuhan percayakan, sekecil apa pun itu.
Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Ia mengajak kita berdoa dengan iman yang dewasa, mengasihi sesama dengan hati yang peduli, dan menjalani hidup dengan kerendahan hati yang membebaskan. Ketika kita belajar berkata seperti Yohanes Pembaptis, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil,” di situlah hidup kita menemukan maknanya. Bukan karena kita hilang, tetapi karena kita menemukan diri kita yang sejati di dalam Allah yang benar dan kehidupan yang kekal.
Semoga Sabda ini tidak hanya kita dengar, tetapi sungguh kita hidupi, agar di tengah dunia yang penuh kebisingan, hidup kita menjadi kesaksian yang tenang, sederhana, dan penuh terang. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, ajarlah aku berdoa dengan iman, bersukacita dalam rencana-Mu, mengasihi sesama tanpa menghakimi, dan rendah hati dalam setiap peranku. Biarlah Engkau makin besar dalam hidupku, dan aku makin setia menjalani kehendak-Mu. Amin.
