Situasi keamanan di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, kembali bikin perhatian publik tertuju ke wilayah tersebut. Pada Jumat, 25 September 2026, beredar informasi di media sosial yang menyebut markas kelompok bersenjata yang dikaitkan dengan Egianus Kogoya mengalami serangan dari udara hingga disebut rusak berat.
Namun, kabar yang beredar itu belum bisa langsung dianggap sebagai fakta final. Pihak TNI masih melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut. Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Laut Agung Saptoadi juga menyampaikan bahwa pihaknya masih perlu memastikan kebenaran kabar tersebut. “Saya cek dulu mas,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Jumat (25/9/2026).
Jadi, untuk sekarang, bagian soal markas yang disebut “luluh lantak”, jumlah korban, maupun detail serangan udara masih perlu menunggu konfirmasi resmi. Informasi yang beredar di media sosial belum cukup untuk memastikan seluruh detail kejadian.
Sebelumnya TNI Memang Terlibat Kontak Senjata di Nduga
Kabar terbaru ini muncul setelah sebelumnya terjadi kontak senjata antara personel Koops TNI Habema dan kelompok TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Derakma di wilayah Nduga.
Kontak senjata tersebut terjadi pada Senin, 21 September 2026. Menurut keterangan Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto yang diberitakan ANTARA, personel TNI saat itu sedang bergerak lebih jauh ke kawasan hutan dalam operasi pencarian terhadap kelompok yang dipimpin Egianus Kogoya.
Dalam keterangan tersebut, Lucky menyebut kelompok bersenjata melepaskan tembakan ke arah pasukan TNI. Personel TNI kemudian melakukan tindakan untuk memukul mundur kelompok tersebut agar menjauh dari permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.
Menurut keterangan TNI yang dikutip sejumlah media, tidak ada korban jiwa maupun luka dari pihak TNI dalam kontak senjata tersebut.
Kabar Serangan Udara Masih Harus Dibuktikan
Nah, bagian yang sekarang paling ramai dibicarakan adalah klaim bahwa dua pesawat Super Tucano digunakan untuk menyerang lokasi yang disebut sebagai markas kelompok Egianus Kogoya.
Informasi tersebut beredar bersamaan dengan narasi bahwa lokasi persembunyian kelompok tersebut mengalami kerusakan berat dan ditinggalkan. Namun, sampai laporan terbaru ini, belum ada konfirmasi independen yang memastikan bahwa serangan udara seperti yang dinarasikan benar-benar terjadi, termasuk mengenai tingkat kerusakan dan jumlah korban.
Karena itu, informasi tersebut lebih aman disebut sebagai kabar atau klaim yang masih dalam proses verifikasi, bukan sebagai kejadian yang sudah terkonfirmasi sepenuhnya. Media yang melaporkan klaim tersebut juga mencatat bahwa pihak TNI masih mengecek informasi yang beredar.
Situasi di Papua Pegunungan Memang Sedang Jadi Sorotan
Perkembangan ini juga tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa pekan terakhir, aparat keamanan melaporkan sejumlah operasi yang berkaitan dengan kelompok bersenjata di Papua Pegunungan.
Pada September 2026, misalnya, Satgas Yonif 725/WRG melaporkan penemuan sekitar 21.400 batang tanaman ganja di dua lokasi di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo. Menurut keterangan TNI yang diberitakan ANTARA, lokasi tersebut diduga berkaitan dengan kelompok Egianus Kogoya dan temuan itu kemudian diamankan untuk diserahkan kepada pihak kepolisian.
Selain itu, Operasi Damai Cartenz juga melaporkan telah mengidentifikasi dua orang yang diduga terlibat dalam penembakan terhadap tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Muliama pada 9 September 2026. Menurut kepolisian, kedua orang tersebut diduga merupakan anggota kelompok Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya.
Rangkaian peristiwa tersebut membuat aktivitas kelompok bersenjata di kawasan Papua Pegunungan kembali menjadi perhatian aparat keamanan dan publik.
Jadi, Apa yang Sudah Pasti?
Untuk saat ini, yang sudah terkonfirmasi adalah adanya kontak senjata antara pasukan Koops Habema dan kelompok TPNPB-OPM Kodap III Ndugama Derakma di Nduga pada 21 September 2026. TNI juga menyatakan operasi pencarian terhadap kelompok yang dikaitkan dengan Egianus Kogoya masih berlangsung.
Sementara itu, kabar bahwa markas kelompok tersebut dihancurkan melalui serangan udara menggunakan pesawat Super Tucano masih menunggu verifikasi resmi lebih lanjut. Begitu pula informasi mengenai kondisi markas, jumlah korban, dan detail serangan yang beredar di media sosial.
Artinya, publik sebaiknya nggak buru-buru menyimpulkan hanya dari potongan video, foto, atau narasi yang beredar. Dalam situasi konflik seperti ini, informasi awal bisa berkembang cepat, sementara detail penting tetap membutuhkan pengecekan dari sumber resmi.
Perkembangan situasi di Nduga pun masih menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan keamanan masyarakat di wilayah Papua Pegunungan. Jika nantinya TNI memberikan keterangan resmi mengenai kabar serangan udara tersebut, detail mengenai lokasi, kronologi, serta dampaknya akan menjadi bagian penting untuk memperjelas informasi yang saat ini masih simpang siur.