Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Kamis 4 Juni 2026.
Kalender Liturgi hari Kamis 4 Juni 2026 adalah Hari Kamis Biasa IX Santo Kuirinus Martir: Kisah Iman dan Keteguhan, Santo Fransiskus Caracciolo Abbas dan Pelayan Ekaristi, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Kamis 4 Juni 2026:
Bacaan Pertama: 2Tim. 2:8-15
Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.
Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia;
jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya.
Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4bc-5ab,8-9,10,14
Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku
Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.
TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.
Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.
Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.
TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:34
Berilah aku mengerti, maka aku akan mentaati hukum-Mu,aku kan menepatinya dengan segenap hati, ya Tuhan..
Bacaan Injil: Markus 12:28b-34
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.
Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”
Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Kamis 4 Juni 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Jika hari ini Yesus berdiri di tengah-tengah kita dan mengajukan satu pertanyaan sederhana, “Apa yang paling penting dalam hidupmu?”, kira-kira apa jawaban kita? Mungkin ada yang menjawab keluarga, pekerjaan, kesehatan, pendidikan anak, keamanan finansial, atau masa depan yang lebih baik. Semua itu memang penting. Namun Injil hari ini mengajak kita melihat sesuatu yang lebih mendasar, sesuatu yang menjadi akar dari seluruh hidup beriman.
Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” Pertanyaan itu sebenarnya sangat penting. Pada zaman itu terdapat begitu banyak aturan dan ketentuan keagamaan. Orang sering kali sibuk menghafal, membahas, dan memperdebatkan hukum-hukum tersebut. Namun di tengah kerumitan itu, Yesus membawa semuanya kembali kepada inti yang paling sederhana sekaligus paling sulit untuk dijalankan: mengasihi Allah dan mengasihi sesama.
Menarik bahwa Yesus tidak memulai dengan perintah untuk berbuat banyak hal. Ia memulai dengan kasih. Sebab pada akhirnya, kehidupan iman bukan pertama-tama soal menjalankan aturan, melainkan soal hubungan. Allah tidak mencari manusia yang sekadar rajin menjalankan kewajiban agama. Allah menginginkan hati yang sungguh mengenal dan mengasihi-Nya.
Sering kali tanpa sadar kita bisa terjebak dalam kehidupan rohani yang hanya menjadi rutinitas. Kita berdoa karena kebiasaan, datang ke gereja karena kewajiban, mengikuti kegiatan rohani karena tuntutan lingkungan. Semua itu baik, tetapi Yesus hari ini mengajak kita bertanya lebih dalam: apakah semua itu lahir dari kasih?
Kasih kepada Allah bukan sekadar mengucapkan doa yang panjang. Mengasihi Allah berarti memberikan tempat bagi-Nya dalam setiap keputusan hidup. Ketika kita memilih kejujuran meskipun merugikan diri sendiri, di situlah kasih kepada Allah sedang diwujudkan. Ketika kita tetap percaya di tengah kesulitan, di situlah kasih kepada Allah sedang bertumbuh. Ketika kita menyisihkan waktu untuk berdoa di tengah kesibukan, kita sedang mengatakan bahwa Tuhan lebih penting daripada segala sesuatu yang lain.
Namun Yesus tidak berhenti sampai di sana. Ia langsung menghubungkan kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama. Ini sangat penting. Sebab tidak mungkin seseorang mengaku mencintai Allah tetapi terus-menerus melukai orang lain. Tidak mungkin seseorang rajin beribadah tetapi membiarkan kebencian, iri hati, fitnah, atau sikap tidak peduli menguasai dirinya.
Dalam kehidupan sekarang, mengasihi sesama sering kali menjadi tantangan yang nyata. Kita hidup di tengah dunia yang mudah menghakimi. Media sosial membuat orang cepat berkomentar tanpa memahami keadaan orang lain. Perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan. Kesibukan membuat kita lupa mendengarkan orang-orang terdekat. Tidak sedikit keluarga yang tinggal serumah tetapi kehilangan kedekatan hati.
Karena itu perintah Yesus menjadi sangat relevan. Mengasihi sesama bukan berarti menyukai semua orang atau selalu setuju dengan semua orang. Mengasihi sesama berarti tetap melihat martabat manusia dalam diri setiap orang. Mengasihi berarti mau mendengarkan, memahami, mengampuni, menolong, dan menghormati sesama meskipun terkadang tidak mudah.
Ahli Taurat dalam Injil hari ini memahami hal itu. Ia mengatakan bahwa mengasihi Allah dan sesama jauh lebih penting daripada segala korban bakaran dan persembahan. Jawaban itu membuat Yesus berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”
Perhatikan baik-baik. Yesus tidak mengatakan bahwa orang itu sudah berada di dalam Kerajaan Allah, tetapi “tidak jauh”. Mengapa? Karena memahami kebenaran belum tentu sama dengan menghidupi kebenaran. Banyak orang tahu bahwa kasih itu penting, tetapi belum tentu hidup dalam kasih. Banyak orang mengerti ajaran Tuhan, tetapi belum tentu menjadikannya nyata dalam tindakan sehari-hari.
Di sinilah Bacaan Pertama memberikan pelengkap yang sangat indah. Santo Paulus mengingatkan Timotius untuk tetap bertekun dan tetap setia kepada Kristus. Paulus sendiri mengalami penderitaan, penolakan, bahkan pemenjaraan. Namun ia tetap teguh karena tahu bahwa firman Allah tidak pernah dapat dibelenggu.
Kesetiaan kepada Kristus tidak diukur saat semuanya berjalan lancar. Kesetiaan justru terlihat ketika kita tetap memilih kasih saat terluka, tetap jujur saat tergoda berbuat curang, tetap berbuat baik saat tidak dihargai, dan tetap percaya saat doa belum terjawab sesuai harapan.
Kasih yang diajarkan Yesus bukan perasaan sesaat. Kasih adalah keputusan yang terus diperbarui setiap hari. Kasih adalah keberanian untuk keluar dari ego diri sendiri. Kasih adalah kesediaan untuk hadir bagi orang lain. Dan kasih adalah jalan yang membawa kita semakin dekat kepada Kerajaan Allah.
Hari ini Yesus tidak meminta sesuatu yang rumit. Ia hanya mengajak kita kembali kepada inti hidup beriman. Di tengah begitu banyak kesibukan, target, dan kekhawatiran hidup, jangan sampai kita kehilangan hal yang paling utama. Ketika kasih kepada Allah menjadi pusat hidup kita, dan kasih kepada sesama menjadi cara hidup kita, maka seluruh hidup akan menemukan arah dan maknanya yang sejati.
Sebab pada akhirnya, yang akan tinggal bukanlah keberhasilan, jabatan, kekayaan, atau pencapaian kita. Yang akan tinggal adalah seberapa besar kita telah mengasihi Tuhan dan sesama selama hidup yang dipercayakan kepada kita.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarlah kami mengasihi-Mu dengan segenap hati dan mengasihi sesama dengan tulus. Di tengah kesibukan, tekanan, dan berbagai persoalan hidup, jangan biarkan kami kehilangan kasih sebagai pusat kehidupan kami. Bentuklah hati kami agar semakin menyerupai hati-Mu yang penuh belas kasih dan kesetiaan. Amin.
