Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 23 Februari 2026.
Kalender Liturgi hari Senin 23 Februari 2026 merupakan HARI SENIN PRAPASKAH I, Perayaan fakultatif Santo Polikarpus, Uskup dan Martir, Santo Willigis, Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 23 Februari 2026:
Bacaan Pertama Imamat 19:1-2.11-18
“Engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran.”
Tuhan berfirman kepada Musa, “Berbicaralah kepada segenap jemaat Israel, dan katakan kepada mereka: Kuduskanlah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus. Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah berdusta seorang kepada sesamanya.
Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah Tuhan. Janganlah engkau memeras sesamamu manusia, dan janganlah merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.
Janganlah kaukutuki orang tuli, dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan; engkau harus takut akan Allahmu; Akulah Tuhan. Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan;
janganlah membela orang kecil secara tidak wajar, dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran.
Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah Tuhan.
Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hati, tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu, dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.
Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm. 19:8,9,10,15
Ref. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah Roh dan kehidupan.
Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati, perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.
Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.
Mudah-mudahan Engkau sudi mendengarkan ucapan mulutku dan berkenan akan renungan hatiku, ya Tuhan, Gunung Batu dan penebusku.
Bait Pengantar Injil 2 Korintus 6:2b
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Waktu ini adalah waktu perkenanan, hari ini adalah hari penyelamatan!
Bacaan Injil Matius 25:31-46
“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan dan semua malaikat datang bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing; Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya, dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
Maka orang-orang benar itu akan bertanya kepada-Nya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Maka Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Dan ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal, yang telah disediakan untuk iblis dan malaikat-malaikatnya.
Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
Lalu mereka pun akan bertanya kepada-Nya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar masuk ke dalam hidup yang kekal.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Senin 23 Februari 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini Sabda Tuhan dari Kitab Kitab Imamat dan Injil menurut Injil Matius berbicara sangat jelas, tegas, bahkan terasa keras di telinga kita. Namun justru di situlah kasih Tuhan dinyatakan. Ia tidak berbicara dengan samar-samar. Ia tidak membiarkan kita berjalan tanpa arah. Ia menunjukkan jalan kekudusan yang nyata dan bisa dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Bacaan Pertama kita mendengar perintah Tuhan: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Kekudusan yang dimaksud bukan pertama-tama soal hal-hal yang spektakuler atau rohani yang terlihat besar. Kekudusan itu justru sangat membumi: jangan mencuri, jangan berbohong, jangan memeras, jangan menahan upah pekerja, jangan menyebarkan fitnah, jangan menyimpan dendam. Tuhan seakan berkata: kekudusan dimulai dari cara kita memperlakukan orang lain.
Betapa relevannya Sabda ini hari ini. Kita hidup di zaman di mana kebohongan bisa dibungkus rapi, fitnah bisa menyebar hanya dengan satu sentuhan jari, dan orang bisa dihakimi tanpa pernah sungguh mengenal kebenaran. “Engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran.” Artinya, kita dipanggil untuk adil, jujur, dan tidak memihak hanya karena suka atau tidak suka. Tuhan menolak ketidakadilan, entah itu karena membela yang kuat demi keuntungan, atau membenarkan yang salah hanya karena kasihan. Kebenaran tetap kebenaran.
Lalu dalam Injil, Yesus membawa kita lebih dalam lagi. Dalam gambaran pengadilan terakhir, Ia tidak bertanya berapa kali kita berdoa, seberapa aktif kita di lingkungan, atau seberapa banyak kita tahu tentang ajaran iman. Ia bertanya: apakah engkau memberi makan yang lapar? Apakah engkau mengunjungi yang sakit? Apakah engkau peduli pada yang terasing?
Yesus begitu radikal sampai berkata, “Apa yang kamu lakukan untuk yang paling hina, kamu melakukannya untuk Aku.” Ini kalimat yang sangat dalam. Artinya, Tuhan tidak jauh. Ia tidak hanya hadir di altar, tidak hanya dalam doa-doa indah kita. Ia hadir dalam wajah orang yang lelah, dalam tetangga yang kesepian, dalam rekan kerja yang sedang jatuh, dalam anggota keluarga yang sulit kita pahami.
Sering kali kita merasa tidak pernah melihat Tuhan secara langsung. Tetapi Injil hari ini menegur kita dengan lembut: engkau sebenarnya melihat Dia setiap hari. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan hadir, melainkan apakah hati kita cukup peka untuk mengenali-Nya dalam sesama.
Bacaan Imamat berbicara tentang jangan membenci dalam hati, jangan menyimpan dendam, tetapi kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Injil menegaskan bahwa kasih itu bukan perasaan, melainkan tindakan nyata. Kasih yang memberi waktu. Kasih yang berani mengalah. Kasih yang tetap berbuat baik meski tidak dipuji. Kasih yang tidak menunggu dibalas.
Saudara-saudari, ukuran iman kita bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi bagaimana kita hidup. Tuhan tidak menuntut hal yang mustahil. Ia meminta hal-hal sederhana, namun konsisten: jujur dalam pekerjaan, adil dalam keputusan, tidak menyebarkan kebencian, tidak memeras yang lemah, peduli pada yang membutuhkan.
Di dunia yang sering keras dan penuh persaingan, Sabda hari ini mengajak kita menjadi manusia yang lebih manusiawi. Kekudusan bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan menghadirkan wajah Tuhan di tengah dunia. Dan pada akhirnya, saat kita berdiri di hadapan-Nya, yang dinilai bukan besar kecilnya pencapaian, melainkan apakah kita sungguh mengasihi.
Semoga kita tidak menunggu saat pengadilan terakhir untuk menyadari bahwa setiap kesempatan berbuat baik adalah kesempatan berjumpa dengan Tuhan sendiri. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, ajarilah kami melihat Engkau dalam setiap sesama. Lembutkan hati kami agar peka terhadap yang membutuhkan, dan kuatkan kami untuk berlaku jujur, adil, serta penuh kasih dalam hidup sehari-hari. Jadikan kami pembawa terang-Mu di tengah dunia yang haus akan kebaikan dan kebenaran. Amin.
