Dari Toko Kelontong hingga Viral di Media Sosial, Ini Cerita di Balik Nama Pak Mul dan Mural “Bad Mood”

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Ada-ada saja cara pemilik usaha kecil bikin orang berhenti scrolling. Toko Pak Mul yang berada di Debegan, Mojosongo, Jebres, Solo, mendadak jadi perhatian di media sosial gara-gara satu kalimat sederhana yang ditulis di dinding toko: “Jika Tutup Berarti Lagi Bad Mood.”

Tulisan tersebut tampil bersama mural bergaya doodle yang menggambarkan berbagai barang khas toko kelontong. Bukannya dianggap aneh, kalimat santai itu justru bikin banyak warganet ngakak sekaligus penasaran dengan sosok pemiliknya.

Yang bikin cerita ini makin menarik, ternyata tulisan tersebut bukan strategi marketing untuk mendongkrak penjualan. Pemilik Toko Pak Mul, Chandra Muzty (31), memang tidak punya jadwal buka-tutup toko yang benar-benar tetap.

Toko Pak Mul Memang Buka Sesuai Kondisi Pemilik

Kalau biasanya toko kelontong punya jam operasional yang jelas, Toko Pak Mul punya cerita berbeda. Chandra mengaku dirinya tidak bisa menerapkan jadwal buka dari pagi sampai malam seperti toko lainnya.

Salah satu alasannya adalah kesibukan mengurus anak dan kegiatan lain. Karena itu, waktu buka toko bisa berubah-ubah sesuai kondisi.

Kompas.com bahkan sempat mendatangi lokasi sebanyak tiga kali pada Selasa (29/9/2026), mulai siang sampai sore. Namun, toko tersebut masih dalam kondisi tertutup.

Pada Rabu (30/9/2026), pintu toko juga masih tertutup ketika Chandra ditemui sekitar pukul 09.00 WIB. Ia mengatakan pada hari tersebut dirinya baru berencana membuka toko pada siang hari.

“Kan kalau yang lain buka jam 7 sampai jam 10 malam, nah. Aku nggak bisa, aku kayak gitu nggak bisa,” kata Chandra saat ditemui Kompas.com, Rabu.

“Kalau kayak gini (hari Rabu) tadi emang pengen aja buka siang. Kalau biasane ngurusi anak. Ada acara. Jadi emang buka semaune (semaunya),” tambahnya.

Lalu, kenapa harus menggunakan alasan bad mood?

Jawabannya ternyata cukup simpel. Chandra merasa lebih praktis menuliskan kalimat tersebut daripada harus berulang kali menjelaskan kepada pembeli kenapa tokonya sedang tutup.

“Kenapa kok ditulis bad mood? Daripada ditanyain. Kok kemarin tutup, buka-tutup buka-tutup. Daripada aku jawab jujur kan biasane, oh kemarin sakit. Ya udah, tulis aja bad mood,” ucap Chandra.

Mural Rp 600.000-Rp 700.000 yang Malah Bikin Toko Viral

Mural yang sekarang jadi pusat perhatian itu ternyata tidak dibuat secara asal. Chandra sendiri yang memiliki ide mengenai gambar dan konsepnya, kemudian desain tersebut diberikan kepada pembuat mural di Solo.

Pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar dua hari. Prosesnya dilakukan mulai sore hari dan menghabiskan biaya sekitar Rp 600.000 hingga Rp 700.000.

Menariknya, Chandra sama sekali tidak menyangka mural tersebut bakal ramai diperbincangkan di media sosial.

Menurutnya, mural dengan gaya seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa di kawasan Solo maupun Yogyakarta. Namun, justru tulisan bad mood yang membuat orang gagal fokus.

“Ternyata sing marai (yang membuat) gagal fokus gara-gara tulisan itu. Ya, tapi kok ya viral gitu loh, Mas. Padahal kan kalau kayak gini itu di Solo biasa. Gambar-gambar kayak gini itu banyak ditemuin. Enggak tahu kenapa,” ucapnya.

“Menurutku kalimat yang tak bikin itu bad mood itu kayaknya emang biasa juga. Ya enggak tahu mungkin terlalu asbun,” lanjut Chandra.

Dari sinilah cerita Toko Pak Mul makin ramai. Foto mural tersebut menyebar, orang-orang mulai datang, dan lokasi toko ikut menjadi tempat yang menarik perhatian pemburu konten.

Setelah Viral, Orang-Orang Malah Berdatangan

Efek viral ternyata langsung terasa, terutama pada satu atau dua hari pertama setelah toko tersebut ramai dibicarakan.

Saat anak Chandra dititipkan kepada neneknya, ia sempat membuka toko selama beberapa jam. Bahkan, ia membuka toko dari pagi hingga sekitar pukul 10.00 WIB.

“Aku gabut nih, tak buka dari jam 7 sampai jam 10. Boyokku (punggungku) lara (sakit),” kata Chandra sambil berkelakar.

Namun, Chandra menegaskan bahwa sebelum viral pun tokonya sebenarnya sudah memiliki pelanggan. Jadi, popularitas di media sosial tidak otomatis membuat pendapatannya melonjak drastis.

“Dibilang kalau untungnya lumayan, cuman ya gitu mau, emang dasarnya males aku,” ungkapnya.

