Transformasi digital dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) kini memasuki babak baru. Kementerian Sosial (Kemensos) resmi memperkuat sistem verifikasi penerima bantuan dengan memanfaatkan teknologi pengenalan wajah (face recognition) dan deteksi keaktifan wajah (liveness detection) yang dikembangkan GoTo.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak, sekaligus menutup celah penyalahgunaan data maupun praktik penyaluran yang tidak tepat sasaran.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan bahwa keberhasilan program perlindungan sosial sangat bergantung pada kualitas data penerima manfaat.
“Kalau datanya tidak akurat, bantuan yang diberikan juga berpotensi salah sasaran. Karena itu, pembenahan data menjadi prioritas utama,” ujarnya saat menerima audiensi jajaran GoTo di Kantor Kemensos, Jakarta, Jumat (12/6).
Teknologi Wajah Jadi Senjata Baru Verifikasi Bansos
Dalam pertemuan tersebut, CEO GoTo Hans Patuwo memperkenalkan teknologi liveness detection yang dirancang untuk memastikan identitas penerima bantuan secara lebih akurat.
Berbeda dengan verifikasi biasa yang hanya mengandalkan foto identitas, teknologi ini mampu mendeteksi apakah seseorang benar-benar berada di depan kamera secara langsung. Sistem dapat membedakan wajah asli dengan foto cetak, tangkapan layar, rekaman video, hingga upaya manipulasi digital lainnya.
Teknologi semacam ini saat ini banyak digunakan di sektor perbankan digital, fintech, hingga layanan keuangan untuk mencegah penipuan identitas.
Menurut Kemensos, penerapan teknologi tersebut dapat membantu mengurangi potensi data ganda, penerima fiktif, maupun penyalahgunaan identitas dalam proses pencairan bantuan sosial.
Uji Coba Berhasil, Tingkat Akurasi Capai 98 Persen
Program verifikasi digital yang dikembangkan sejak 2022 itu telah diuji coba di 42 kabupaten dan kota di Indonesia.
Berdasarkan data yang dipaparkan GoTo, sistem telah digunakan dalam 28.961 proses verifikasi dengan tingkat keberhasilan mencapai sekitar 98,4 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital memiliki potensi besar untuk meningkatkan akurasi validasi data penerima bantuan dibandingkan metode konvensional yang selama ini digunakan.
Sebagai tahap awal kerja sama, GoTo memberikan dukungan berupa 5 juta kuota verifikasi atau “hits” yang akan dimanfaatkan dalam proses digitalisasi bansos.
Meski demikian, Gus Ipul menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang terkait keberlanjutan sistem tersebut, termasuk aspek pembiayaan dan operasional setelah kuota awal habis digunakan.
Bansos Berpeluang Disalurkan Lewat Ekosistem Digital
Tak hanya membahas verifikasi identitas, pertemuan tersebut juga membuka peluang integrasi ekosistem pembayaran digital GoPay dalam proses distribusi bantuan sosial.
Jika terealisasi, skema ini berpotensi menghadirkan sejumlah keuntungan, mulai dari pencairan yang lebih cepat, proses yang lebih efisien, keamanan transaksi yang lebih baik, hingga memastikan bantuan diterima langsung oleh penerima manfaat tanpa perantara yang tidak diperlukan.
Digitalisasi pembayaran juga dinilai mampu meningkatkan transparansi karena setiap transaksi dapat terlacak secara elektronik.
Namun demikian, implementasi lebih lanjut tetap memerlukan kajian menyeluruh agar tetap sesuai dengan regulasi pemerintah dan dapat menjangkau seluruh kelompok masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan digital.
Sekolah Rakyat Ikut Jadi Fokus Kolaborasi
Selain urusan bansos, Kemensos juga mengajak GoTo untuk mendukung pengembangan program Sekolah Rakyat.
Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, anak putus sekolah, anak terlantar, serta kelompok rentan lainnya yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas.
Gus Ipul menjelaskan bahwa dukungan teknologi sangat dibutuhkan untuk membangun sistem pengelolaan sekolah yang modern dan aman, mulai dari administrasi, pemantauan aktivitas siswa, hingga pengelolaan transaksi dan layanan pendidikan berbasis digital.
Menurutnya, keamanan sistem menjadi faktor utama agar seluruh data siswa dan proses operasional sekolah dapat terlindungi dengan baik.
Kolaborasi antara Kemensos dan GoTo menjadi sinyal kuat bahwa digitalisasi layanan publik terus dipercepat. Dengan dukungan teknologi verifikasi biometrik dan sistem pembayaran digital, pemerintah berharap penyaluran bantuan sosial dapat menjadi lebih transparan, efisien, serta tepat sasaran.
Jika implementasinya berjalan sesuai rencana, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu fondasi penting dalam modernisasi sistem perlindungan sosial Indonesia di masa depan, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program bantuan pemerintah.