Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 11 April 2026.
Kalender Liturgi hari Sabtu 11 April 2026 adalah HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, Santo Stanislaus dari Krakow, Uskup dan Martir, Santo George Gersave OSB, Martir, dengan Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 11 April 2026:
Bacaan Pertama Kisah Para Rasul 4:13-21
“Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.”
Pada waktu itu Rasul Petrus dan Yohanes dihadapkan ke Mahkamah Agama Yahudi. Ketika para pemimpin Yahudi dan tua-tua umat serta ahli-ahli Taurat melihat keberanian mereka, padahal keduanya adalah orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka.
Dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang disembuhkan para rasul itu berdiri di samping kedua rasul itu mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya.
Maka mereka enyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang. Lalu berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem, bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang menyolok dan kita tidak dapat menyangkalnya.
Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersiar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama itu.”
Setelah kedua rasul itu disuruh masuk lagi, mereka diperintahkan supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: Taat kepada kamu atau taat kepada Allah.
Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga,
sebab sidang tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena takut akan orang banyak yang memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 118:1.14-15a.16a-18.19-21
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!
Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik. Kekal abadi kasih setia-Nya. Tuhan itu kekuatanku dan mazmurku; ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan terdengar di kemah orang-orang benar.
Tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan, tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan. Tuhan telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan daku kepada maut.
Bukakan aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.
Bait Pengantar Injil Mzm 118:24
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya.
Bacaan Injil Markus 16:9-15
“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”
Setelah Yesus bangkit dari antara orang mati, pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
Lalu Maria Magdalena pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.
Tetapi ketika mereka mendengar bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Yesus menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari para murid, ketika keduanya dalam perjalan ke luar kota.
Ketika mereka kembali dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Yesus menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan.
Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk!”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Sabtu 11 April 2026
Saudara-saudari terkasih,
Ada satu kalimat yang sangat kuat hari ini, sederhana tetapi mengguncang: “Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Ini bukan sekadar keberanian berbicara, tetapi ungkapan hati yang sudah dipenuhi oleh pengalaman akan Tuhan.
Petrus dan Yohanes bukan orang hebat menurut ukuran dunia. Mereka bukan ahli Taurat, bukan orang terpelajar. Namun justru di situlah letak keindahannya: keberanian mereka tidak lahir dari pengetahuan, tetapi dari perjumpaan. Mereka tidak sedang menyampaikan teori tentang Tuhan, mereka sedang bersaksi tentang pengalaman hidup mereka bersama Yesus.
Sering kali dalam hidup kita, kita merasa tidak cukup baik untuk berbicara tentang iman. Kita merasa tidak tahu banyak, tidak cukup suci, tidak cukup pantas. Tetapi hari ini Sabda Tuhan mengingatkan: yang dibutuhkan bukan pertama-tama kepandaian, melainkan kejujuran hati. Apakah kita sungguh pernah mengalami Tuhan dalam hidup kita?
Karena kalau seseorang sungguh mengalami kasih, ia tidak bisa diam. Seperti orang yang menemukan sesuatu yang indah, ia akan ingin membagikannya. Petrus dan Yohanes tidak bisa diam, bukan karena mereka dipaksa, tetapi karena hati mereka penuh.
Di sisi lain, kita melihat bagaimana para pemimpin agama justru berada dalam kebingungan. Mereka melihat mukjizat, mereka melihat kebenaran, tetapi mereka memilih untuk menutupinya. Mengapa? Karena kebenaran itu mengganggu kenyamanan mereka. Kebenaran itu menuntut perubahan.
Saudara-saudari, ini juga sangat nyata dalam hidup kita sekarang. Tidak jarang kita tahu apa yang benar, tetapi kita memilih diam. Kita tahu mana yang baik, tetapi kita takut kehilangan kenyamanan, takut ditolak, takut dianggap berbeda.
Injil hari ini menambahkan satu lapisan lagi. Yesus mengutus para murid: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Namun sebelum sampai pada pengutusan itu, para murid sendiri bergumul dengan ketidakpercayaan. Mereka ragu, mereka tidak langsung percaya pada kabar kebangkitan.
Ini sangat manusiawi. Bahkan orang-orang terdekat Yesus pun pernah ragu. Tetapi justru di tengah keraguan itu, Yesus datang. Ia tidak menunggu mereka sempurna, Ia datang apa adanya, lalu mengutus mereka.
Artinya, Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk mulai bersaksi. Ia mengutus kita dalam proses, dalam perjalanan, bahkan dalam keterbatasan kita.
Maka menjadi saksi Kristus hari ini bukan berarti berkhotbah di tempat besar. Sering kali itu terjadi dalam hal-hal kecil: berkata jujur ketika orang lain memilih berbohong, tetap berbuat baik ketika tidak dihargai, berani berdiri pada yang benar meskipun sendirian, atau sekadar menjadi pribadi yang membawa damai di tengah lingkungan yang penuh konflik.
Kesaksian terbesar bukan pada kata-kata, tetapi pada hidup yang nyata.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita diajak bertanya dalam hati: apakah aku sungguh memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan? Atau imanku hanya sebatas kebiasaan? Dan jika aku sungguh mengenal Dia, mengapa aku masih sering memilih diam?
Semoga kita berani seperti Petrus dan Yohanes—bukan karena kita kuat, tetapi karena kita tidak bisa lagi menyimpan sendiri kasih Tuhan yang telah kita alami. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, berilah kami keberanian untuk hidup jujur dalam iman kami. Saat kami ragu dan takut, kuatkan hati kami untuk tetap setia pada kebenaran-Mu. Jadikan hidup kami kesaksian nyata yang sederhana namun berarti bagi orang lain dalam keseharian kami. Amin.
