Bacaan Injil Katolik Hari Ini 31 Maret 2026 dan Renungan Harian Katolik, Peringatan Santo Benyamin, Martir

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Selasa 31 Maret 2026.

Kalender Liturgi hari Selasa 31 Maret 2026 adalah HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI, Santo Benyamin, Martir, dengan Warna Liturgi Ungu.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Selasa 31 Maret 2026:

Bacaan Pertama Yesaya 49:1-6

“Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.

Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing, dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.

Ia berfirman kepadaku, “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata, “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia! Namun, hakku terjamin pada Tuhan, dan upahku pada Allahku.”

Maka sekarang berfirmanlah Tuhan yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya; yang karenanya aku dipermuliakan di mata Tuhan,

dan Allahku menjadi kekuatanku; beginilah firman-Nya, “Terlalu sedikit bagimu untuk hanya menjadi hamba-Ku, hanya menegakkan suku-suku Yakub, dan mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara.

Maka Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm. 71:1-2.3-4a.5-6b.15.17

Ref. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu, ya Tuhan.

1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-sekali aku mendapat malu. Lepaskan dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!

2. Jadilah padaku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku, ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik!

3. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku!

4. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu, dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari-Mu, sebab aku tidak dapat menghitungnya. Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.

Bait Pengantar Injil

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Salam, ya Raja kami yang setia kepada Bapa; Engkau dibawa untuk disalibkan, tidak membuka mulut seperti domba yang dibawa ke pembantaian.

Bacaan Injil Yohanes 13:21-33.36-38

“Salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku … Sebelum ayam jantan berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali.”Kekristenan

Di dalam perjamuan Paskah dengan murid-murid-Nya Yesus sangat terharu, lalu bersaksi, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain; mereka bertanya-tanya siapa yang dimaksudkan-Nya.

Seorang di antara murid-murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyakanlah siapa yang dimaksudkan-Nya!”

Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dia adalah orang, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.”

Sesudah berkata demikian, Yesus mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis.

Maka Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas.

Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi.

Pada waktu itu hari sudah malam. Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, Sekarang Anak Manusia dipermuliakan, dan Allah dipermuliakan dalam Dia.

Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, tinggal sedikit waktu saja Aku bersama kamu.

Kamu akan mencari Aku, dan seperti telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi ‘Ke tempat Aku pergi tidak mungkin kamu datang’ demikian pula Aku mengatakannya sekarang kepada kamu.

Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang,, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.”

Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu.” Sahut Yesus, “Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Selasa 31 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, Sabda Tuhan hari ini membawa kita masuk ke dalam suasana yang sangat manusiawi, bahkan mungkin terasa dekat dengan pengalaman hidup kita sendiri. Nabi Yesaya menyampaikan panggilan Tuhan yang begitu indah: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa.” Sebuah panggilan yang besar, mulia, dan penuh makna. Namun di tengah itu, terselip kejujuran yang jarang kita sadari: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma… kekuatanku kuhabiskan dengan sia-sia.”

Bukankah itu juga sering kita rasakan? Kita sudah berusaha, sudah berbuat baik, sudah berjuang sekuat tenaga, tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Kita merasa tidak dihargai, tidak dilihat, bahkan mungkin dilupakan. Dalam titik seperti itu, kita mulai bertanya: untuk apa semua ini?

Namun Yesaya mengingatkan kita bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh hasil yang terlihat, melainkan oleh kesetiaan kita di hadapan Tuhan. Apa yang tampak sia-sia di mata manusia, tidak pernah sia-sia di mata Tuhan. Bahkan, justru di situlah Tuhan sedang membentuk kita menjadi “terang”.

Lalu Injil membawa kita masuk lebih dalam lagi, ke dalam perjamuan terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya. Suasana yang penuh kehangatan itu tiba-tiba berubah menjadi tegang ketika Yesus berkata bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya. Bayangkan, orang yang selama ini berjalan bersama, makan bersama, mengalami mukjizat bersama, ternyata bisa mengkhianati.

Dan bukan hanya Yudas. Petrus pun, yang begitu yakin dan penuh semangat berkata, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu,” justru akan menyangkal Yesus tiga kali. Ini bukan sekadar cerita tentang pengkhianatan, tetapi cermin tentang hati manusia.

Kita mungkin tidak merasa seperti Yudas atau Petrus. Tetapi kalau jujur, berapa kali kita juga “menyerahkan” Tuhan dalam hidup kita? Saat kita tahu yang benar tetapi memilih yang salah. Saat kita diam ketika seharusnya membela kebenaran. Saat kita lebih takut pada penilaian orang lain daripada setia kepada Tuhan.

Dan seperti Petrus, kita juga sering merasa kuat, merasa mampu setia, tetapi pada saat tertentu kita jatuh. Kita menyangkal bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan dan pilihan hidup kita.

Namun yang indah dari Injil ini bukan hanya tentang kegagalan manusia, melainkan tentang kasih Tuhan yang tetap setia. Yesus tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya, tahu siapa yang akan menyangkal-Nya, tetapi Ia tetap mengasihi mereka. Ia tetap duduk makan bersama mereka. Ia tetap memberi roti kepada Yudas.

Artinya, Tuhan tidak mencintai kita karena kita sempurna. Ia mencintai kita bahkan dalam kelemahan dan kegagalan kita. Ia tidak menjauh ketika kita jatuh, tetapi justru tetap tinggal, menunggu kita kembali.

Saudara-saudari, di tengah kehidupan kita sekarang—di sekolah, di keluarga, di pekerjaan—kita dipanggil untuk menjadi terang, bukan dengan kesempurnaan, tetapi dengan kesetiaan. Mungkin sederhana: tetap jujur, tetap berbuat baik, tetap percaya, meskipun tidak mudah.

Dan ketika kita jatuh, jangan lari dari Tuhan. Justru datanglah kembali. Karena kasih-Nya selalu lebih besar daripada kegagalan kita. Amin.

Doa Penutup

Tuhan, Engkau mengenal kelemahan kami namun tetap mengasihi kami tanpa syarat. Kuatkan kami saat goyah, teguhkan kami saat ragu, dan bangkitkan kami saat jatuh. Jadikan kami terang dalam hidup sederhana kami, agar tetap setia mengikuti-Mu di tengah tantangan dan kenyataan hidup setiap hari. Amin.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Bacaan Injil Katolik Hari Ini 30 Maret 2026 dan Renungan Harian Katolik, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada...

More Articles Like This

Favorite Post