Friday, February 6, 2026

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Selasa 10 Februari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik, Warna Liturgis Putih

Must Read
Tolong Kasih Bintang Penilaian. Terima kasih.

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.

Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.

Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Selasa 10 Februari 2026.

Kalender Liturgi hari Selasa 10 Februari 2026 merupakan Hari Selasa, Perayaan Wajib Santa Skolastika, Perawan, Santo Zenon, Pertapa, dengan Warna Liturgi Putih.

Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Selasa 10 Februari 2026:

Bacaan Pertama: 1 Raja-Raja 8:22-23.27-30

“Engkau telah bersabda, “Nama-Ku akan tinggal di sana.” Dengarkanlah permohonan umat-Mu Israel.”

Pada hari pentahbisan rumah Allah, Raja Salomo berdiri di depan mezbah Tuhan di hadapan segenap jemaah Israel. Ia menadahkan tangannya ke langit, lalu berkata, “Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas, dan di bumi di bawah.

Engkau memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu.

Benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sedangkan langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, apalagi rumah yang kudirikan ini!

Karena itu berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya Tuhan Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini!

Kiranya siang malam mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, terhadap tempat yang tentangnya Kaukatakan: ‘Nama-Ku akan tinggal di sana’.

Dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel, yang mereka panjatkan di tempat ini; dengarkanlah dari tempat kediaman-Mu di surga; dan apabila Engkau mendengarnya maka Engkau akan mengampuni.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3.4.5.10.11

Ref. Betapa menyenangkan kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!

Jiwaku merana karena merindukan pelataran rumah Tuhan; jiwa dan ragaku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.

Bahkan burung pipit mendapat tempat dan burung laying-layang mendapat sebuah sarang, tempat mereka menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya Tuhan semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!

Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang memuji-muji Engkau tanpa henti. Lihatlah kami, ya Allah, perisai kami, pandanglah wajah orang yang Kauurapi.

Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik.

Bait Pengantar Injil: Mzm 119:36a.29b

Ref. Alleluya

Condongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku.

Bacaan Injil: Markus 7:1-13

“Kamu akan mengabaikan perintah Allah untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.

Sebab orang-orang Farisi – seperti orang-orang Yahudi lainnya – tidak makan tanpa membasuh tangan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat-istiadat nenek moyang. Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.

Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus,

“Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat-istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?”

Jawab Yesus kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis:

Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadat kepada-Ku, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat-istiadat manusia.” Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri.

Karena Musa telah berkata: ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu!’ Dan: ‘Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati’. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapa atau ibunya: ‘Apa yang ada padaku,

yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk kurban, yaitu persembahan kepada Allah’, maka kamu membiarkan dia untuk tidak lagi berbuat sesuatu pun bagi bapa atau ibunya.

Dengan demikian sabda Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat-istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan!”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik Selasa 10 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, bacaan hari ini membawa kita pada satu pertanyaan besar yang sangat relevan bagi hidup manusia modern: di mana sebenarnya Tuhan tinggal, dan bagaimana seharusnya manusia berelasi dengan-Nya?

Dalam Bacaan Pertama, Raja Salomo berdoa dengan kerendahan hati yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Allah tidak bisa dibatasi oleh bangunan seindah apa pun. Langit yang mengatasi segala langit pun tidak sanggup memuat Allah, apalagi rumah buatan tangan manusia. Namun di saat yang sama, Salomo percaya bahwa Tuhan berkenan mendengarkan doa umat-Nya ketika mereka datang dengan hati yang tulus. Artinya, Tuhan tidak tinggal karena tempatnya megah, melainkan karena hati manusia mau membuka diri.

Ini menyentuh kehidupan kita hari ini. Kita hidup di zaman yang sangat menekankan tampilan luar. Segalanya dinilai dari yang kelihatan: penampilan, pencapaian, kesalehan yang tampak, rutinitas rohani yang rapi. Kita bisa rajin ke gereja, hafal doa, mengikuti tradisi, tetapi hati kita bisa tetap jauh dari Tuhan. Salomo mengingatkan bahwa relasi dengan Tuhan bukan soal seberapa indah “rumah” yang kita bangun untuk-Nya, melainkan seberapa jujur dan rendah hati kita berdiri di hadapan-Nya.

Mazmur menegaskan kerinduan jiwa manusia akan kehadiran Tuhan. Jiwa dan raga bersorak kepada Allah yang hidup. Ini bukan kerinduan palsu atau formalitas, tetapi kerinduan yang lahir dari kesadaran bahwa hanya Tuhan yang mampu memberi makna sejati bagi hidup manusia. Di tengah dunia yang menawarkan banyak kenyamanan dan hiburan, hati manusia tetap gelisah ketika jauh dari Tuhan.

Injil hari ini kemudian berbicara dengan sangat tajam dan jujur. Yesus menegur orang-orang Farisi bukan karena mereka menjaga tradisi, tetapi karena mereka menjadikan tradisi lebih penting daripada kasih dan perintah Allah. Mereka tampak suci di luar, tetapi membiarkan ketidakadilan dan ketidakpedulian terjadi di dalam keluarga sendiri. Ibadah mereka rapi, tetapi hati mereka jauh.

Ini adalah cermin yang jujur bagi kehidupan kita sekarang. Betapa mudahnya kita sibuk menjaga aturan, kebiasaan, bahkan simbol iman, tetapi lupa pada inti iman itu sendiri: kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Kita bisa berdoa panjang, tetapi masih menyimpan dendam. Kita bisa aktif di gereja, tetapi menutup mata terhadap penderitaan orang terdekat. Tanpa sadar, kita memuliakan Tuhan dengan bibir, tetapi hati kita sibuk dengan kepentingan sendiri.

Yesus mengingatkan bahwa iman sejati selalu menyentuh kehidupan nyata. Iman tidak pernah berhenti di altar, tetapi diuji di rumah, di tempat kerja, dalam relasi, dalam cara kita memperlakukan orang lain. Ketika adat, kebiasaan, atau kenyamanan pribadi membuat kita mengabaikan kasih, saat itulah iman kehilangan maknanya.

Renungan hari ini mengajak kita untuk berani jujur pada diri sendiri: apakah Tuhan sungguh tinggal di hati kita, atau hanya dalam rutinitas keagamaan kita? Apakah doa kita sungguh mengubah cara kita hidup, atau hanya menjadi kewajiban yang menenangkan hati sesaat?

Tuhan tidak mencari kesempurnaan lahiriah. Ia mencari hati yang mau mendengarkan, berubah, dan mengasihi. Amin.

Doa Penutup

Tuhan, sucikanlah hati kami agar sungguh menjadi tempat tinggal-Mu. Jauhkan kami dari iman yang hanya tampak di luar, tetapi kosong di dalam. Ajari kami menghidupi Sabda-Mu dalam kasih, kejujuran, dan kepedulian nyata, agar hidup kami sungguh memuliakan Engkau. Amin.

------

Info Viral Gabung di Channel WHATSAPP kami atau di Google News

Berlangganan Info Menarik Kami

Silahkan subscribe email anda! Jangan lewatkan, hanya artikel dan tips menarik yang akan kami kirimkan ke Anda

Latest

Bacaan Injil Katolik Hari Ini Rabu 11 Februari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik, Hari Orang Sakit Sedunia,

Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada...

More Articles Like This

Favorite Post