Monday, February 23, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Selasa 24 Februari 2026 dan Renungan Harian Katolik, HARI SELASA PEKAN I PRAPASKAH

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Selasa 24 Februari 2026.

Kalender Liturgi hari Selasa 24 Februari 2026 merupakan HARI SELASA PEKAN I PRAPASKAH, Santo Montanus dan Lucius dkk, Martir, dengan Warna Liturgi Ungu.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Selasa 24 Februari 2026:

Bacaan Pertama Yesaya 55:10-11

“Firman-Ku akan melaksanakan apa yang Kukehendaki.”

Beginilah firman Tuhan, “Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih pada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,

demikianlah firman yang keluar dari mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 34:4-5.6-7.16-17.18-19

Ref. Tuhan melepaskan orang benar dari segala kesesakannya.

Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.

Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru-seru, dan Tuhan mendengarkan: Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

Mata Tuhan tertuju pada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong: wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi.

Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, Tuhan mendengarkan: dari segala kesesakannya mereka ia lepaskan. Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Bait Pengantar Injil Matius 4:4b

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Bacaan Injil Matius 6:7-15

“Yesus mengajar murid-murid-Nya berdoa.”

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya Karena itu berdoalah begini, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu.

Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami atas kesalahan kami,

seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Amin.”

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Selasa 24 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Pada Hari Selasa Pekan I Prapaskah ini, Gereja mengajak kita merenungkan sabda Tuhan dari Kitab Yesaya dan Injil menurut Injil Matius. Dalam suasana tobat dengan warna liturgi ungu, kita diajak masuk lebih dalam ke dalam relasi yang jujur dan sejati dengan Allah.

Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berfirman bahwa sabda-Nya seperti hujan dan salju yang turun dari langit. Ia tidak pernah sia-sia. Ia mengairi bumi, menyuburkan, menumbuhkan, memberi benih dan roti. Sabda Tuhan bukan sekadar rangkaian kata indah. Sabda itu bekerja. Sabda itu hidup. Sabda itu mengubah.

Sering kali kita merasa doa-doa kita seperti tidak didengar. Kita berbicara, tetapi hidup kita tetap sama. Kita membaca Kitab Suci, tetapi hati kita tidak berubah. Namun hari ini Tuhan menegaskan: firman-Nya tidak pernah kembali dengan sia-sia. Kalau ada yang belum berubah, mungkin tanah hati kita yang masih keras. Mungkin ada kekhawatiran, luka, ego, atau dendam yang membuat sabda itu sulit meresap.

Lalu dalam Injil, Yesus mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana namun mendalam: jangan bertele-tele dalam doa. Bapamu sudah tahu apa yang kamu perlukan. Betapa menenangkan kalimat ini. Kita sering mengira doa adalah soal banyaknya kata, panjangnya kalimat, atau indahnya susunan bahasa. Padahal doa pertama-tama adalah relasi. Doa adalah keberanian untuk datang sebagai anak kepada Bapa.

Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus bukan hanya rumusan hafalan. Di dalamnya ada arah hidup. Ketika kita berkata, “Datanglah Kerajaan-Mu,” kita sebenarnya sedang meminta agar cara hidup kita diubah. Ketika kita berkata, “Jadilah kehendak-Mu,” kita belajar melepaskan kehendak pribadi yang sering kali keras dan memaksa. Ketika kita memohon rezeki secukupnya, kita diingatkan untuk tidak dikuasai keserakahan.

Dan yang paling menantang adalah bagian tentang pengampunan. “Ampunilah kami seperti kami juga mengampuni.” Di sinilah sabda Tuhan benar-benar menguji hati kita. Kita ingin diampuni, tetapi sulit mengampuni. Kita ingin dimengerti, tetapi sulit memahami. Kita ingin diberi kesempatan kedua, tetapi enggan memberi kesempatan bagi orang yang melukai kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengampunan bukan perkara kecil. Di dalam keluarga, mungkin ada kata-kata yang menyakitkan. Di tempat kerja atau sekolah, ada perlakuan yang tidak adil. Di media sosial, ada komentar yang melukai harga diri. Luka itu nyata. Tetapi Yesus tidak menutup mata terhadap luka itu. Ia justru menunjukkan jalan kebebasan: mengampuni agar hati kita tidak terpenjara oleh kebencian.

Prapaskah adalah masa membersihkan hati. Bukan hanya mengurangi makan atau hiburan, tetapi membiarkan sabda Tuhan mengairi tanah batin kita yang kering. Firman Tuhan pasti bekerja. Ia sanggup melembutkan hati yang keras, menyembuhkan relasi yang retak, dan menumbuhkan harapan baru.

Hari ini, marilah kita belajar berdoa dengan lebih jujur. Tidak perlu kata-kata rumit. Datanglah sebagai anak. Percayalah bahwa Bapa mengetahui kebutuhan kita. Dan izinkanlah sabda-Nya sungguh bertumbuh dalam keputusan-keputusan kecil kita: dalam cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama.

Karena ketika firman itu kita hidupi, saat itulah Kerajaan Allah sungguh hadir—bukan hanya di gereja, tetapi di rumah, di tempat kerja, dan di dalam hati kita sendiri. Amin.

Doa Penutup

Bapa yang Mahabaik, ajar kami berdoa dengan hati yang tulus dan sederhana. Lembutkan hati kami agar mampu mengampuni dan tidak menyimpan dendam. Semoga firman-Mu sungguh bertumbuh dalam hidup kami, mengubah sikap dan keputusan kami setiap hari. Jadikan kami pembawa damai di tengah dunia. Amin.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Jadwal Libur Nasional Maret 2026, 7 Hari Libur Berturut-turut Plus WFA untuk ASN & Swasta

Kabar gembira nih buat lo semua yang suka ngeplan liburan: Maret 2026 bakal jadi bulan paling asik buat cuti...

More Articles Like This

Favorite Post