Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 1 Maret 2026.
Kalender Liturgi hari Minggu 1 Maret 2026 merupakan HARI MINGGU PRAPASKAH II, Santo Felix III (II), Paus, Santo David, Pengaku Iman, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 1 Maret 2026:
Bacaan Pertama Kejadian 12:1-4a
“Panggilan Abraham, bapa Umat Allah.”
Di negeri Haran Tuhan bersabda kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau.
Dan segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau.” Maka berangkatlah Abram sesuai dengan sabda Tuhan.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm. 33:4-5.18-19.20.22
Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.
Firman itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita, kasih setia-Mu ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
Bacaan Kedua 2 Timotius 1:8b-10
“Allah memanggil kita dan mendatangkan hidup.”
Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus! Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri.Alkitab digital
Semua ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Bait Pengantar Injil Markus 9:6
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Dari awan terdengarlah suara Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”
Bacaan Injil Matius 17:1-9
“Wajah-Nya bercahaya seperti matahari.”
Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi.
Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka: Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.
Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”
Sementara Petrus berkata begitu, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka, dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus dan mereka sangat ketakutan.
Lalu Yesus datang kepada mereka. Ia menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.
Pada waktu mereka turun dari gunung, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Minggu 1 Maret 2026
Saudara-saudari terkasih,
Pada Hari Minggu Prapaskah II ini, Gereja mengajak kita berjalan lebih dalam bersama Tuhan. Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Kejadian, kita mendengar panggilan Tuhan kepada Abram. Ia diminta meninggalkan tanah kelahirannya, keluarganya, rasa amannya, dan pergi ke negeri yang belum ia kenal. Tidak ada peta, tidak ada kepastian, hanya janji Tuhan. Namun Abram berangkat. Ia percaya bukan karena ia mengerti segalanya, tetapi karena ia mengenal siapa yang memanggilnya.
Kisah itu bukan sekadar cerita masa lampau. Di zaman sekarang pun, kita sering berada di “Haran” kita masing-masing. Kita nyaman dengan rutinitas, pekerjaan, relasi, bahkan kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya tidak lagi menumbuhkan iman. Namun Tuhan selalu memanggil: tinggalkanlah yang membuatmu tidak berkembang, melangkahlah menuju kedewasaan rohani. Panggilan itu bisa berupa keberanian untuk mengampuni, memulai kembali relasi yang retak, meninggalkan kebiasaan dosa, atau mengambil keputusan jujur di tengah godaan kompromi.
Dalam Bacaan Kedua, Rasul Paulus mengingatkan Timotius bahwa kita diselamatkan dan dipanggil bukan karena jasa kita, melainkan karena kasih karunia Allah. Betapa sering manusia modern merasa dirinya harus sempurna dulu agar layak di hadapan Tuhan. Kita hidup di dunia yang menilai berdasarkan prestasi, pencapaian, dan citra. Namun Injil berbicara sebaliknya: sebelum kita melakukan apa pun, kita sudah dikasihi. Panggilan Tuhan bukan hadiah atas keberhasilan kita, melainkan undangan untuk bertumbuh dalam kasih-Nya.
Lalu dalam Injil menurut Injil Matius, kita menyaksikan peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Para murid melihat kemuliaan yang selama ini tersembunyi dalam keseharian Sang Guru. Mereka terpukau. Petrus bahkan ingin mendirikan kemah, ingin tinggal di sana, mempertahankan momen indah itu. Siapa di antara kita yang tidak pernah ingin “tinggal di gunung”? Tinggal dalam pengalaman doa yang menggetarkan, dalam suasana retret yang damai, dalam momen ketika semuanya terasa jelas dan penuh harapan.
Namun hidup tidak berhenti di puncak gunung. Yesus membawa mereka turun kembali. Sebab iman bukan hanya soal mengalami terang, tetapi juga setia berjalan di lembah kehidupan. Kita hidup di dunia yang penuh tekanan: tuntutan ekonomi, kecemasan akan masa depan, relasi yang rumit, berita-berita yang melelahkan hati. Dalam situasi seperti itu, kita mungkin jarang melihat wajah Tuhan yang bercahaya. Yang kita lihat justru masalah yang seolah tidak ada habisnya.
Di sinilah makna terdalam peristiwa ini: kemuliaan Kristus bukan untuk melarikan kita dari realitas, tetapi untuk menguatkan kita menghadapinya. Suara dari awan berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Bukan sekadar kagumi Dia. Bukan sekadar bangga menjadi pengikut-Nya. Tetapi dengarkanlah Dia. Mendengarkan berarti memberi ruang dalam hati, membiarkan sabda-Nya membentuk cara berpikir kita, cara kita memperlakukan pasangan, anak, orang tua, rekan kerja, bahkan orang yang tidak kita sukai.
Sering kali kita lebih mendengarkan suara ketakutan, suara gengsi, suara amarah, atau suara media sosial yang begitu bising. Akibatnya hati kita mudah gelisah dan kehilangan arah. Ketika murid-murid tersungkur karena takut, Yesus mendekat, menyentuh mereka, dan berkata, “Berdirilah, jangan takut.” Sentuhan itu sangat manusiawi. Tuhan tidak hanya berbicara dari awan, Ia juga menyentuh. Ia tahu kita rapuh. Ia tahu kita kadang lelah menjadi orang baik. Ia tahu kita sering gagal.
Prapaskah adalah perjalanan naik gunung bersama Yesus, supaya kita melihat kembali siapa Dia sebenarnya dan siapa kita di hadapan-Nya. Kita diingatkan bahwa di balik salib ada kebangkitan, di balik kegelapan ada terang. Tetapi jalan menuju terang itu melewati kesetiaan sehari-hari: doa yang sederhana, keputusan jujur, kesabaran menghadapi orang yang sulit, keberanian mengakui kesalahan.
Seperti Abram, kita diminta melangkah. Seperti Timotius, kita diminta setia dalam panggilan. Seperti Petrus dan para murid, kita diajak mendengarkan dan tidak takut. Kemuliaan Tuhan bukan dongeng yang jauh dari realitas, melainkan kekuatan yang membuat kita sanggup menjalani realitas dengan harapan.
Saudara-saudari, mungkin hari ini hidup kita tidak sedang bercahaya seperti di atas gunung. Mungkin yang ada justru awan tebal dan ketidakpastian. Namun percayalah, di dalam awan itu tetap ada suara Bapa. Dan ketika kita merasa tersungkur, Kristus tetap datang, menyentuh, dan berkata dengan lembut: berdirilah, jangan takut. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, kuatkan kami melangkah dalam terang-Mu saat hidup terasa gelap dan membingungkan. Ajari kami mendengarkan sabda-Mu di tengah hiruk pikuk dunia. Beri kami keberanian meninggalkan yang salah dan setia pada panggilan-Mu, agar hidup kami menjadi berkat nyata bagi sesama setiap hari. Amin.
