Friday, January 23, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Sabtu 6 September 2025 Lengkap Renungan Harian, Sabtu Pekan Biasa XXII, Warna Liturgi Hijau

Must Read
4.7/5 - (3 votes)

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani. 

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam. 

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama. 

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Sabtu 6 September 2025.

Kalender Liturgi hari Sabtu 6 September 2025 merupakan Sabtu Pekan Biasa XXII, Santa Perawan Maria, Warna Liturgi Hijau.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Sabtu 6 September 2025:

Bacaan Pertama: Kol. 1:21-23

Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,

sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Sykur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 54:3-4,6,8

Sebab orang-orang yang angkuh bangkit menyerang aku, orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku; mereka tidak mempedulikan Allah. Sela

Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku.

Dengan rela hati aku akan mempersembahkan korban kepada-Mu, bersyukur sebab nama-Mu baik, ya TUHAN.

Bacaan Injil: Luk. 6:1-5

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.

Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”

Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,

bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”

Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Sabtu 6 September 2025

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita akan dua hal yang amat penting dalam hidup beriman: pertama, bahwa kita semua pernah hidup jauh dari Allah, penuh kelemahan, bahkan mungkin dalam permusuhan dengan-Nya melalui sikap, pikiran, dan tindakan kita. Namun, Santo Paulus menegaskan, Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah lewat tubuh-Nya sendiri, lewat kematian-Nya di salib. Kita yang dahulu rapuh dan penuh dosa, kini dimampukan untuk hidup kudus, tak bercela, dan tanpa cacat di hadapan Allah. Itu berarti hidup kita punya arah baru: bukan lagi dikuasai oleh dosa atau keegoisan, melainkan oleh rahmat dan cinta Kristus yang membebaskan. Maka, kita diminta untuk tetap teguh dalam iman, tidak goyah, dan tidak meninggalkan pengharapan Injil.

Lalu dalam Injil, kita melihat bagaimana Yesus menghadapi orang-orang Farisi yang begitu kaku dengan aturan. Murid-murid Yesus lapar, mereka memetik gandum untuk dimakan, namun malah disalahkan karena dianggap melanggar hukum Sabat. Yesus mengingatkan mereka dengan kisah Daud: bahwa hukum bukanlah beban untuk menindas, melainkan sarana agar manusia bisa semakin dekat dengan Allah. Dan akhirnya Yesus menegaskan: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Artinya, Tuhan lebih mengutamakan kehidupan, kebutuhan manusia, dan kasih, daripada sekadar aturan yang mati.

Saudara-saudari, bukankah kita pun sering seperti orang Farisi? Kadang kita terlalu sibuk menilai orang lain berdasarkan aturan, penampilan, atau kebiasaan. Kita cepat menghakimi, tanpa mau melihat hatinya, tanpa memahami kebutuhannya. Kita lupa bahwa Allah justru hadir dalam kelemahan manusia, dalam rasa lapar, dalam keletihan, dalam kerinduan akan penghiburan. Yesus mau membuka mata kita bahwa beriman bukan soal kaku menjalankan aturan, tetapi soal bagaimana hati kita dikuatkan oleh kasih Allah, dan bagaimana kasih itu kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau dalam bacaan pertama kita diingatkan agar tetap teguh dalam iman dan pengharapan Injil, Injil hari ini menegaskan bahwa iman itu bukan beban, melainkan kebebasan sejati. Kebebasan untuk memilih kasih, kebebasan untuk melayani, kebebasan untuk mendahulukan manusia daripada sekadar aturan. Sabat sejati bukan sekadar larangan ini dan itu, tetapi perjumpaan dengan Allah yang adalah sumber hidup, sumber kekuatan, sumber sukacita.

Maka, dalam hidup kita sehari-hari, marilah kita bertanya: apakah iman kita membuat kita semakin dekat dengan Allah, semakin manusiawi, semakin mengasihi sesama? Atau justru membuat kita kaku, mudah menghakimi, dan menjauhkan orang lain dari Tuhan? Ingatlah, Kristus telah mendamaikan kita, maka tugas kita sekarang adalah menjadi pembawa damai. Kristus telah menguatkan kita, maka kita pun harus menopang sesama. Kristus telah mengasihi kita tanpa syarat, maka kita pun dipanggil untuk tidak membatasi kasih itu hanya dengan aturan dan formalitas.

Saudara-saudari, marilah kita mengimani Injil ini dengan sederhana: tetaplah teguh dalam iman, jangan goyah oleh dunia, dan jadikan kasih Kristus nyata lewat sikap kita setiap hari. Sebab pada akhirnya, bukan aturan yang menyelamatkan, melainkan Yesus sendiri yang adalah Tuhan atas Sabat, Tuhan atas hidup kita, dan sumber keselamatan kita.

Amin. ✝️

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau yang mendamaikan aku dengan Bapa, kuatkanlah imanku agar tetap teguh di tengah godaan. Ajarlah aku mengutamakan kasih lebih dari aturan, dan jadikan hidupku saluran damai serta penghiburan bagi sesama, sehingga namamu selalu dimuliakan. Amin.

 

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Cara Simpel Akses Postingan Sensitif dan Tersembunyi di X Serta Risiko yang Harus Diketahui

Kalau kamu sering scroll X (dulu Twitter), pasti kadang nemu postingan yang tiba-tiba “tertutup” karena dianggap sensitif. Bisa jadi...

More Articles Like This

Favorite Post