Kalau selama ini kamu mengira smartphone paling laris otomatis adalah yang menghasilkan uang paling besar, data penjualan Digiplus justru menunjukkan cerita yang sedikit berbeda. Di jaringan ritel elektronik multibrand tersebut, Android masih unggul kalau yang dihitung adalah jumlah unit yang terjual. Namun, ketika ukuran penilaiannya digeser menjadi total nilai transaksi, iPhone justru tampil lebih kuat.
Jadi, siapa sebenarnya yang menang dalam pertarungan Android versus Apple di Indonesia? Jawabannya ternyata tergantung dari cara menghitungnya.
Android unggul karena pilihannya super luas
Head of Operations Digiplus, Erwin Renehan, mengungkapkan bahwa Android menjadi penyumbang terbesar dari sisi kuantitas penjualan. Artinya, secara jumlah perangkat yang dibeli konsumen, HP berbasis Android masih berada di depan iPhone di jaringan Digiplus.
Kondisi ini cukup masuk akal karena Android punya ekosistem perangkat yang sangat lebar. Konsumen bisa memilih smartphone dari berbagai merek, spesifikasi, desain, sampai kelas harga.
Di Digiplus sendiri tersedia sejumlah merek seperti Samsung, Xiaomi, OPPO, Huawei, Infinix, dan Motorola, selain lini perangkat Apple.
Dengan pilihan sebanyak itu, Android otomatis punya “senjata” lebih banyak untuk menjangkau berbagai tipe pembeli. Ada yang mencari HP untuk kebutuhan sehari-hari, kamera, gaming, pekerjaan, sampai perangkat flagship.
Jadi kalau pertanyaannya, “HP mana yang jumlah unitnya lebih banyak terjual?”, jawabannya masih Android.
Tapi begitu bicara uang, iPhone langsung berubah cerita
Nah, bagian menariknya ada di sini.
Walaupun jumlah unit Android lebih tinggi, Erwin menyebut iPhone menjadi kontributor besar dari sisi value atau nilai transaksi.
Sederhananya begini: jumlah HP yang dibeli belum tentu sebanding dengan total uang yang dikeluarkan.
Satu iPhone kelas premium bisa memiliki harga jauh lebih tinggi dibandingkan satu unit Android di kelas harga menengah. Karena itu, jumlah transaksi iPhone yang lebih sedikit tetap bisa menghasilkan nilai penjualan yang sangat besar.
Digiplus sendiri memiliki portofolio perangkat dengan rentang harga yang luas, mulai dari kisaran Rp3 jutaan sampai puluhan juta rupiah.
Makanya, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa “yang paling laku” hanya berdasarkan jumlah unit.
Android menang volume. Apple kuat di nilai transaksi.
Apple, Samsung, Xiaomi, dan OPPO jadi nama penting
Persaingan di Digiplus juga ternyata tidak cuma soal Android versus iPhone.
Erwin menyebut Apple, Samsung, serta Xiaomi dan OPPO sebagai kelompok merek yang berada di jajaran teratas kontribusi penjualan. Komposisi produk di setiap toko juga tidak dibuat sama persis karena menyesuaikan karakter konsumen, tren, dan performa masing-masing brand di lokasi tersebut.
Ini menarik karena menunjukkan bahwa perilaku pembeli smartphone di Indonesia cukup beragam.
Ada konsumen yang mencari perangkat dengan harga lebih terjangkau dan pilihan spesifikasi banyak. Ada pula yang memang sudah menentukan ekosistem tertentu dan siap mengeluarkan budget lebih besar untuk perangkat premium.
Harga HP juga sedang menghadapi tekanan
Persaingan merek smartphone terjadi di tengah kondisi pasar yang tidak sepenuhnya santai.
Digiplus menyebut sejumlah merek telah menaikkan harga perangkat sejak akhir 2025 dan berlanjut sepanjang 2026. Menurut Erwin, kenaikan pada beberapa produk berada di kisaran 30 persen hingga 50 persen, salah satunya berkaitan dengan meningkatnya harga chipset.
Situasi ini tentu bisa bikin calon pembeli berpikir dua kali sebelum upgrade HP.
Apalagi, smartphone sekarang bukan lagi sekadar alat buat telepon dan chatting. HP sudah dipakai untuk pembayaran digital, pekerjaan, belajar, hiburan, navigasi, media sosial, sampai berbagai aktivitas sehari-hari.
Karena kebutuhan tersebut semakin melekat, konsumen tetap punya alasan untuk membeli smartphone meskipun harga perangkat mengalami kenaikan.
Strategi cicilan sampai trade-in ikut memainkan peran
Supaya kenaikan harga tidak langsung membuat konsumen mundur, peritel juga harus semakin pintar menawarkan pilihan pembayaran.
Digiplus mengandalkan beberapa skema, termasuk cashback dari perbankan, cicilan melalui lembaga pembiayaan non-bank, layanan buy now pay later, hingga program trade-in.
Buat konsumen, model seperti ini bisa membuat pembelian HP terasa lebih fleksibel karena tidak selalu harus membayar seluruh harga perangkat sekaligus.
Namun tetap saja, sebelum mengambil cicilan atau layanan pembayaran apa pun, konsumen perlu melihat total biaya dan memastikan sesuai kemampuan finansial.
Digiplus juga sedang memperluas jaringannya
Menariknya, data penjualan Android dan iPhone ini muncul bersamaan dengan ekspansi Digiplus.
Peritel tersebut membuka gerai ke-100 di Terogong, Jakarta Selatan, dan menargetkan sekitar 150 outlet hingga akhir 2026. Ekspansinya tidak hanya mengandalkan toko di pusat perbelanjaan, tetapi juga menyasar format street-level serta sejumlah kota besar di Indonesia.
Artinya, persaingan smartphone bukan cuma terjadi di dunia online. Kehadiran toko fisik tetap dianggap penting karena konsumen bisa melihat langsung perangkat, mencoba produk, membandingkan pilihan, sekaligus mendapatkan layanan purnajual dan program tukar tambah.
Jadi, Android atau iPhone yang sebenarnya lebih laris?
Kalau menggunakan jumlah unit, Android masih juaranya di Digiplus.
Tetapi kalau menggunakan nilai transaksi, iPhone berada di posisi yang jauh lebih kuat.
Dan justru di situlah menariknya pasar smartphone Indonesia. Tidak ada satu indikator yang bisa langsung dipakai untuk menyebut sebuah platform sebagai “pemenang mutlak”.
Android punya keunggulan dari jumlah merek dan variasi perangkat yang sangat luas. Sementara Apple bermain lebih kuat di segmen premium, sehingga setiap perangkat yang terjual memiliki nilai transaksi yang relatif tinggi.
Jadi, kalau ada yang bertanya, “Android atau iPhone yang paling laku?”, jawaban paling tepat bukan sekadar memilih salah satunya.
Kalau menghitung berapa banyak HP yang masuk ke tangan konsumen: Android unggul. Kalau menghitung seberapa besar nilai uang dari transaksi: iPhone lebih menonjol.
Dengan harga smartphone yang terus bergerak dan persaingan brand yang makin ketat, pertarungan Android dan Apple di Indonesia jelas belum selesai. Justru, pola belanja konsumen yang semakin beragam bakal membuat persaingan keduanya makin menarik untuk diikuti sepanjang 2026.
Sumber terbaru yang mendasari angka dan pernyataan di atas: keterangan Digiplus mengenai pola penjualan, portofolio merek, ekspansi gerai, serta tekanan kenaikan harga smartphone.