Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 1 Februari 2026.
Kalender Liturgi hari Minggu 1 Februari 2026 merupakan Hari Minggu Biasa IV, Santa Brigita, Biarawati, Santo Severus, Uskup, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 1 Februari 2026:
Bacaan Pertama Zefanya 2:3;3:12-13
“Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah.”
“Carilah Tuhan, hai semua orang yang rendah hati di negeri, hai semua yang melakukan hukum-Nya: carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan Tuhan.”
Dan Allah berfiriman, “Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, yang akan mencari perlindungan pada nama Tuhan. Mereka itulah sisa Israel.
Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong. Dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu. Sebaliknya mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring tanpa ada yang mengganggunya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 146:1.7.8-9a.9b-10
Ref. Berbahagia orang yang suci hatinya sebab bagi mereka Kerajaan Surga.
Dialah yang menegakkan keadilan, bagi orang yang diperas, dan memberi roti kepada orang-orang yang lapar, Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung.
Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar. Tuhan menjaga orang-orang asing.
Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allah-Mu, ya Sion, turun-menurun!
Bacaan Kedua 1 Korintus 1:26-31
“Yang lemah dan tak berdaya dipilih Allah.”
Saudara-saudara, coba ingatlah bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.
Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.
Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Bait Pengantar Injil Matius 5:12a
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Bersukacitalah dan bergembiralah sebab besar ganjaranmu di surga.
Bacaan Injil Matius 5:1-12a
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.”
Pada suatu hari Yesus naik ke atas bukit, sebab melihat orang banyak. Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
Lalu Yesus mulai berbicara dan menyampaikan ajaran ini kepada mereka, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kalian, jika demi Aku kalian dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di surga.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Minggu 1 Februari 2026
Saudara-saudari terkasih,
hari ini Sabda Tuhan mengajak kita masuk ke satu ruang batin yang sangat dalam dan jujur tentang siapa kita di hadapan Allah. Kita hidup di zaman yang sering mengukur nilai manusia dari apa yang tampak di luar: pencapaian, kekuatan, pengaruh, pengakuan. Namun Sabda hari ini justru membalik logika dunia itu dengan sangat tegas, namun sekaligus lembut dan penuh pengharapan.
Dalam Bacaan Pertama dari Nabi Zefanya, Tuhan berkata bahwa Ia akan membiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah. Bukan umat yang paling hebat, bukan yang paling kuat, bukan yang paling bersuara keras. Yang dipilih Allah justru mereka yang mencari keadilan, yang hidup dalam kerendahan hati, yang tidak menipu, tidak berbuat kelaliman, dan tidak hidup dalam kebohongan. Gambaran “seperti domba yang makan rumput dan berbaring tanpa ada yang mengganggunya” bukanlah gambaran kelemahan yang memalukan, melainkan kedamaian orang yang hidup jujur di hadapan Allah dan sesama. Mereka tidak sibuk mempertahankan citra diri, tidak hidup dalam kecemasan untuk terlihat hebat, karena hidup mereka berakar pada Tuhan.
Bacaan Kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus semakin menegaskan hal ini. Paulus mengajak kita bercermin pada diri sendiri. Tidak banyak dari kita yang menurut ukuran dunia disebut bijak, berpengaruh, atau terpandang. Namun justru di situlah karya Allah bekerja. Allah memilih yang lemah untuk menyatakan kekuatan-Nya, memilih yang sederhana untuk menyingkapkan hikmat-Nya. Supaya manusia tidak memegahkan diri, tetapi belajar bersandar pada Tuhan. Di sini kita diingatkan bahwa iman bukan tentang membuktikan diri kita layak di hadapan Allah, melainkan tentang percaya bahwa Allah setia berkarya justru melalui keterbatasan kita.
Semua ini berpuncak dalam Bacaan Injil hari ini, ketika Yesus naik ke bukit dan mengucapkan Sabda Bahagia. Sabda ini bukan sekadar nasihat moral atau kata-kata indah untuk didengar, melainkan cara hidup Kerajaan Allah. Yesus tidak berkata berbahagialah orang yang selalu berhasil, selalu tertawa, selalu menang. Ia berkata berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Artinya, berbahagialah mereka yang sadar bahwa hidupnya tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya sendiri. Mereka yang berani mengakui ketergantungannya pada Tuhan.
Berbahagialah orang yang berdukacita, bukan karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena di tengah luka dan kehilangan, mereka tidak menutup diri, melainkan membuka hati untuk dihibur Allah. Berbahagialah orang yang lemah lembut, bukan yang membalas dengan kekerasan, karena mereka memilih jalan kesabaran dan penguasaan diri. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, yang tidak puas dengan ketidakadilan, tetapi tetap memperjuangkan yang benar meski pelan dan sering tidak terlihat.
Yesus menyebut berbahagia orang yang murah hati, suci hatinya, pembawa damai, bahkan mereka yang dianiaya demi kebenaran. Ini sangat manusiawi dan sangat nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita memilih jujur meski rugi, ketika kita memaafkan meski hati masih terluka, ketika kita tidak ikut arus kebencian dan fitnah, di situlah Sabda Bahagia itu dijalani. Kerajaan Surga bukan hanya janji di akhir hidup, tetapi mulai dirasakan di sini dan sekarang, dalam hati yang damai, dalam relasi yang dipulihkan, dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah.
Saudara-saudari, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak takut menjadi kecil, tidak malu menjadi sederhana, dan tidak putus asa ketika merasa lemah. Di hadapan Allah, kerendahan hati bukan kekurangan, melainkan pintu rahmat. Ketika kita berhenti memegahkan diri dan mulai bersandar pada Tuhan, di situlah kita sungguh-sungguh berbahagia. Amin.
Doa Penutup
Tuhan yang Maharahim, ajarilah kami hidup rendah hati dan jujur di hadapan-Mu. Dalam kelemahan dan keterbatasan kami, mampukan kami percaya akan karya kasih-Mu. Jadikan hidup kami tanda damai, kebenaran, dan pengharapan bagi sesama, hari ini dan selamanya. Amin.
