Sudah masuk minggu kedua Januari 2026 nih, vibe di kantor bagian keuangan, HRD, sama payroll lagi tegang abis. Bukan gara-gara target jualan, tapi karena satu hal yang wajib banget tiap tahun: lapor SPT PPh 21 buat bulan Desember 2025.
Desember itu bukan cuma penutup tahun, tapi juga bulan rekonsiliasi super penting. Di sini ketahuan deh selama Januari-November pajak karyawan udah pas, kurang, atau malah kebanyakan potong.
Tahun 2026 ini tambah ribet karena semua orang harus pakai Core Tax Administration System alias Coretax dari DJP. Sistem baru ini bikin aturan agak berbeda, kayak:
- Bukti potong masa Desember gak perlu diterbitin
- Validasi NIK lebih ketat
- Format impor data berubah
Supaya gak nyasar di Coretax, yuk simak panduan lengkapnya dari awal sampai akhir.
Yang wajib diingat, batas lapor SPT PPh 21 Desember 2025 paling lambat tanggal 20 Januari 2026. Jangan salah kaprah, gengs. Status “Nihil” itu bukan berarti bebas lapor. Walaupun gak ada gaji atau pajak Desember, tetap harus lapor biar aman dari sanksi DJP.
Perbedaan Besar Coretax Desember
Kalau Januari-November tiap bulan ada bukti potong, Desember beda cerita. Buat bulan terakhir, gak perlu bikin bukti potong lagi. Cukup bikin Bukti Potong Tahunan:
- BPA1: Pegawai tetap & pensiunan swasta
- BPA2: ASN, TNI/Polri, pejabat negara & pensiunan
Jadi fokus bulan ini: bikin BPA1/BPA2 yang nge-recap penghasilan + pajak setahun penuh.
Memahami Perhitungan Disetahunkan (Annualized)
Di Coretax bakal ada opsi pemotongan:
- FullYear: Setahun penuh
- PartialYear: Kurang dari setahun
- Annualized: Kurang dari setahun tapi disetahunkan
Opsi Annualized dipake kalau ada pegawai yang status pajaknya berubah di tengah tahun:
- Pegawai asing baru jadi SPDN setelah Januari
- Pegawai asing cabut dari Indonesia sebelum Desember
Kalau cuma pegawai lokal baru masuk kerja tengah tahun tapi udah punya NPWP/NIK, gak otomatis annualized, tapi ikut aturan pegawai tetap.
Langkah Kerja Pelaporan Coretax
Step A: Bersihin Data Identitas
Pastikan gak ada pegawai pakai NIK sementara/dummy. Kalau masih ada di Januari-November, langsung betulin biar BPA1/BPA2 bisa diterbitin.
Step B: Bikin Bukti Potong Tahunan BPA1/BPA2
Masukin semua komponen penghasilan: gaji, tunjangan, bonus, THR. Pastikan angka final akurat banget.
Step C: Cek Posisi Akhir
- Nihil: Pajak setahun sama dengan yang udah dipotong, aman
- Kurang Bayar: Terutang lebih gede dari potongan Jan-Nov, selisih dipotong dari gaji Desember
- Lebih Bayar (LB): Potongan Jan-Nov lebih gede dari terutang, kelebihan harus dikembalikan ke pegawai paling lambat 31 Januari 2026. Bisa juga di-net-off sama pajak pegawai lain biar setoran ke negara lebih kecil
Step D: Submit SPT Masa Desember
Setelah semua beres, cek ringkasan, bayar kalau kurang, terus klik lapor.
Tips Impor Data Massal
Buat kantor dengan ratusan pegawai, fitur impor data di Coretax lifesaver banget. Formatnya XML, pakai template + converter resmi DJP:
- Isi data di sheet DATA Excel
- Cek kode referensi di sheet REF
- Ekspor ke XML lewat menu Developer
- Pastikan NPWP, NITKU, Kode Objek Pajak valid biar gak gagal
Pelaporan PPh 21 Desember 2025 di Coretax wajib pakai Bukti Potong Tahunan BPA1/BPA2, bukan bukti potong bulanan biasa. Jangan lupa validasi NIK dan pilih metode perhitungan yang sesuai: FullYear atau Annualized sesuai kondisi pegawai.
