Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 2 Maret 2026.
Kalender Liturgi hari Senin 2 Maret 2026 merupakan HARI SENIN PEKAN II PRAPASKAH, Santo Simplisius, Paus dan Martir, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 2 Maret 2026:
Bacaan Pertama: Dan. 9:4b-10
Ah, Tuhan, Allah yang Mahabesar dan dahsyat, yang memegang perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu, kami telah berbuat dosa dan salah;Alkitab digital
kami telah berlaku fasik dan telah memberontak; kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu. Kami pun tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri.
Ya Tuhan, Engkaulah yang benar! Patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem, dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri ke mana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad kepada Engkau.
Ya Tuhan, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau.
Pada Tuhan, Allah kami, ada belas kasih dan pengampunan, walaupun telah memberontak terhadap Dia, dan tidak mendengarkan suara Tuhan, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8.9.11.13
Ref. Tuhan tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita.
Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang! Kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemahlah kami.
Demi kemuliaan-Mu, tolonglah kami, ya Tuhan penyelamat! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami, oleh karena nama-Mu!
Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh.
Maka kami, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian bagi-Mu turun temurun.
Bait Pengantar Injil: Yoh 6:64b.69b
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Engkau mempunyai sabda kehidupan kekal.
Bacaan Injil: Lukas 6:36-38
“Ampunilah, dan kamu akan diampuni.”
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi.
Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.
Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Senin 2 Maret 2026
Saudara-saudari terkasih,
Pada hari Senin Pekan II Prapaskah ini, ketika Gereja mengenang Santo Simplisius, Paus dan Martir, Sabda Tuhan mengantar kita masuk ke dalam ruang batin yang paling dalam: ruang kejujuran dan belas kasih. Bacaan dari Kitab Daniel memperlihatkan doa pengakuan dosa yang begitu jujur. Daniel tidak menyalahkan keadaan, tidak menunjuk orang lain sebagai biang keladi. Ia berkata, “Kami telah berbuat dosa.” Ia berdiri di hadapan Allah bukan sebagai hakim, tetapi sebagai seorang yang sadar diri.
Sering kali dalam kehidupan sekarang ini, kita begitu mudah menjelaskan kesalahan kita dengan alasan: keadaan memaksa, orang lain memulai duluan, situasi tidak mendukung. Kita hidup di zaman di mana opini begitu cepat dibagikan, komentar begitu ringan diucapkan, dan penilaian begitu gampang dijatuhkan. Namun di hadapan Tuhan, semua topeng itu runtuh. Yang tersisa hanyalah hati yang rapuh dan membutuhkan belas kasih.
Daniel menyadari bahwa pada Tuhan ada pengampunan. Ini penting. Pengakuan dosa bukanlah sikap rendah diri yang putus asa, melainkan keberanian untuk percaya bahwa kasih Allah lebih besar daripada kegagalan kita. Di tengah kesibukan, tekanan ekonomi, tuntutan sekolah, pekerjaan, dan relasi yang tidak selalu mudah, kita pun sering jatuh: dalam amarah, iri hati, egoisme, atau sikap tidak peduli. Tetapi Sabda hari ini mengingatkan, Tuhan tidak berhenti menjadi penuh belas kasih.
Lalu dalam Injil menurut Injil Lukas, Yesus memberikan ukuran hidup yang sangat jelas: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Ini bukan sekadar ajakan untuk bersikap baik. Ini adalah panggilan untuk meniru hati Allah sendiri.
Yesus tahu kecenderungan manusia untuk menghakimi. Kita sering merasa lebih benar, lebih suci, lebih tahu. Kita mengukur orang lain dengan standar keras, tetapi mengukur diri sendiri dengan standar yang lunak. Kita cepat memberi label pada orang: malas, keras kepala, tidak tahu diri. Kita bahkan bisa mengingat kesalahan orang bertahun-tahun lamanya. Padahal kita sendiri berharap kesalahan kita segera dilupakan.
“Ampunilah, dan kamu akan diampuni.” Kalimat ini sederhana, tetapi sangat menantang. Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan. Mengampuni berarti melepaskan beban dendam yang diam-diam menggerogoti hati kita sendiri. Dalam keluarga, mungkin ada luka karena kata-kata yang menyakitkan. Dalam pertemanan, ada kekecewaan karena dikhianati. Dalam pekerjaan, ada rasa tidak dihargai. Jika semua itu kita simpan tanpa pengampunan, hati kita menjadi sempit.
Yesus berbicara tentang takaran yang dipadatkan, digoncang, dan tumpah ke luar. Artinya, hidup rohani tidak pernah berhenti pada hitung-hitungan minimal. Kalau kita hanya memberi sedikit kebaikan, sedikit pengertian, sedikit waktu untuk mendengarkan, maka hidup kita pun akan terasa sempit. Tetapi kalau kita berani memberi lebih—lebih sabar, lebih peduli, lebih murah hati—kita akan mengalami bahwa Tuhan mengisi hidup kita dengan cara yang tak terduga.
Prapaskah adalah masa untuk memperbaiki “ukuran” yang kita pakai. Apakah ukuran kita adalah ego atau belas kasih? Apakah kita lebih sering menghakimi atau memahami? Apakah kita lebih cepat menuntut atau lebih dulu memberi?
Saudara-saudari, dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan orang yang berbelas kasih. Di tengah kerasnya persaingan dan dinginnya sikap acuh tak acuh, hati yang mengampuni menjadi tanda kehadiran Allah. Ketika kita berhenti menghakimi dan mulai memahami, di situlah Kerajaan Allah mulai nyata—bukan di tempat jauh, tetapi di rumah kita, di sekolah, di kantor, di lingkungan sekitar.
Marilah kita belajar seperti Daniel, berani mengakui dosa, dan seperti Yesus, berani mengampuni. Sebab ukuran yang kita pakai hari ini akan menjadi ukuran yang kembali kepada kita. Dan Tuhan rindu agar kita hidup dalam kelimpahan kasih, bukan dalam sempitnya penghakiman. Amin.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh belas kasih, ajarilah kami rendah hati mengakui dosa dan tulus mengampuni sesama. Lunakkan hati kami yang keras, jauhkan kami dari sikap menghakimi. Mampukan kami menjadi pembawa damai dalam keluarga dan pekerjaan, agar hidup kami memancarkan kasih-Mu setiap hari. Amin.
