Instagram lagi-lagi punya cara sendiri buat bikin satu konten sederhana berubah jadi bahan obrolan banyak orang. Memasuki September 2026, lini Reels dan carousel kembali dipenuhi berbagai tren yang sebenarnya cukup gampang ditiru, tetapi justru menarik karena kreativitas pengguna dalam membuat versinya masing-masing.
Bukan cuma kreator besar yang ikut meramaikan. Banyak tren justru berawal dari video sederhana, lalu menyebar karena dianggap lucu, relate, unik, atau punya sound yang gampang nempel di kepala. Bahkan, beberapa tren yang awalnya ramai di Indonesia mulai terlihat digunakan pengguna dari negara lain.
Dari challenge kocak sampai filter berbasis AI, berikut beberapa tren Instagram yang sedang mencuri perhatian pada awal September 2026.
1. Challenge “Cium atau Jilat” yang Bikin Reaksi Peserta Jadi Hiburan
Salah satu konten yang ramai diperbincangkan adalah challenge “Cium atau Jilat”. Permainannya sebenarnya sederhana. Beberapa peserta harus mengikuti instruksi yang diberikan dengan memilih sesuai arahan terhadap sebuah properti berwarna putih berbentuk menyerupai telur.
Yang membuat video ini menarik bukan sekadar permainannya, melainkan ekspresi para peserta ketika menjalankannya.
Ada peserta yang berkali-kali salah tetapi tetap memasang wajah serius. Sementara peserta lainnya justru menunjukkan reaksi yang jauh lebih heboh. Audio instruksi yang hanya mengulang kata “cium” dan “jilat” pun akhirnya menjadi bagian dari daya tarik video tersebut.
Format seperti ini gampang viral karena penonton tidak perlu memahami cerita panjang untuk langsung menangkap bagian lucunya.
2. Sound “Jos Jis Rek” Membawa Musik Horeg ke Berbagai Negara
Kalau ngomongin sound yang sedang ramai, “Jos Jis Rek” juga tidak boleh dilewatkan. Sound yang lekat dengan nuansa musik horeg dan dangdut koplo Jawa Timur ini banyak digunakan dalam video joget dan konten hiburan.
Di Indonesia, pengguna biasanya memadukannya dengan gerakan tangan tertentu hingga gaya joget yang dibuat semakin heboh. Bahkan, aksesori seperti selempang uang saweran ikut digunakan untuk memperkuat nuansa videonya.
Yang menarik, penggunaan sound ini mulai terlihat di luar Indonesia. Tren tersebut bahkan disebut muncul dalam konten yang dibuat di Copenhagen.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sound lokal bisa dengan cepat melewati batas geografis ketika masuk ke ekosistem Reels dan platform video pendek.
3. Gaya “Laskar Cinta” Berubah Jadi Konten Dance yang Kocak
Tren fashion dengan nuansa “Laskar Cinta” juga ikut mendapatkan tempat di media sosial. Penampilannya banyak ditandai dengan pakaian serba hitam, bandana merah, serta aksesori seperti anting hoop.
Namun, tren ini tidak berhenti sebagai gaya berpakaian.
Pengguna kemudian menggabungkannya dengan konten humor, salah satunya melalui format “Tes Motorik Gen Z Dance Brazil”. Alih-alih menunjukkan gerakan dance yang lincah, peserta justru sengaja bergerak kaku dan berlebihan sehingga hasil akhirnya terasa seperti parodi.
Konsep tersebut kemudian menarik perhatian pengguna lain hingga sejumlah brand ikut membuat versi mereka sendiri.
4. Bisa Tebak Mana Bosnya?
Konten tebak-tebakan kembali menjadi salah satu format yang disukai pengguna Instagram.
Salah satu contohnya adalah konsep “Menyembunyikan Boss di Antara Karyawan”. Dalam video atau foto tersebut, sejumlah orang mengenakan seragam yang sama sehingga penonton harus memperhatikan setiap detail untuk menentukan siapa yang sebenarnya menjadi bos.
Sekilas memang terlihat gampang. Tapi ketika semua orang memiliki pakaian dan posisi yang hampir serupa, penonton justru dibuat penasaran.
Kolom komentar akhirnya berubah menjadi tempat adu tebakan. Ada yang memilih orang berkacamata, ada pula yang punya dugaan lain.
Format seperti ini menarik karena membuat pengguna tidak hanya menonton, tetapi juga terdorong ikut menjawab.
5. Carousel “What We Will Do When…” Cocok Buat Konten Bareng Teman
Buat yang sering bikin konten bersama geng, tren carousel “What We Will Do When…” bisa menjadi salah satu format yang menarik.
Konsepnya menggunakan tampilan bernuansa Y2K dengan berbagai skenario yang kemudian diikuti pilihan reaksi dari masing-masing orang.
Situasinya bisa bermacam-macam, mulai dari melihat teman jatuh, melihat orang bertengkar, bertemu anak kecil, masuk rumah hantu, menghadapi situasi tidak nyaman, sampai ketika ada gosip baru.
Karena setiap slide dapat dibuat sesuai karakter masing-masing anggota kelompok, hasil akhirnya terasa lebih personal.
