Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 31 Januari 2026.
Kalender Liturgi hari Sabtu 31 Januari 2026 merupakan Hari Sabtu, Perayaan Wajib Yohanes Bosko, Imam, Santa Marcella, Martir, Santo Aidan, Uskup dan Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 31 Januari 2026:
Bacaan Pertama 2 Samuel 12:1-7a.10-17
“Daud mengaku telah berdosa kepada Tuhan.”
Pada waktu itu Daud melakukan yang jahat di hadapan Allah: ia mengambil isteri Uria menjadi isterinya; maka Tuhan mengutus Natan kepada Daud.
Natan datang kepada Daud dan berkata kepadanya, “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.
Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain seekor anak domba betina yang masih kecil, yang dibeli dan dipeliharanya.
Anak domba itu menjadi besar bersama dengan anak-anak si miskin, makan dari suapannya, minum dari cawannya, dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.
Pada suatu hari orang kaya itu mendapat tamu; ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing domba atau lembunya untuk dimasak bagi pengembara yang datang kepadanya itu.
Maka ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu.
Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan, “Demi Tuhan yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.
Anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena orang yang melakukan hal itu tidak kenal belas kasihan.”
Kemudian berkatalah Natan kepada Daud, “Engkaulah orang itu! Beginilah sabda Tuhan, Allah Israel: Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.
Beginilah sabda Tuhan:’Malapetaka yang datang dari kaum keluargamu sendiri akan Kutimpakan ke atasmu. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; dan orang itu akan tidur dengan isterimu di siang hari.
Engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.’ Lalu berkatalah Daud kepada Natan, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.”
Dan Natan berkata kepada Daud, “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati, karena dengan perbuatan itu engkau sangat menista Tuhan.”
Kemudian pergilah Natan, pulang ke rumahnya. Tuhan mencelakakan anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit.
Lalu Daud memohon kepada Allah bagi anak itu; ia berpuasa dengan tekun, dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman ia berbaring di tanah.
Maka datanglah para tua-tua yang ada di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi Daud tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 51:12-13.14-15.16-17
Ref. Ciptakanlah hati murni dalam diriku, ya Allah.
Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!
Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang durhaka, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.
Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah penyelamatku, maka lidahku akan memasyhurkan keadilan-Mu! Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu!
Bait Pengantar Injil Yohanes 13:16
Ref. Alleluya
Demikian besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal. Setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki hidup abadi.
Bacaan Injil Markus 4:35-41
“Angin dan danau pun taat kepada Yesus.”
Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah kita bertolak ke seberang.”
Mereka meninggalkan orang banyak yang ada di sana lalu bertolak, dan membawa Yesus dalam perahu itu di mana Ia telah duduk; dan perahu-perahu lain pun menyertai Dia.
Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”
Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau pun menjadi teduh sekali.
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapakah gerangan orang ini? Angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Sabtu 31 Januari 2026
Berhadapan dengan Bacaan Pertama dan Injil hari ini, kita seperti diajak masuk ke dua perahu yang berbeda, tetapi sebenarnya sedang berlayar di laut yang sama: laut kehidupan manusia yang rapuh, penuh godaan, rasa bersalah, ketakutan, dan juga harapan akan belas kasih Allah.
Dalam Bacaan Pertama, kita mendengar kisah Daud, seorang raja besar, pilihan Allah, tetapi juga manusia yang jatuh dalam dosa. Yang menarik, Daud tidak langsung sadar. Ia marah ketika mendengar kisah tentang ketidakadilan, tentang orang kaya yang merampas satu-satunya milik orang miskin. Hatinya tersentuh oleh cerita itu, tetapi ia tidak menyadari bahwa cerita itu adalah cermin dirinya sendiri. Betapa sering kita pun seperti Daud. Kita cepat tersentuh oleh kesalahan orang lain, cepat marah melihat ketidakadilan di luar diri kita, tetapi lambat, bahkan menolak, untuk mengakui dosa dan ketidakberesan dalam hati sendiri. Kita bisa aktif di gereja, terlihat baik, dihormati orang, tetapi diam-diam menyimpan sikap egois, keinginan menguasai, atau melukai sesama demi kenyamanan pribadi.
Ketika Nabi Natan berkata, “Engkaulah orang itu,” di situlah titik balik Daud. Ia tidak membela diri, tidak mencari alasan, tidak menyalahkan keadaan. Ia berkata sederhana namun jujur, “Aku telah berdosa kepada Tuhan.” Kalimat ini bukan sekadar pengakuan, tetapi sebuah keberanian untuk berdiri apa adanya di hadapan Allah. Allah tidak menutup mata terhadap akibat dosa, tetapi Allah juga tidak menutup hati-Nya. Dosa diampuni, relasi dipulihkan, meski luka dan konsekuensi tetap ada. Di sini kita belajar bahwa iman Kristiani bukan iman yang meniadakan realitas, melainkan iman yang berani menghadapi kebenaran dengan jujur karena percaya akan belas kasih Allah.
Injil hari ini membawa kita ke perahu lain, perahu para murid yang dihantam badai. Mereka sudah bersama Yesus, sudah mendengar ajaran-Nya, tetapi ketakutan tetap menguasai mereka. Yesus tertidur, dan mereka merasa ditinggalkan. Bukankah ini sangat manusiawi? Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa sudah berdoa, sudah berusaha hidup baik, tetapi masalah tetap datang: keluarga goyah, kesehatan terganggu, masa depan terasa gelap. Kita pun bertanya seperti para murid, “Tuhan, Engkau tidak peduli?”
Yesus bangun dan menenangkan badai, tetapi pertanyaan-Nya justru ditujukan kepada para murid: “Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Seolah Yesus berkata bahwa badai di luar tidak selalu menjadi masalah terbesar; badai di dalam hati, yaitu ketakutan dan ketidakpercayaan, sering kali jauh lebih berbahaya. Iman bukan berarti hidup tanpa badai, melainkan keberanian untuk tetap percaya bahwa Yesus ada di dalam perahu hidup kita, bahkan ketika Ia terasa diam.
Jika Bacaan Pertama mengajak kita jujur mengakui dosa, Injil mengajak kita jujur mengakui ketakutan. Keduanya bertemu pada satu hal: kerendahan hati di hadapan Allah. Daud jatuh dan mengaku. Murid-murid takut dan bertanya. Allah tidak menolak orang yang datang kepada-Nya dengan hati terbuka. Dalam kehidupan sehari-hari, iman dijalani bukan dengan menjadi sempurna, tetapi dengan terus kembali kepada Tuhan, mengakui kelemahan, dan mempercayakan hidup kepada-Nya. Di sanalah badai mulai reda, bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena hati menjadi tenang. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarilah kami rendah hati mengakui dosa dan berani percaya di tengah ketakutan. Saat hidup kami dilanda badai dan hati kami gelisah, tenangkanlah kami dengan kasih-Mu. Bentuklah hati yang jujur, setia, dan terbuka pada kehendak-Mu. Amin.
