Thursday, February 12, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Senin 16 Februari 2026 Markus 8:11-13 dan Renungan Harian Katolik

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 16 Februari 2026.

Kalender Liturgi hari Senin 16 Februari 2026 merupakan Hari Senin Biasa VI, Onesimus, Pelayan Filemon, Martir, Santo Porforios, Martir, dengan Warna Liturgi Hijau.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 16 Februari 2026:

Bacaan Pertama: Yak. 1:1-11

Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat,

hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit?, maka hal itu akan diberikan kepadanya.

Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi, dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.

Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya.

Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:67.68.71.72.75.76

Reff: Semoga rahmat-Mu sampai kepadaku, ya Tuhan, supaya aku hidup.

Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.

Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.

Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.

Aku tahu, ya TUHAN, bahwa hukum-hukum-Mu adil, dan bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan.

Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku, sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.

Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6

Reff: Alleluya

Aku ini jalan, kebenaran dan kehidupan, sabda Tuhan. Tiada orang dapat sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku.

Bacaan Injil: Mrk. 8:11-13

“Mengapa angkatan ini meminta tanda?”

Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari surga.

Maka mengeluhlah Yesus dalam hati dan berkata, “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sungguh, kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberikan tanda.”

Lalu Yesus meninggalkan mereka. Ia naik ke perahu dan bertolak ke seberang.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Senin 16 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Surat Yakobus hari ini menyapa kita dengan sangat jujur, bahkan keras. “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Kalimat ini terdengar hampir tidak masuk akal. Siapa di antara kita yang bahagia ketika sakit, ketika usaha menurun, ketika keluarga tidak rukun, ketika doa terasa tidak dijawab? Namun justru di situlah Sabda Tuhan mau membawa kita masuk lebih dalam: iman yang dewasa tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari ketekunan yang ditempa oleh kenyataan hidup.

Yakobus tidak sedang mengajarkan kita untuk mencari-cari penderitaan. Ia berbicara tentang cara memandangnya. Pencobaan menguji iman, dan ujian itu menghasilkan ketekunan. Ketekunan inilah yang membuat kita “sempurna dan utuh”, tidak gampang goyah. Kita hidup di zaman yang serba cepat, serba instan. Kita ingin hasil segera, jawaban segera, kepastian segera. Tetapi Tuhan bekerja dalam proses. Seperti benih yang tidak langsung menjadi pohon, demikian pula iman kita bertumbuh perlahan, sering kali melalui air mata.

Yakobus juga mengingatkan tentang hikmat. Kalau kita kekurangan hikmat, mintalah kepada Allah. Betapa sering kita meminta banyak hal kepada Tuhan—rezeki, kesehatan, keberhasilan—tetapi jarang meminta hikmat. Padahal yang kita butuhkan dalam menghadapi masalah bukan selalu perubahan situasi, melainkan kebijaksanaan untuk bersikap benar di dalam situasi itu. Hikmat membuat kita tidak reaktif, tidak mudah marah, tidak mudah putus asa. Hikmat membuat kita mampu melihat bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan ketika jalan terasa gelap.

Lalu Yakobus berbicara tentang hati yang bimbang. Orang yang mendua hati seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan angin. Gambaran ini sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Kita mudah terombang-ambing oleh opini, oleh berita, oleh komentar orang lain, oleh tren media sosial. Hari ini percaya, besok ragu. Hari ini berdoa dengan semangat, besok merasa Tuhan jauh. Hati yang tidak teguh membuat hidup tidak tenang. Bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena fondasinya tidak kokoh.

Dan tentang kaya dan miskin, Yakobus mengingatkan bahwa semua akan berlalu seperti bunga rumput yang layu oleh panas matahari. Kekayaan, jabatan, popularitas—semuanya fana. Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meluruskan arah hati. Jika kita terlalu menggantungkan harga diri pada harta dan keberhasilan, kita akan rapuh ketika semuanya berubah. Tetapi jika kita berakar pada Tuhan, bahkan dalam keadaan rendah sekalipun, kita memiliki martabat yang tinggi di hadapan-Nya.

Injil hari ini memperlihatkan sikap yang kontras. Orang-orang Farisi datang kepada Yesus dan meminta tanda dari surga. Mereka ingin bukti yang spektakuler. Mereka tidak datang dengan hati yang terbuka, melainkan untuk mencobai. Dan Yesus mengeluh dalam hati. Bayangkan, Tuhan sendiri mengeluh. Bukan karena Ia tidak mampu memberi tanda, tetapi karena hati mereka tertutup.

Berapa kali kita juga seperti itu? Kita berkata, “Tuhan, kalau Engkau sungguh ada, berikan aku tanda.” Kita ingin mujizat yang jelas, jawaban yang langsung, kepastian yang tidak menyisakan ruang bagi iman. Padahal dalam hidup sehari-hari, Tuhan sudah begitu banyak memberi tanda: dalam keluarga yang tetap bertahan, dalam teman yang peduli, dalam kekuatan untuk bangun lagi setelah jatuh, dalam kesempatan baru setelah kegagalan. Namun sering kali kita tidak melihatnya, karena kita mencari tanda yang sesuai dengan keinginan kita, bukan tanda yang Tuhan berikan.

Yesus akhirnya naik ke perahu dan pergi. Ada kesunyian di sana. Seolah-olah Tuhan berkata: jika hatimu tertutup, sebanyak apa pun tanda tidak akan cukup. Iman bukan soal melihat yang luar biasa, melainkan mempercayai dalam keseharian yang biasa. Iman adalah tetap setia meskipun tidak ada tepuk tangan, tetap jujur meskipun tidak diawasi, tetap berdoa meskipun belum melihat hasilnya.

Saudara-saudari, Sabda hari ini mengajak kita untuk berhenti menuntut tanda dan mulai membangun ketekunan. Berhenti bimbang dan mulai memohon hikmat. Berhenti menggantungkan diri pada yang fana dan mulai berakar pada yang kekal. Mungkin hidup kita tidak bebas dari pencobaan, tetapi kita tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan tidak selalu memberi tanda dari langit, tetapi Ia selalu hadir dalam perahu kehidupan kita, bahkan ketika angin terasa kencang.

Semoga kita menjadi pribadi yang tidak mendua hati, yang tidak hanya mencari Tuhan saat butuh bukti, tetapi yang setia dalam keheningan. Karena justru dalam kesetiaan yang sederhana itulah iman kita dimurnikan dan hidup kita perlahan-lahan diubah. Amin.

Doa Penutup

Tuhan, ajarilah kami setia dalam pencobaan, teguh dalam iman, dan rendah hati dalam keberhasilan. Berilah kami hikmat menghadapi hidup yang tidak selalu mudah. Bukalah mata kami agar mengenali kehadiran-Mu setiap hari, dan kuatkan hati kami agar tidak mudah bimbang. Amin.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Promo Guardian Terbaru Super Hemat 12–18 Februari 2026, Tambah Rp1000 Langsung Dapat Dua Produk

Buat lo yang doyan stock up skincare, bodycare, sampe haircare, sini merapat karena Promo Guardian Super Hemat periode 5–18...

More Articles Like This

Favorite Post