Bacaan Injil Katolik Hari Ini Minggu 19 April 2026 dan Renungan Harian Katolik, HARI MINGGU PASKAH III

Must Read
5/5 - (1 vote)

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Minggu 19 April 2026.

Kalender Liturgi hari Minggu 19 April 2026 adalah HARI MINGGU PASKAH III, dengan Warna Liturgi Putih.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Minggu 19 April 2026:

Bacaan Pertama: Kis. 2:14,22-33

Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.

Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.

Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.

Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.

Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.

Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini.

Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.

Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.

Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.

Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 1Ptr. 1:17-21

Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”

Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku; ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.

Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Bacaan Injil: Luk. 24:13-35

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.

Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.

Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.

Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari sejak semuanya itu terjadi.

Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu; mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”

Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Minggu 19 April 2026

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita diajak berjalan bersama dua murid menuju Emaus. Mereka berjalan dengan langkah yang berat, hati yang penuh kecewa, dan pikiran yang dipenuhi pertanyaan. Mereka telah berharap begitu besar kepada Yesus, tetapi salib membuat semua harapan itu terasa runtuh. Bukankah ini juga sering kita alami? Kita berdoa, kita berharap, kita percaya—tetapi kenyataan hidup justru tidak berjalan seperti yang kita inginkan.

Dalam perjalanan itu, Yesus sendiri mendekat. Ia hadir, berjalan bersama mereka, tetapi mereka tidak mengenali-Nya. Ini bukan karena Yesus berubah, melainkan karena hati mereka tertutup oleh kekecewaan dan luka. Sering kali, dalam hidup kita sekarang, Tuhan pun hadir sangat dekat—dalam keluarga, dalam teman, dalam kejadian-kejadian kecil—tetapi kita tidak menyadari-Nya karena kita terlalu fokus pada masalah, terlalu tenggelam dalam rasa takut, atau terlalu sibuk dengan pikiran kita sendiri.

Bacaan pertama memperlihatkan keberanian Petrus yang bersaksi tentang kebangkitan. Ia yang dahulu takut, kini berdiri teguh. Mengapa? Karena ia telah mengalami perjumpaan dengan Kristus yang bangkit. Kebangkitan bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi pengalaman yang mengubah hidup. Inilah yang membedakan iman yang hanya diketahui di kepala dengan iman yang sungguh dihidupi.

Kembali ke Emaus, titik balik terjadi saat Yesus memecahkan roti. Dalam tindakan sederhana itu, mata mereka terbuka. Mereka mengenali Dia bukan dalam keajaiban besar, tetapi dalam tanda yang akrab, dalam perjamuan yang penuh kasih. Ini sangat dekat dengan hidup kita hari ini. Kita sering mencari Tuhan dalam hal-hal besar, padahal Ia hadir dalam hal-hal sederhana: dalam perhatian kecil, dalam pengampunan, dalam kebersamaan, bahkan dalam keheningan doa.

Dan yang menarik, setelah mereka mengenali Yesus, Ia menghilang. Mengapa? Karena sekarang mereka sudah tidak lagi membutuhkan bukti fisik. Hati mereka sudah menyala. Mereka tidak lagi berjalan menjauh dari Yerusalem, tetapi berbalik arah. Mereka kembali, mereka bersaksi. Inilah tanda perjumpaan sejati dengan Tuhan: hidup berubah arah.

Saudara-saudari, renungan hari ini mengajak kita jujur pada diri sendiri. Mungkin kita sedang berada di “jalan Emaus” kita masing-masing—jalan kekecewaan, kegagalan, atau kebingungan. Tetapi kabar baiknya adalah ini: Yesus tidak menunggu kita sempurna untuk datang kepada-Nya. Ia justru datang dalam perjalanan kita yang rapuh itu.

Pertanyaannya bukan lagi “di mana Tuhan?”, tetapi “apakah hati kita cukup terbuka untuk mengenali-Nya?”

Semoga kita belajar melihat kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari, merasakan-Nya dalam hal-hal sederhana, dan membiarkan hati kita kembali berkobar. Karena ketika hati kita menyala, kita tidak akan tinggal diam. Kita akan bangkit, berjalan, dan menjadi saksi kasih-Nya di dunia yang sangat membutuhkan harapan. Amin.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, temani kami dalam perjalanan hidup yang sering membingungkan ini. Bukalah hati kami agar mampu mengenali kehadiran-Mu dalam hal sederhana. Kuatkan iman kami saat lemah, dan nyalakan kembali harapan kami. Jadikan kami saksi kasih-Mu yang nyata di tengah dunia setiap hari. Amin.

 

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Hindari Spam dan Gangguan, Begini Cara Menyembunyikan Nomor WhatsApp Secara Praktis

Pengen lebih “low profile” di dunia chat? Tenang, sekarang lo bisa bikin nomor HP tetap aman tanpa harus ribet...

More Articles Like This

Favorite Post