Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 28 Maret 2026.
Kalender Liturgi hari Sabtu 28 Maret 2026 adalah HARI SABTU PEKAN V PRAPASKAH, Santo Doroteus dari Gaza, Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 28 Maret 2026:
Bacaan Pertama Yehezkiel 37:21-28
katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka.
Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, dan satu raja memerintah mereka seluruhnya; mereka tidak lagi menjadi dua bangsa dan tidak lagi terbagi menjadi dua kerajaan.
Mereka tidak lagi menajiskan dirinya dengan berhala-berhalanya atau dewa-dewa mereka yang menjijikkan atau dengan semua pelanggaran mereka. Tetapi Aku akan melepaskan mereka dari segala penyelewengan mereka, dengan mana mereka berbuat dosa, dan mentahirkan mereka, sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya.
Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia.
Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana nenek moyang mereka tinggal, ya, mereka, anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya.
Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.
Tempat kediaman-Kupun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.”
Mazmur Tanggapan: Yer. 31:10,11-12ab,13
Ref.Tuhan Allah menjaga kita seperti gembala menjaga kawanan dombanya.
Dengarlah firman Tuhan, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala menjaga kawanan dombanya.
Sebab Tuhan telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat daripadanya. Mereka akan datang bersorak-sorai di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebaikan Tuhan.
Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref.Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Buanglah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku, dan perbaharuilah hati serta rohmu.
Bacaan Injil : Yohanes 11:45-56
“Yesus akan mati untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.”
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.
Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”
Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.
Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Sabtu 28 Maret 2026
Saudara-saudari terkasih,
sabda Tuhan hari ini membawa kita masuk ke dalam satu misteri yang dalam: tentang perpecahan dan kerinduan akan persatuan. Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel menyampaikan janji Tuhan yang begitu indah, bahwa umat yang tercerai-berai akan dikumpulkan kembali. Mereka tidak lagi menjadi bangsa yang terpecah, tetapi satu umat, dengan satu gembala, hidup dalam damai bersama Tuhan.
Janji ini bukan hanya tentang Israel pada masa lampau, tetapi juga tentang kita hari ini. Sebab kalau kita jujur melihat kehidupan sekarang, yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita hidup dalam dunia yang penuh perpecahan. Dalam keluarga bisa ada jarak, dalam persahabatan bisa ada luka, dalam masyarakat ada perbedaan yang membuat orang saling menjauh. Bahkan dalam hati kita sendiri pun kadang ada perpecahan: antara keinginan untuk berbuat baik dan kecenderungan untuk jatuh dalam kelemahan.
Tuhan melihat semua itu. Dan melalui sabda-Nya, Ia tidak tinggal diam. Ia berjanji untuk mengumpulkan, memulihkan, dan mempersatukan. Tuhan tidak ingin kita hidup tercerai-berai, baik secara lahir maupun batin. Ia ingin kita utuh, damai, dan dekat dengan-Nya.
Namun Injil hari ini menunjukkan bahwa jalan menuju persatuan itu tidak mudah. Ketika Yesus melakukan kebaikan dan membawa kehidupan, justru muncul ketakutan dari para pemimpin. Mereka bukan melihat karya kasih, tetapi merasa terancam. Mereka takut kehilangan kekuasaan, takut kehilangan posisi, dan akhirnya memilih jalan yang salah: merencanakan kematian Yesus.
Di sini kita melihat sesuatu yang sangat manusiawi. Ketika hati dipenuhi rasa takut dan kepentingan diri, orang bisa menutup diri dari kebenaran. Bahkan sesuatu yang baik pun bisa dianggap ancaman. Ini sering terjadi juga dalam hidup kita. Kadang kita sulit menerima kebaikan orang lain, bukan karena itu salah, tetapi karena kita merasa tersaingi, tidak nyaman, atau tidak ingin berubah.
Kayafas berkata bahwa lebih baik satu orang mati daripada seluruh bangsa binasa. Tanpa ia sadari, kata-kata itu menjadi nubuat. Yesus memang akan mati, tetapi bukan karena kepentingan politik atau ketakutan manusia, melainkan karena kasih yang ingin menyelamatkan dan mempersatukan semua orang.
Saudara-saudari, di sinilah letak makna terdalam Injil hari ini. Yesus rela memberikan diri-Nya untuk mengumpulkan kembali yang tercerai-berai. Ia masuk ke dalam luka-luka manusia, ke dalam perpecahan, ke dalam dosa, dan membawa semuanya kepada persatuan dengan Allah.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kita? Apakah kita menjadi pribadi yang mempersatukan atau justru memecah? Dalam hal-hal kecil sehari-hari, sikap kita sangat menentukan. Kata-kata kita bisa menyembuhkan, tetapi juga bisa melukai. Tindakan kita bisa mendekatkan, tetapi juga bisa menjauhkan.
Masa Prapaskah ini mengajak kita untuk kembali menyadari: mungkin ada relasi yang perlu diperbaiki, ada pengampunan yang perlu diberikan, ada ego yang perlu dilepaskan. Persatuan tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi dimulai dari hati yang mau dibaharui.
Dan yang paling penting, kita diingatkan bahwa Tuhan tinggal di tengah umat-Nya. Ia tidak jauh. Ia hadir dalam hidup kita, dalam keluarga kita, dalam keseharian kita. Ketika kita membuka hati, Ia bekerja, mengumpulkan kembali yang tercerai, dan membawa damai yang sejati.
Saudara-saudari, mari kita tidak menutup hati seperti mereka yang menolak Yesus. Sebaliknya, mari kita belajar percaya, bahwa di balik setiap pengorbanan, Tuhan sedang bekerja untuk kebaikan yang lebih besar. Dan melalui hidup kita, semoga semakin banyak orang merasakan kasih yang mempersatukan. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, satukan hati kami yang sering terpecah oleh ego dan luka. Ajarlah kami menjadi pembawa damai dalam keluarga dan lingkungan kami. Beri kami keberanian untuk mengampuni dan kerendahan hati untuk berubah, agar hidup kami mencerminkan kasih-Mu yang mempersatukan semua orang. Amin.
