Tarakan lagi dapet momen langka nih di 2026. Dua hari besar beda agama datang hampir barengan—Nyepi jatuh 19 Maret, sementara Lebaran versi Muhammadiyah 20 Maret. Kedekatan tanggal ini sempat bikin rame di medsos, tapi realitanya? Di lapangan justru adem-adem aja.
Di hari Kamis (19/3/2026), umat Hindu menjalani Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan khusyuk, termasuk melaksanakan Catur Brata Penyepian—yang artinya sehari full buat refleksi diri, tanpa aktivitas duniawi. Malam sebelumnya juga udah digelar ritual sakral Tauru Agung Kesanga sebagai puncak rangkaian sebelum “hening total”.
Di sisi lain, umat Islam juga lagi menjalani Ramadan dan bersiap menyambut Idul Fitri. Nah, momen dua ibadah besar ini justru jadi simbol kuat kalau perbedaan itu bisa jalan bareng tanpa drama.
Tema Nyepi 2026
Tahun ini, Nyepi ngangkat tema Basu Dewa Umtumbakam yang punya arti:
“Satu Dunia Satu Keluarga, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju.”
Tema ini nggak cuma sekadar slogan, tapi relate banget sama kondisi sekarang—apalagi sempat ada perdebatan soal Nyepi dan takbiran di medsos.
Wakil Ketua Hindu Tarakan dari FKUB, I Nengah Pariana, langsung meluruskan isu yang beredar. Menurutnya, sebenarnya nggak ada benturan sama sekali.
“Kalau dilihat dari kalender, sebenarnya tidak bertabrakan. Nyepi itu t19 Maret, sementara lebaran Idul Fitri ditetapkan Muhammadiyah 20 Maret. Jadi tidak kena,” jelasnya.
Ia juga bilang kalau keributan yang muncul lebih karena kurangnya pemahaman.
“Yang ramai itu justru yang tidak paham. Di lapangan, baik di Tarakan maupun di Bali, sebenarnya tidak ada masalah. Semua sudah dirumuskan dengan baik oleh para pemangku kebijakan,” ujarnya.
Menurut Pariana, situasi ini malah jadi hal positif. Dua umat lagi menjalankan ibadah besar di waktu hampir bersamaan—itu bukti nyata keberagaman Indonesia.
“Malah bagus, tidak masalah. Malam takbiran pun tidak mengganggu karena masih dalam perhitungan yang tidak bertabrakan,” katanya.
Filosofi “Satu Dunia Satu Keluarga”
Pariana juga ngejelasin makna dalam dari tema Nyepi tahun ini. Intinya, semua manusia itu asalnya sama—cuma jalannya aja yang beda.
“Basu Dewa Umtumbakam itu artinya satu dunia satu keluarga. Kalau kita tarik ke awal penciptaan, semua manusia ini berasal dari Tuhan yang sama. Karena perjalanan waktu yang panjang, muncul perbedaan suku, agama, dan budaya,” jelasnya.
Dan perbedaan itu bukan buat dipertentangkan, tapi justru jadi kekayaan.
“Tidak perlu bermusuhan. Kita ini satu keluarga besar di dunia. Agama dan perbedaan itu hanyalah cara atau jalan menuju Tuhan yang Maha Kuasa,” tegasnya.
Ia bahkan ngasih analogi simpel biar gampang dipahami:
“Seperti menuju satu tempat, bisa lewat berbagai jalur. Begitu juga agama, banyak cara, tapi tujuannya sama. Jadi mari kita kuatkan pemahaman bahwa kita ini satu dunia satu keluarga,” ujarnya.
Kondisi di Tarakan: Aman & Kondusif
Di Tarakan sendiri, situasi tetap terkendali. Bahkan beberapa tradisi seperti ogoh-ogoh disesuaikan dengan kondisi setempat.
“Di Tarakan relatif aman dan kondusif. Bahkan beberapa kegiatan seperti ogoh-ogoh tidak dilaksanakan, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan umat,” ungkapnya.
Terakhir, Pariana ngingetin masyarakat buat nggak gampang kebawa isu yang bisa bikin perpecahan.
“Pesan dari tema ini jelas, kita semua ciptaan Tuhan, satu keluarga, punya hak dan kewajiban yang sama. Jadi mari kita jaga keharmonisan,” tukasnya.
Nyepi dan Lebaran yang waktunya mepet ini bukan masalah—justru jadi bukti kalau toleransi di Indonesia itu nyata, bukan cuma teori. 🌏✨
