Istilah playing victim sekarang makin sering wara-wiri di timeline medsos. Mulai dari Twitter (X), TikTok, sampai obrolan tongkrongan, kata ini sering dipakai buat nyindir orang yang merasa paling tersakiti, paling dirugikan, dan paling nggak salah.
Tapi sebenernya, apa sih arti playing victim dalam bahasa gaul? Terus, apakah sikap ini termasuk toxic kalau muncul di hubungan pasangan?
Yuk, kita kupas tuntas biar nggak gampang kejebak drama. Si Paling Korban Alert! 🔔 Ini Arti Playing Victim, Ciri-Ciri, dan Kenapa Bisa Jadi Toxic di Hubungan
Playing victim itu kondisi saat seseorang memposisikan diri sebagai korban, padahal aslinya dia juga punya andil dalam masalah yang terjadi.
Dalam bahasa gaul, playing victim sering banget disebut sebagai:
- “Si paling korban”
- “Si paling tersakiti”
- “Aku selalu dizalimi”
Orang dengan sikap ini biasanya nggak mau disalahin, selalu cari pembenaran, dan berharap dapat simpati atau pembelaan dari orang lain.
Menurut kajian psikologi dari Universitas Muhammadiyah Gresik, playing victim juga berkaitan dengan apa yang disebut keuntungan sekunder—alias, ada manfaat tersembunyi yang mereka dapetin, seperti perhatian, belas kasihan, atau bebas dari tanggung jawab.
Playing Victim Menurut Psikologi: Bukan Sekadar Curhat
Dalam sudut pandang psikologi, playing victim bukan cuma ngeluh biasa. Ini termasuk manipulasi emosional.
Pelakunya sering:
- Mengalihkan kesalahan ke orang lain
- Bikin lawan bicara merasa bersalah
- Menikmati perhatian dari rasa “kasihan” yang diterima
Makanya, perilaku ini biasanya berulang dan jadi pola, bukan kejadian sekali dua kali.
Ciri-Ciri Orang Playing Victim (Wajib Waspada 🚩)
Biar nggak gampang kejebak, ini beberapa tanda yang paling sering muncul:
- Selalu nyalahin orang lain saat ada masalah
- Ngerasa dirinya paling menderita
- Cerita hidupnya isinya penderitaan terus
- Anti ngaku salah
- Drama berlebihan buat masalah sepele
- Ogah bertanggung jawab
- Sering bilang, “Hidup orang lain mah enak, nggak kayak aku”
Kalau hampir semua poin ini kena… fix, itu red flag.
Apakah Playing Victim Termasuk Toxic?
Jawabannya: YES, BIG YES 🚨
Dalam hubungan pasangan, playing victim itu toxic banget. Kenapa?
Karena:
- Pasangan jadi sering merasa bersalah padahal nggak salah
- Hubungan jadi nggak seimbang
- Masalah nggak pernah kelar karena fokusnya pindah ke drama
- Salah satu pihak terus-terusan jadi “penjahat”
Kalau dibiarkan, hubungan bisa berubah jadi capek mental dan emosional.
Contoh Playing Victim di Hubungan (Relate Banget 😬)
1. Membalikkan Fakta
Kamu negur karena dia bohong.
Jawabannya:
“Kamu tuh selalu nyari kesalahan aku. Kamu nggak pernah ngerti aku.”
2. Kabur dari Tanggung Jawab
Dia lupa janji.
Jawabannya:
“Aku capek kerja, kamu nggak pernah ngerti perjuangan aku.”
3. Drama Mode On
Dikasih kritik dikit langsung nangis:
“Kenapa sih semua orang jahat sama aku?”
Ending-nya? Kamu yang jadi serba salah.
Dampak Buruk Playing Victim ke Pasangan
Kalau ini terus kejadian, dampaknya bisa serius:
- Kepercayaan makin luntur
- Pasangan jadi stres & overthinking
- Rasa percaya diri turun
- Hubungan terasa nggak sehat
- Emosi terkuras tiap hari
Hubungan yang harusnya bikin tenang malah jadi melelahkan.
Kenapa Seseorang Suka Playing Victim?
Biasanya karena:
- Takut disalahkan
- Nggak mau menghadapi konsekuensi
- Pengin dapet perhatian & simpati
- Udah jadi kebiasaan sejak lama
Dan parahnya, nggak semua orang sadar kalau dirinya melakukan hal ini.
Cara Menghadapi Orang Playing Victim (Biar Mental Aman 🧠✨)
Kalau kamu berhadapan dengan tipe ini, coba lakukan hal berikut:
- Sadari Polanya – Jangan langsung kebawa emosi
- Pasang Batasan – Nggak semua drama wajib kamu tampung
- Tetap Tenang – Jangan terpancing
- Jangan Jadi Pahlawan – Kamu bukan penyelamat hidupnya
- Fokus ke Solusi, Bukan Drama
- Ambil Jarak Kalau Perlu – Demi kesehatan mentalmu sendiri
Perlu diingat, orang yang playing victim sering nggak mau berubah dan bisa defensif saat dihadapkan pada kenyataan.
Dalam bahasa gaul, playing victim = si paling korban. Sikap ini bukan cuma bikin drama, tapi juga toxic, apalagi kalau muncul di hubungan pasangan.
Maka dari itu, penting banget buat:
- Mengenali cirinya sejak awal
- Nggak gampang termakan rasa bersalah
- Menjaga kesehatan mental diri sendiri
Ingat, hubungan yang sehat itu saling bertanggung jawab, bukan saling drama. 💪✨