Ia juga menyebut penghasilan toko setelah viral masih kurang lebih sama seperti biasanya. Yang berubah justru jumlah orang yang datang untuk mengambil gambar atau membuat konten.

“Nggak ada bedanya. Penghasilannya ya kayak biasanya kalau pas rame gitu aja. Cuma banyak yang datang bikin konten, bikin video. Ya lucu-lucu,” jelasnya.

Komentar Warganet Justru Bikin Chandra Terharu

Di balik ramainya orang datang untuk berfoto dan membuat video, ada satu hal dari viralnya Toko Pak Mul yang ternyata cukup menyentuh hati Chandra.

Ia membaca berbagai komentar warganet mengenai nama Pak Mul. Banyak orang bahkan mendoakan sosok yang mereka kira masih ada.

Padahal, Pak Mul yang dimaksud merupakan ayah Chandra, Mulyadi, yang sudah meninggal dunia pada 2022.

“Kayak malah banyak yang doain, bapakku gitu loh. Mereka enggak tahu (kalau Pak Mul sudah meninggal) doain,” katanya.

“Pas habis bacain komen-komen, wah aku kok terharu. Aku nyekar,” ungkapnya sambil tertawa.

Jadi, di balik satu kalimat jenaka yang awalnya hanya dibuat supaya tidak perlu menjawab pertanyaan pelanggan berkali-kali, muncul sebuah cerita personal tentang keluarga dan sosok ayah yang menjadi bagian dari nama toko tersebut.

Toko Pak Mul Punya Sejarah Sejak 2006

Toko yang sekarang viral ini sebenarnya bukan usaha baru. Toko Pak Mul sudah berdiri sejak 2006 dan awalnya dikelola langsung oleh ayah Chandra, Mulyadi.

Lokasinya berada persis di samping rumah yang kini ditempati Chandra. Setelah Mulyadi mengalami stroke pada 2017, aktivitas toko akhirnya berhenti.

Mulyadi kemudian meninggal dunia pada 2022 dan toko tersebut tetap tidak beroperasi untuk beberapa waktu.

Chandra sendiri sempat bekerja di tempat lain dan tinggal di luar Debegan bersama suaminya. Setelah memutuskan resign dan kembali ke kawasan tersebut, ia kemudian memilih menghidupkan lagi toko peninggalan sang ayah pada 2025.

Alasannya pun cukup sederhana.

“Ya, butuh duit kok. Aslinya CEO. Amin. Aku butuh,” ucapnya sambil berkelakar.

“Daripada nganggur, ya sudah aku buka,” tambah Chandra.

Seperti toko kelontong pada umumnya, Toko Pak Mul menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari rokok, makanan ringan, minuman sampai kebutuhan rumah tangga.

Meski begitu, Chandra menjelaskan bahwa toko tersebut bukan sumber pemasukan utama keluarganya karena suaminya juga bekerja.

“Cuman emang bukan penghasilan utama gitu. Kan suami itu kerja, jadi kayak buka ya sudah sak senengku sak mood-ku (sesukaku dan semauku),” tuturnya.

Nama Pak Mul Tetap Dipertahankan

Ada alasan tersendiri kenapa nama Toko Pak Mul tetap digunakan sampai sekarang.

Sebelum mural menghiasi dinding toko, Chandra sebenarnya pernah menggunakan banner dengan nama tersebut. Namun, ia tidak tertarik menggunakan banner dari pihak lain yang menawarkan sistem kontrak.

Banner yang terpasang di toko kemudian rusak setelah ditarik anak-anak yang melintas di depan lokasi.

Daripada kembali menggunakan banner, Chandra akhirnya memilih menuliskan nama Toko Pak Mul langsung pada bagian dinding.

Nama tersebut tetap dipertahankan karena sudah dikenal oleh para sales dan memang sudah digunakan sejak usaha itu pertama kali dirintis sang ayah.

Viral Bukan Cuma Soal Lucu-Lucuan

Kisah Toko Pak Mul akhirnya menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat sederhana di dunia nyata bisa punya cerita panjang ketika masuk ke media sosial.

Tulisan “Jika Tutup Berarti Lagi Bad Mood” awalnya cuma cara Chandra menjelaskan kebiasaan toko yang tidak punya jadwal operasional tetap. Tidak ada strategi besar untuk menjadi viral, apalagi kampanye khusus untuk menarik pembeli.

Namun, justru spontanitas itulah yang membuat warganet merasa dekat. Di balik mural yang lucu, ada usaha keluarga yang sudah berjalan sejak 2006, sempat berhenti bertahun-tahun, lalu kembali dibuka untuk meneruskan jejak sang ayah.

Dan ketika komentar warganet yang awalnya cuma ikut bercanda malah berubah menjadi doa untuk almarhum Pak Mul, Chandra mendapatkan sisi lain dari popularitas tersebut. Bukan sekadar toko yang mendadak ramai kamera, tetapi juga kesempatan untuk kembali mengingat sosok ayah yang namanya masih melekat di depan toko sampai sekarang.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Latest

Aisyah Aqilah dan Refal Hady Dikaitkan dengan Isu Putus, Ini Fakta yang Terungkap Sejauh Ini

Dunia entertainment kembali dibuat ramai gara-gara kabar hubungan Aisyah Aqilah dan Refal Hady. Setelah sempat sering terlihat bareng sepanjang...

More Articles Like This

Favorite Post