Dunia fashion retail lagi nggak baik-baik aja, guys. Brand global H&M dikabarkan bakal nutup sekitar 160 gerai di seluruh dunia tahun ini. Kabar ini langsung bikin pelaku ritel ikut angkat suara, karena jelas berdampak ke industri secara luas.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, bilang kalau langkah ini sebenarnya bukan sesuatu yang “wah banget” di dunia ritel. Menurut dia, perubahan kayak gini tuh udah jadi bagian dari strategi bisnis.
“H&M memang ada penutupan toko-tokonya, namun bekas lokasinya diisi oleh brand-brand yang dipegang oleh operator. Ada brand-brand, jadi tokonya ganti merek, sepertinya seperti itu yang saya dengar,”
Jadi intinya, bukan berarti mall bakal kosong melompong ya. Biasanya langsung diisi brand lain, jadi cuma “ganti pemain” aja.
Dia juga nambahin kalau di industri ritel, buka-tutup toko itu udah kayak siklus biasa. Bahkan termasuk renovasi atau ubah ukuran toko.
“Dalam ritel itu, seperti renovasi toko, pengecilan toko, perluasan toko, tutup toko, buka toko itu adalah bagian dari strategi. Yang mana masih ada daya beli maupun consumer behavior-nya, masih mau dan masih banyak penjualan itu yang akan dibuka,”
Sementara itu, Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, ngasih perspektif lain. Dia bilang kondisi global H&M yang lagi agak seret juga berpengaruh ke performa mereka di Indonesia.
“Bisnis H&M secara global memang sedang mengalami kesulitan yang berdampak juga terhadap kinerja di Indonesia,”
Walau begitu, dia nggak mau ngomong lebih jauh soal detail penutupan tokonya.
Kenapa H&M Banyak Tutup Toko?
Kalau ditarik lebih luas, keputusan ini ternyata bagian dari strategi besar mereka. Berdasarkan laporan yang dikutip dari media internasional, H&M sebelumnya udah nutup 163 toko, dan sekarang lanjut lagi nutup 160 toko tambahan.
Fokus mereka sekarang mulai geser ke:
- jualan online (e-commerce)
- investasi di lokasi yang paling cuan
- efisiensi biaya operasional
Di kuartal pertama 2026 aja, laba mereka dilaporkan turun karena lagi “beres-beres” bisnis dan nutup beberapa toko.
“Optimalisasi portofolio toko memberikan dampak yang agak negatif terhadap penjualan kuartal pertama 2026, akibat penutupan dan pembangunan kembali toko,”
Tapi mereka optimis ke depannya bakal membaik:
“Namun, untuk tahun penuh 2026, efek penjualan dari optimalisasi toko diperkirakan akan sedikit positif,”
Fenomena ini nggak cuma dialami H&M doang. Banyak brand retail global lagi kena efek perubahan perilaku konsumen.
Menurut Dominick Miserandino:
“Para pembeli kini lebih mementingkan nilai, lebih banyak berbelanja online, dan kurang loyal terhadap toko fisik tradisional,”
Artinya:
- Orang sekarang lebih sensitif harga
- Lebih nyaman belanja online
- Nggak terlalu setia sama satu brand atau toko fisik
Dia juga bilang kondisi ekonomi global lagi cukup menantang:
“Itulah mengapa kita melihat begitu banyak perusahaan tersandung. Kondisi ekonomi sedang sulit,”
Jadi, penutupan toko H&M ini bukan tanda “kiamat retail”, tapi lebih ke:
- strategi adaptasi
- pergeseran ke digital
- dan respon terhadap kebiasaan belanja baru
Buat konsumen? Nggak terlalu ngaruh besar. Buat pelaku bisnis? Ini sinyal keras kalau dunia retail lagi berubah cepat banget 🚀
