Isu soal asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan yang disebut-sebut mulai bergerak ke Pulau Jawa lagi ramai dibahas di media sosial. Citra satelit yang beredar bikin banyak orang waswas, apalagi kondisi kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan memang sedang cukup serius.
Kabut asap dengan tingkat kepadatan sedang hingga pekat terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan serta bagian selatan dan tengah Sumatra. Bahkan, beberapa stasiun pemantau kualitas udara mencatat kondisi udara berada dalam kategori Tidak Sehat hingga Berbahaya.
Nah, soal kabar asap karhutla Kalimantan yang disebut bergeser ke Jawa, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya memberikan penjelasan. Jadi, gambar satelit yang viral tersebut memang menunjukkan adanya pergerakan massa udara, tetapi bukan berarti asap karhutla Kalimantan otomatis sedang meluncur langsung ke Pulau Jawa.
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani menjelaskan bahwa berdasarkan kondisi angin terbaru, pola pergerakan udara di Kalimantan dan Laut Jawa justru lebih dominan mengarah ke barat.
“Berdasarkan analisis angin terkini, pada lapisan atmosfer bawah (850 hPa), angin di wilayah Kalimantan, Laut Jawa, dan Jawa Timur dominan bertiup dari arah timur-tenggara menuju barat,” jelas Ida melalui peasn singkat, Senin (28/9/2026).
Bukan cuma di lapisan atmosfer bawah. Di ketinggian sekitar 700 hPa, angin lebih dominan bergerak dari selatan dan barat daya menuju barat laut serta utara. Sementara itu, pada lapisan 500 hPa, arah angin berasal dari timur laut dan timur menuju barat.
Kalau melihat keseluruhan pola tersebut, pergerakan massa udara secara umum memang lebih condong ke arah barat. Kondisi ini membuat pergerakan asap dari Kalimantan secara langsung menuju selatan atau Pulau Jawa tidak terlalu didukung oleh pola angin saat ini.
“Dengan demikian, berdasarkan pola angin pada masing-masing lapisan tersebut, pergerakan massa udara secara umum lebih dominan mengarah ke barat dan relatif kurang mendukung pergerakan asap secara langsung ke arah selatan menuju Pulau Jawa,” katanya.
Hujan di Jawa Jadi Faktor Penting
Di tengah ramainya kabar soal asap tersebut, ada juga faktor cuaca yang cukup membantu wilayah Jawa. BMKG menyebut intensitas hujan di Pulau Jawa belakangan semakin meningkat.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat membantu menurunkan konsentrasi polutan di udara. Sederhananya, butiran air hujan bisa menangkap sebagian partikel aerosol dan partikulat yang melayang di atmosfer, kemudian membawanya turun.
Tapi efeknya tentu nggak bisa disamaratakan di semua wilayah. Seberapa besar konsentrasi polutan berkurang tetap bergantung pada kondisi angin, kelembapan, kestabilan atmosfer, sampai bagaimana sebaran polutan di masing-masing daerah.
“Pengaruh ini umumnya akan lebih efektif apabila hujan terjadi dengan intensitas sedang hingga lebat dan berlangsung dalam durasi yang cukup. Meski demikian, besar kecilnya penurunan konsentrasi polutan tetap dipengaruhi oleh kondisi angin, kelembapan, stabilitas atmosfer, serta sebaran polutan di masing-masing wilayah,” lanjutnya.
BMKG: Asap Karhutla Belum Terdeteksi di Jawa
Jadi, buat yang sempat panik gara-gara melihat citra satelit viral, BMKG menegaskan bahwa sampai saat ini asap karhutla dari Kalimantan belum teramati masuk ke daerah atau provinsi tertentu di Pulau Jawa.
Indeks kualitas udara di wilayah Jawa juga disebut belum menunjukkan perubahan signifikan yang berkaitan dengan asap karhutla dari Kalimantan.
Artinya, citra satelit yang beredar perlu dilihat dengan konteks yang tepat. Adanya area asap dan pola pergerakan massa udara di satelit belum otomatis berarti asap tersebut sudah sampai ke Jawa.
Kondisi karhutla di Kalimantan sendiri tetap perlu mendapat perhatian karena kabut asap di sejumlah wilayah masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Perubahan arah angin, hujan, kelembapan, dan kondisi atmosfer bisa memengaruhi pergerakan serta konsentrasi partikulat dari waktu ke waktu.
Untuk masyarakat di Jawa, informasi kualitas udara dan perkembangan cuaca tetap penting dipantau melalui sumber resmi. Sementara itu, bagi wilayah yang terdampak langsung kabut asap, kewaspadaan terhadap kualitas udara tetap diperlukan, terutama ketika indeks kualitas udara masuk kategori tidak sehat.