Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 28 Februari 2026.
Kalender Liturgi hari Sabtu 28 Februari 2026 merupakan HARI SABTU PEKAN I PRAPASKAH, Santa Antonia, Abbas, Santo Hilarius, Paus, dengan Warna Liturgi Ungu.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 28 Februari 2026:
Bacaan Pertama Ulangan 26:16-19
“Engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu.”
Di padang gurun seberang Sungai Yordan Musa berbicara kepada bangsanya, “Pada hari ini Tuhan, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu.
Pada hari ini engkau telah menerima janji dari Tuhan: Ia akan menjadi Allahmu, dan engkau pun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya.
Dan pada hari ini pula Tuhan telah menerima janji dari padamu bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya.
Ia pun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa seperti telah dijanjikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm. 119:1-2.4-5.7-8
Ref. Berbahagialah orang yang hidup menurut Taurat Tuhan.
Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.
Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sunguh. Kiranya hidupku mantap untuk berpegang pada ketetapan-Mu!
Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali.
Bait Pengantar Injil 2 Korintus 6:2b
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Waktu ini adalah waktu perkenanan. Hari ini adalah hari penyelamatan.
Bacaan Injil Matius 5:43-48
“Haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.”
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang-orang yang jahat dan bagi orang yang baik pula, hujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan juga orang yang tidak benar.
Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?
Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Sabtu 28 Februari 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pada hari Sabtu Pekan I Prapaskah ini, di tengah suasana pertobatan yang ditandai warna ungu, Sabda Tuhan mengajak kita masuk lebih dalam ke dalam hati Allah sendiri. Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Ulangan, Musa berbicara kepada bangsa Israel sebelum mereka memasuki tanah terjanji. Ia menegaskan sebuah perjanjian: Tuhan akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat kesayangan-Nya, umat yang kudus. Bukan karena mereka paling kuat atau paling sempurna, tetapi karena mereka mau hidup setia, dengan segenap hati dan segenap jiwa.
Menjadi umat yang kudus berarti hidup berbeda. Bukan berbeda dalam arti merasa lebih suci dari orang lain, tetapi berbeda karena cara kita mengasihi, cara kita bersikap, cara kita mengambil keputusan. Kekudusan bukan soal penampilan luar, melainkan kesetiaan sehari-hari: jujur ketika tidak ada yang melihat, tetap sabar ketika disalahpahami, tetap berbuat baik ketika hati terluka.
Lalu dalam Injil menurut Injil Matius, Yesus membawa kita melangkah lebih jauh. Ia berkata, “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Sabda ini terasa sangat berat. Dalam hidup nyata, kita tahu betapa sulitnya mengasihi orang yang menyakiti kita. Kita hidup di zaman yang mudah sekali memecah-belah: perbedaan pendapat menjadi permusuhan, kritik dibalas dengan kebencian, media sosial dipenuhi kata-kata yang melukai.
Namun Yesus tidak berbicara tentang perasaan semata. Ia berbicara tentang keputusan. Mengasihi musuh bukan berarti menyetujui kesalahannya. Bukan berarti membiarkan diri diperlakukan tidak adil tanpa batas. Mengasihi berarti tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita. Mengasihi berarti memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Mengasihi berarti tetap mendoakan, tetap berharap yang baik, meski hati kita sedang terluka.
Yesus memberi alasannya: karena Bapa di surga menerbitkan matahari bagi orang baik dan orang jahat. Allah tidak memilih-milih dalam mencurahkan kasih-Nya. Ia setia bahkan ketika manusia tidak setia. Di sinilah kita mengerti apa arti “sempurna” seperti Bapa. Kesempurnaan yang dimaksud Yesus bukanlah tanpa cacat, melainkan utuh dalam kasih. Kasih yang tidak terbatas pada kelompok sendiri. Kasih yang melampaui hitung-hitungan untung rugi.
Dalam kehidupan sekarang, kita sering terjebak dalam pola “asal adil menurut versiku”. Kita mudah berkata, “Dia duluan yang salah.” Tetapi Sabda hari ini menantang kita: apakah kita berani menjadi anak-anak Bapa, bukan hanya orang yang sekadar baik kepada yang baik kepada kita? Jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, apa bedanya hidup kita dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan?
Prapaskah adalah waktu untuk memeriksa hati. Apakah ada nama yang sulit kita ampuni? Apakah ada luka yang masih kita pelihara? Mungkin kita tidak bisa langsung merasa damai. Tetapi kita bisa mulai dengan doa sederhana: “Tuhan, aku belum mampu mengasihi, tetapi ajarilah aku.” Dan dari doa itu, pelan-pelan hati kita dibentuk.
Bacaan dari Ulangan mengingatkan bahwa kita adalah umat kesayangan Tuhan. Injil mengingatkan bahwa sebagai umat kesayangan, kita dipanggil untuk mencerminkan wajah Bapa. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan orang kuat. Tetapi dunia sangat kekurangan orang yang sungguh-sungguh mengasihi tanpa syarat.
Semoga melalui Ekaristi dan Sabda hari ini, kita diteguhkan untuk berjalan dalam kekudusan yang nyata: setia, sabar, dan berani mengasihi bahkan ketika itu sulit. Karena justru di situlah kita sungguh menjadi anak-anak Allah. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, ajar kami mengasihi seperti Engkau mengasihi, terutama saat hati kami terluka dan sulit mengampuni. Lembutkan hati kami yang keras, kuatkan kami untuk setia dalam kebaikan, dan jadikan hidup kami tanda kasih-Mu di tengah dunia yang haus akan damai. Amin.
