Video Guru Kritik Pemeriksaan Makanan MBG Viral, BGN Luruskan Prosedur Tes Organoleptik

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi perhatian publik setelah sebuah video yang memperlihatkan seorang guru memprotes prosedur pemeriksaan makanan sebelum disantap siswa ramai beredar di media sosial. Kali ini, yang bikin netizen auto kepo bukan soal menu makanannya, melainkan keterlibatan guru dalam proses pengecekan makanan yang disebut dilakukan melalui tes organoleptik.

Dalam video tersebut, guru yang bersangkutan mempertanyakan kenapa tenaga pendidik harus ikut melakukan pemeriksaan terhadap makanan yang akan dikonsumsi siswa. Ia bahkan menyinggung proses mencium atau mengendus makanan dengan nada sindiran.

“Dicium dulu, diendus-endus dulu katanya. Ada yang bilang gitu, coba sebanyak gini harus diendus-endus semuanya. Jadi, tiba-tiba berubah fungsi guru jadi anjing pelacak,” ungkapnya dalam video yang viral, dikutip Jumat (25/9/2026).

Potongan video itu kemudian memancing beragam respons. Sebagian warganet mempertanyakan apakah guru memang mendapat tugas untuk mengecek makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Di sisi lain, ada pula yang menyoroti soal pentingnya memastikan makanan dalam kondisi layak dan aman sebelum dikonsumsi.

Menanggapi ramainya pembahasan tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya memberikan klarifikasi. Juru Bicara BGN Tysa Novenny menegaskan bahwa tidak ada instruksi dari BGN yang secara khusus meminta guru untuk “mengendus-endus” makanan seperti narasi yang berkembang di media sosial.

“Namun perlu disampaikan bahwa Badan Gizi Nasional tidak pernah meminta para guru untuk mengendus-endus makanan dalam konteks narasi yang disampaikan oleh guru yang bersangkutan dalam video tadi,” ujar Tysa.

Meski begitu, Tysa menjelaskan bahwa guru memang memiliki peran tertentu dalam pelaksanaan MBG di lingkungan sekolah. Berdasarkan panduan implementasi yang disosialisasikan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, guru berperan sebagai edukator sekaligus melakukan tes organoleptik.

Nah, bagian ini yang kemudian jadi sorotan. Sebagai edukator, guru bukan cuma mendampingi siswa saat makanan dibagikan. Mereka juga memberikan pemahaman mengenai kebiasaan makan yang baik, seperti mencuci tangan sebelum makan, berdoa, duduk dengan tertib, hingga mengenalkan kandungan gizi dalam menu yang tersedia.

“Misalkan menu makanan ayam. Ayam itu kaya akan protein yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan otak. Dan mungkin makan kentang. Nah, kentang itu merupakan sumber karbohidrat yang menjadi sumber energi,” jelasnya.

Sementara itu, tes organoleptik merupakan pemeriksaan menggunakan indera untuk melihat kondisi makanan. Penilaiannya antara lain mencakup warna, tekstur, aroma, sampai mencicipi makanan untuk mengetahui kondisi sebelum dikonsumsi siswa.

Penjelasan tersebut ternyata belum membuat perdebatan di media sosial langsung berhenti. Sejumlah warganet justru mempertanyakan pembagian tugas tersebut. Mereka menilai pemeriksaan makanan semestinya menjadi bagian dari tanggung jawab pihak yang menangani penyediaan makanan MBG, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Salah satu akun, @alex.subrataaa, menilai penjelasan BGN justru menunjukkan adanya keterkaitan antara “mengendus” dan tes organoleptik karena mencium aroma makanan merupakan bagian dari pemeriksaan tersebut.

Perbedaan penggunaan istilah juga ikut diperdebatkan. Ada warganet yang menilai istilah “mencium aroma” terdengar lebih formal dibandingkan “mengendus”, tetapi keduanya tetap merujuk pada penggunaan indera penciuman dalam proses pemeriksaan makanan.

Di tengah ramainya pro dan kontra tersebut, BGN kembali menegaskan posisi mereka. Tysa menyampaikan bahwa tidak ada instruksi khusus dari BGN kepada guru untuk melakukan kegiatan “mengendus-endus” makanan sebagaimana yang ramai dinarasikan.

“Jadi tidak ada ya, sekali lagi tidak ada permintaan BGN kepada guru untuk mengendus-endus makanan sebelum disantap oleh siswa,” tegasnya.

Viralnya persoalan ini akhirnya menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG di sekolah bukan cuma soal makanan sampai ke meja siswa. Ada sejumlah prosedur yang ikut menjadi perhatian, termasuk bagaimana kualitas makanan dipastikan sebelum dikonsumsi.

Di sisi lain, pembagian peran antara guru, sekolah, dan pihak penyedia makanan juga menjadi hal yang terus diperbincangkan publik. Karena itu, kejelasan panduan pelaksanaan di lapangan menjadi penting agar tidak muncul perbedaan pemahaman yang kemudian berkembang menjadi polemik di media sosial.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Latest

Bacaan Injil Katolik Misa Hari Minggu, 27 September 2026 Lengkap Renungan Harian-Hari Minggu Biasa XXVI

Saudara-saudari terkasih, pada Minggu, 27 September 2026, umat Katolik kembali diajak memasuki perayaan Hari Minggu Biasa XXVI dalam Kalender...

More Articles Like This

Favorite Post