Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Selasa 21 April 2026.
Kalender Liturgi hari Selasa 21 April 2026 adalah Hari Biasa Pekan III Paskah, Peringatan pada St. Anselmus, dengan Warna Liturgi Putih.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Selasa 21 April 2026:
Bacaan Pertama: Kis. 7:51 – 8:1a
Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh. Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya.
Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”
Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.
Sedang mereka melemparinya, Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.
Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab
Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.
Engkau benci kepada orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN. Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku, dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.
TUHAN, janganlah membiarkan aku mendapat malu, sebab aku berseru kepada-Mu; biarlah orang-orang fasik mendapat malu dan turun ke dunia orang mati dan bungkam.
Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan!
Bacaan Injil: Yohanes 6:30-35
Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”
Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”
Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Selasa 21 April 2026
Saudara-saudari terkasih,
hari ini Sabda Tuhan membawa kita masuk ke dalam sebuah peristiwa yang sangat kuat, bahkan terasa keras untuk didengar, namun justru di situlah kebenaran iman kita diuji.
Dalam Bacaan Pertama, kita melihat Stefanus berdiri di hadapan orang-orang yang menolak kebenaran. Ia tidak berbicara untuk menyenangkan telinga mereka, tetapi untuk menyampaikan apa yang benar. Dan justru karena itu, ia ditolak, diserang, bahkan akhirnya dibunuh. Namun yang paling menggetarkan bukan hanya kematian Stefanus, melainkan cara ia menghadapinya: ia tetap memandang ke langit, melihat kemuliaan Allah, dan di tengah penderitaan itu ia berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.”
Di sini kita melihat sesuatu yang sangat dalam tentang iman. Iman bukan hanya saat hidup berjalan baik, tetapi juga saat kita tidak dimengerti, saat kita ditolak, bahkan saat kita terluka oleh orang lain. Stefanus tidak menyimpan kebencian. Ia tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ini bukan kelemahan, tetapi kekuatan yang lahir dari hati yang sudah sepenuhnya percaya.
Dan menariknya, dalam peristiwa itu hadir Saulus, yang kelak menjadi Paulus. Dari satu peristiwa yang tampak seperti kegagalan dan kekalahan, Tuhan justru sedang menanam benih besar bagi masa depan Gereja. Di sinilah kita belajar bahwa tidak semua yang tampak menyakitkan berarti tidak ada makna. Tuhan tetap bekerja, bahkan di tengah ketidakadilan.
Lalu dalam Bacaan Injil, kita kembali bertemu dengan orang-orang yang masih mencari Yesus, tetapi masih dalam cara yang dangkal. Mereka meminta tanda, mereka membandingkan Yesus dengan manna di padang gurun, seolah-olah iman bisa dibangun hanya dari bukti lahiriah. Yesus kemudian membawa mereka kepada inti yang lebih dalam: “Akulah roti hidup.”
Ini adalah pernyataan yang sangat pribadi. Yesus tidak hanya menawarkan sesuatu, tetapi menawarkan diri-Nya sendiri. Ia bukan sekadar pemberi berkat, tetapi sumber hidup itu sendiri. “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.”
Saudara-saudari, di sini kita diajak untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita cari dari Tuhan? Apakah kita hanya mencari “roti” seperti orang banyak itu—hal-hal yang memuaskan kebutuhan sementara? Atau kita sungguh mencari Dia yang memberi hidup?
Banyak orang hari ini datang kepada Tuhan dengan harapan agar hidupnya lebih mudah. Itu manusiawi. Tetapi Yesus mengajak kita melangkah lebih dalam: bukan hanya meminta sesuatu dari-Nya, tetapi menerima Dia sebagai hidup kita sendiri. Karena hanya ketika hati kita melekat pada Kristus, kita tidak mudah kosong, tidak mudah goyah, bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Stefanus sudah menunjukkan jalannya: hidup yang tidak lagi berpusat pada diri sendiri, tetapi pada Tuhan. Hidup yang bisa tetap mengampuni bahkan di tengah penderitaan. Hidup yang tidak dikendalikan oleh kemarahan, tetapi oleh kasih.
Maka hari ini kita diajak untuk belajar dua hal: berani berdiri dalam kebenaran seperti Stefanus, dan belajar mencari Yesus sebagai roti hidup yang sesungguhnya, bukan sekadar jawaban atas kebutuhan sementara, tetapi jawaban atas kerinduan terdalam hati manusia.
Semoga kita semakin dibentuk menjadi pribadi yang tidak mudah goyah, karena hidup kita tidak lagi hanya bergantung pada apa yang kita miliki, tetapi pada Dia yang memberi hidup itu sendiri. Amin.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkaulah Roti Hidup kami. Ajarilah kami mencari Engkau lebih dari segala kebutuhan dunia. Kuatkan kami untuk tetap setia dalam kesulitan, dan berilah hati yang penuh kasih seperti Stefanus, agar kami mampu mengampuni dan hidup dalam damai yang berasal dari-Mu setiap hari sepanjang hidup kami. Amin.
