Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Selasa 17 Februari 2026.
Kalender Liturgi hari Selasa 17 Februari 2026 merupakan Hari Selasa Biasa VI, Perayaan Fakultatif Ketujuh Saudara Suci Pendiri Tarekat Hamba-hamba SP. Maria, Santo Theodulus, Martir, Santo Bonfilio dkk, Pengaku Iman, Santo Silvinus, Pengaku Iman, Santo Nisephorus, Martir, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Selasa 17 Februari 2026:
Bacaan Pertama Yak. 1:12-18
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm: 94:12-13a.14-15.18-19
Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sampai digali lobang untuk orang fasik.
Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya; sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati.
Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.
Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.
Bacaan Injil Mrk. 8:14-21
“Awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”
Pada suatu hari murid-murid Yesus lupa membawa roti. Hanya sebuah roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya, “Berjaga-jaga dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”
Maka mereka berpikir-pikir, dan seorang berkata kepada yang lain, “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Ketika Yesus tahu, apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata, “Mengapa kalian memperbincangkan soal tidak ada roti?
Belum jugakah kalian memahami dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kalian mempunyai mata, tidakkah kalian melihat? Dan kalian mempunyai telinga, tidakkah kalian mendengar?
Sudah lupakah kalian waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti yang kalian kumpulkan?” Jawab mereka, “Dua belas bakul.”
Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti yang kalian kumpulkan?” Jawab mereka, “Tujuh bakul.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Masihkah kalian belum mengerti?”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Selasa 17 Februari 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Sabda Tuhan hari ini berbicara sangat jujur tentang pergulatan batin manusia. Yakobus mengatakan, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan.” Sekali lagi kita mendengar kata berbahagia dalam situasi yang tidak nyaman. Bukan bahagia karena pencobaannya, tetapi karena ia bertahan. Karena di dalam ketahanan itu, ada janji: mahkota kehidupan bagi mereka yang mengasihi Tuhan.
Namun Yakobus juga meluruskan satu hal penting: jangan pernah menyalahkan Allah atas pencobaan. Betapa sering, ketika kita jatuh dalam dosa atau terjerumus dalam kelemahan, kita berkata dalam hati, “Tuhan, mengapa Engkau biarkan ini terjadi?” Atau bahkan lebih jauh, seolah-olah Tuhan yang menjerumuskan kita. Yakobus tegas: Allah tidak mencobai siapa pun dengan yang jahat. Pencobaan sering lahir dari keinginan kita sendiri, dari hasrat yang tidak teratur, dari ambisi yang tidak terkendali.
Inilah kenyataan yang kadang sulit kita terima. Musuh terbesar sering bukan situasi di luar, tetapi dorongan di dalam diri. Keinginan yang awalnya kecil, jika terus dipelihara tanpa dikendalikan, bisa melahirkan dosa. Dan dosa yang dibiarkan bertumbuh, perlahan mematikan kepekaan hati, mematikan relasi, bahkan mematikan damai sejahtera dalam jiwa. Prosesnya halus. Tidak langsung besar. Seperti benih kecil yang lama-lama berakar kuat.
Karena itu Yakobus mengingatkan, jangan sesat. Jangan salah mengenali wajah Tuhan. Segala yang baik datang dari atas, dari Bapa segala terang. Tuhan bukan sumber kegelapan. Dia tidak berubah-ubah, tidak seperti bayangan yang berganti arah. Di dunia yang serba berubah—harga naik turun, relasi bisa retak, situasi politik dan ekonomi tidak menentu—Tuhan tetap sama dalam kasih dan kesetiaan-Nya.
Injil hari ini memperlihatkan satu bentuk pencobaan yang lebih halus lagi: ketidakpekaan hati. Murid-murid berada dalam perahu dan hanya memiliki satu roti. Mereka khawatir. Pikiran mereka langsung tertuju pada kekurangan. Lalu Yesus berbicara tentang “ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Tetapi murid-murid salah paham. Mereka mengira Yesus menegur mereka karena lupa membawa roti.
Yesus kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat menggugah: “Kalian mempunyai mata, tidakkah kalian melihat? Kalian mempunyai telinga, tidakkah kalian mendengar? Masihkah kalian belum mengerti?”
Mereka sudah menyaksikan mukjizat penggandaan roti. Mereka sendiri mengumpulkan sisa-sisanya: dua belas bakul, tujuh bakul. Mereka melihat kelimpahan yang mustahil menurut perhitungan manusia. Tetapi begitu menghadapi satu roti di perahu, mereka kembali takut. Mereka lupa.
Saudara-saudari, bukankah kita sering seperti itu? Kita pernah mengalami pertolongan Tuhan. Kita pernah selamat dari kesulitan. Kita pernah dikuatkan saat hampir menyerah. Tetapi ketika masalah baru datang, kita panik lagi, seolah-olah Tuhan belum pernah berbuat apa-apa dalam hidup kita. Kita memiliki “mata”, tetapi tidak sungguh melihat karya Tuhan dalam perjalanan kita sendiri.
Ragi yang diperingatkan Yesus adalah pengaruh yang diam-diam meresap dan mengubah seluruh adonan. Ragi Farisi bisa berupa kemunafikan, merasa diri paling benar. Ragi Herodes bisa berupa ambisi dan kompromi demi kekuasaan atau kenyamanan. Dalam kehidupan sekarang, ragi itu bisa berbentuk mentalitas materialistis, egoisme, atau sikap sinis yang perlahan membuat hati kita keras. Tidak terasa, tetapi memengaruhi cara berpikir dan bertindak.
Ketika hati menjadi keras, kita kehilangan kemampuan untuk mengingat kebaikan Tuhan. Kita fokus pada satu roti yang kurang, bukan pada dua belas bakul yang pernah kita kumpulkan. Kita sibuk menghitung kekurangan, bukan mensyukuri penyertaan.
Sabda hari ini mengajak kita untuk jujur melihat diri sendiri. Dari mana pencobaan dalam hidupku sering muncul? Apakah dari keinginan yang tidak terkendali? Apakah dari hati yang mudah lupa pada karya Tuhan? Dan apakah aku membiarkan “ragi” tertentu perlahan mengeraskan hatiku?
Tuhan tidak meninggalkan kita. Mazmur berkata, ketika aku berpikir kakiku goyang, kasih setia-Mu menyokong aku. Ketika pikiran dalam batin bertambah banyak, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. Ini pengalaman yang nyata. Di tengah kecemasan, Tuhan menopang. Di tengah kebingungan, Tuhan menghibur.
Semoga kita menjadi orang-orang yang tidak hanya melihat mukjizat, tetapi mengerti maknanya. Tidak hanya menerima roti, tetapi mengenali Dia yang memberikannya. Dan ketika pencobaan datang, kita tidak menyalahkan Tuhan, melainkan semakin melekat kepada-Nya dengan hati yang setia dan waspada. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, jagalah hati kami agar tidak keras dan mudah lupa akan kebaikan-Mu. Kuatkan kami saat pencobaan datang, dan beri kami kejujuran untuk melihat kelemahan diri. Jauhkan kami dari pengaruh yang menjauhkan kami dari-Mu, dan tuntun kami hidup dalam terang dan kesetiaan-Mu setiap hari. Amin.
