Warga Sungapan Kompak Biayai Pencalonan Waindun, Gerakan Gotong Royong Jadi Sorotan

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Kalau biasanya dukungan politik identik dengan atribut kampanye dan keramaian di jalan, pemandangan berbeda justru muncul dari Desa Sungapan, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Ratusan emak-emak di desa tersebut kompak menunjukkan dukungan mereka kepada Waindun, yang maju sebagai calon kepala desa. Uniknya, dukungan itu nggak berhenti sebatas datang atau memberikan suara. Para ibu ini bahkan berinisiatif patungan menggunakan uang mereka sendiri untuk membantu kebutuhan pencalonan Waindun.

Aksi tersebut kemudian ramai diperbincangkan setelah ratusan emak-emak berkumpul di kediaman Waindun sebelum mengantarkannya mendaftar sebagai calon kepala desa di balai desa setempat.

Yang bikin suasananya makin menarik, para ibu datang membawa sendiri berbagai jajanan dan makanan menggunakan toples transparan. Jadi, bukan sekadar kumpul-kumpul, momen tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan nyata dari warga.

Bukan Karena Amplop, Tapi Karena Ingin Desa Berubah

Menurut Harti (45), salah seorang koordinator aksi, gerakan tersebut muncul dari keinginan para ibu untuk mempunyai pemimpin desa yang dianggap mampu memahami kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Bagi mereka, persoalan seperti harga kebutuhan pokok, kondisi jalan desa, hingga keamanan anak-anak ketika berangkat sekolah merupakan hal yang sangat dekat dengan kehidupan warga.

Harti mengatakan, para ibu memilih mengumpulkan dana secara sukarela karena ingin memberikan dukungan kepada calon yang mereka yakini.

“Kami butuh pemimpin yang ngerti kebutuhan dapur, harga sembako murah, dan jalanan desa mulus biar anak-anak aman ke sekolah. Makanya, daripada nunggu dikasih amplop, mending kami yang modalin calon kades yang jujur,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).

Senada dengan Harti, Rina (48), seorang ibu rumah tangga, menyebut patungan tersebut dilakukan atas inisiatif para ibu sendiri. Mereka berharap Desa Sungapan nantinya memiliki pemimpin yang amanah, dekat dengan masyarakat, dan mau mendengarkan kebutuhan warga.

“Kami berkumpul di sini dengan membawa jajan dan makanan sendiri dan tanpa ada uang amplop, daripada dikasih uang nantinya malah belum tentu benar kalau sudah jadi,” kata Rina.

Waindun Sempat Ragu Maju

Di tengah ramainya dukungan tersebut, Waindun (60) mengaku sebenarnya sempat ragu untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Ia menyebut dirinya hanya seorang pensiunan pegawai biasa dan bukan berasal dari kalangan pejabat. Namun, dorongan dari berbagai elemen masyarakat akhirnya membuatnya mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.

Dukungan itu disebut datang dari saudara, tetangga, pemuda, hingga tokoh agama. Setelah dorongan terus berdatangan, Waindun akhirnya bersedia maju dalam pencalonan kepala Desa Sungapan.

Ia pun mengaku terharu ketika mengetahui warga secara sukarela ikut membantu kebutuhan pencalonannya.

“Warga patungan untuk membiayai kebutuhan logistik kampanye, mulai dari cetak spanduk hingga konsumsi saat pertemuan warga, saya terharu dan tidak menyangka akan mendapat dukungan se-militan ini dari warga, terutama semangat emak-emak tak mau ketinggalan,” ungkap Waindun.

Emak-emak Ikut Warnai Politik Desa

Aksi para ibu di Sungapan ini menjadi salah satu gambaran bagaimana keterlibatan masyarakat dalam politik desa bisa muncul dari berbagai bentuk.

Bagi para pendukung Waindun, dukungan yang diberikan bukan hanya soal memilih seseorang saat pemilihan kepala desa. Mereka juga ingin menunjukkan bahwa warga bisa ikut berpartisipasi sejak proses pencalonan berlangsung.

Apalagi, kaum perempuan yang sehari-hari sangat dekat dengan urusan keluarga dan kebutuhan rumah tangga tentu punya perhatian tersendiri terhadap berbagai persoalan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Namun, dalam setiap kontestasi politik, dukungan masyarakat tetap perlu berjalan secara bebas, sukarela, dan sesuai aturan yang berlaku. Patungan atau bantuan logistik juga tetap harus memperhatikan ketentuan penyelenggaraan pemilihan kepala desa agar tidak berubah menjadi praktik yang melanggar aturan.

Dari Toples Jajanan Jadi Simbol Kekompakan

Terlepas dari hasil akhir pemilihan nantinya, aksi ratusan emak-emak Sungapan ini sukses mencuri perhatian karena memperlihatkan kekompakan warga dengan cara yang cukup unik.

Mereka bukan cuma datang membawa semangat, tetapi juga membawa makanan, berkumpul bersama, dan menggalang dukungan dengan cara yang mereka klaim dilakukan secara sukarela.

Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan bahwa politik di tingkat desa bukan sekadar urusan kandidat dan tim pemenangan. Warga juga punya peran penting dalam menentukan seperti apa pemimpin yang mereka inginkan.

Pada akhirnya, pilihan masyarakat akan ditentukan melalui proses pemilihan yang berlaku. Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin Desa Sungapan tentu punya pekerjaan besar: membuktikan dukungan warga melalui kerja nyata, pelayanan yang baik, serta pembangunan desa yang benar-benar terasa manfaatnya.

Dan satu hal yang jelas, aksi emak-emak Sungapan sudah lebih dulu bikin suasana pencalonan kepala desa kali ini jadi perhatian. Dari patungan uang belanja sampai membawa toples jajanan, semangat gotong royong mereka sukses menjadi cerita tersendiri dari Pemalang.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Latest

August Dump 2026 Jadi Tren di Media Sosial, Simak Arti, Ide Lagu, hingga Caption yang Bisa Dipakai

Agustus akhirnya sampai di garis finish. Nggak terasa, 31 hari berlalu dengan segala macam cerita—mulai dari kerjaan, sekolah, kuliah,...

More Articles Like This

Favorite Post