Tren ini juga tidak membutuhkan produksi yang rumit. Dengan foto, teks, dan ide yang tepat, satu carousel sudah bisa menjadi konten yang cukup menghibur.
6. Tren “654321” Jadi Pilihan Baru Buat Konten Pasangan
Konten pasangan juga punya format yang sedang ramai melalui tren “654321”.
Konsepnya menggunakan pertanyaan berurutan dalam bentuk hitung mundur. Pengguna dan pasangannya kemudian menjawab pertanyaan mengenai kebiasaan, hal yang disukai, maupun hal-hal tertentu tentang satu sama lain.
Format tersebut membuat konten terasa seperti permainan kecil untuk menguji seberapa baik seseorang mengenal pasangannya.
Tidak sedikit pengguna yang memanfaatkan bantuan teknologi AI untuk membantu merangkai jawaban agar terdengar lebih menarik ketika ditampilkan dalam konten.
Karena formatnya sederhana, tren ini mudah disesuaikan dengan gaya masing-masing pasangan tanpa harus membuat video dengan konsep yang terlalu rumit.
7. Sound “Astaga Bercanda” Jadi Lagu yang Susah Hilang dari Kepala
Dari kategori audio, “Astaga Bercanda” juga ikut mencuri perhatian.
Sound ini banyak digunakan dalam sketsa pendek dengan pola cerita yang sengaja dibuat serius di awal. Misalnya, seseorang sedang berada dalam situasi tegang atau serius, kemudian sound tersebut tiba-tiba muncul dan suasananya berubah menjadi momen joget.
Perubahan suasana yang mendadak itulah yang menjadi sumber komedinya.
Sound yang mudah dikenali juga membuat pengguna lebih gampang mengadaptasinya ke berbagai jenis cerita, terutama video pendek yang mengandalkan kejutan di bagian akhir.
8. Filter AI Mermaid Mengubah Foto Jadi Karakter Putri Duyung
Teknologi AI masih menjadi salah satu bahan eksplorasi pengguna Instagram.
Salah satu tren yang menarik perhatian adalah AI Mermaid. Dengan memanfaatkan teknologi pengolahan gambar atau video berbasis AI, foto seseorang dapat diubah menjadi visual bergaya putri duyung lengkap dengan ekor berkilau dan suasana bawah laut.
Hasil visual yang berbeda dari foto biasa membuat filter semacam ini cukup menarik untuk dijadikan eksperimen konten.
Tren AI juga menunjukkan bahwa pengguna media sosial kini tidak hanya mengandalkan kamera dan filter standar, tetapi mulai mengeksplorasi berbagai teknologi untuk menghasilkan tampilan yang lebih kreatif.
Reels Pendek Masih Jadi Andalan
Terlepas dari tren yang berganti hampir setiap saat, beberapa format konten masih konsisten digunakan di Instagram.
Video vertikal berdurasi pendek, konten POV, storytelling singkat, GRWM atau Get Ready With Me, behind the scenes, aktivitas harian, carousel informatif, hingga video dengan remix sound masih banyak digunakan.
Hal yang paling penting adalah bagaimana konten tersebut mampu membuat orang berhenti scrolling.
Pembukaan video harus cukup menarik untuk membuat penonton penasaran dengan kelanjutannya. Setelah itu, isi konten perlu tetap memberikan alasan agar mereka bertahan sampai akhir.
Kreator Sebaiknya Tidak Sekadar Meniru Tren
Ikut tren memang bisa menjadi cara untuk mendapatkan perhatian. Namun, menyalin sebuah konsep secara terlalu mirip bukan berarti otomatis menghasilkan konten yang bagus.
Kreator justru perlu memberikan sentuhan personal. Perbedaan bisa dibuat dari cara membuka video, alur cerita, pemilihan visual, sudut pengambilan gambar, hingga cara menyampaikan punchline.
Hal ini semakin penting ketika platform semakin memperhatikan kemiripan konten. Mengganti B-roll atau latar saja belum tentu membuat sebuah video terasa benar-benar baru jika struktur dan penyampaiannya masih sama.
Karena itu, tren sebaiknya dijadikan inspirasi, bukan sekadar template untuk disalin mentah-mentah.
Tren Bisa Berubah Cepat, Kreativitas Jangan Sampai Ketinggalan
Dunia Instagram memang bergerak cepat. Hari ini satu sound bisa muncul di mana-mana, tetapi beberapa hari kemudian pengguna sudah berpindah ke tren berikutnya.
Delapan tren di atas memperlihatkan satu hal yang sama: konten sederhana tetap bisa menarik perhatian ketika dikemas dengan ide yang tepat.
Mulai dari humor, tebak-tebakan, musik lokal, konten bersama teman, tren pasangan, sampai teknologi AI, semuanya punya ruang untuk berkembang selama kreator mampu memberikan ciri khasnya sendiri.
Jadi, kalau menemukan tren yang sedang ramai, tidak ada salahnya ikut mencoba. Namun, jangan berhenti di tahap mengikuti. Tambahkan ide dan gaya sendiri supaya konten tidak cuma ikut lewat di beranda, tetapi juga punya alasan untuk diingat.